Selasa, 26 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Cerpen

Permintan Terakhirku

Karya : Yulianti, SMAN 2 Rantau Selatan
Minggu, 30 Maret 2014 18:55 WIB
Hitungan bulan yang telah kami habiskan selama 1 tahun, hitungan hari yang telah terlewati sejauh 360 waktu, telah menanamkan benih-benih merah jambu itu dihati kami.

Malam tanggal 28 baru saja berlalu, genap satudetik masuk ke tanggal baru yaitu tanggal 20 desember 2013, artinya telahberakhir kisah-kisah yang lalu, kisah-kisah yang penuh canda dan tawa, bahkan tangis.

Kini yang ada adalah hal baru dan awal baru dari periode masa yang lalu. Aku dan Dika pacarku bukan lagi berkomitmen untuk saling mengenal, tetapi untuk saling memahami. Aku dan Dika tak pernah tahu seberapa jauh hubungan ini nantinya bahkan aku sendiri pun tak pernah yakin akan melalui masa satu tahun ini.

Kubiarkan jari-jari tanganku bersahabat dengan penaku. Kucurahkan semuanya! Yach, semuanya tentang hatiku. Uneg-uneg, harapan dan mimpi-mimpi. Pukul 01:44 WIB, ini memang bukan waktu ukuran kebiasaanku tidur malam. Jam segini bagiku seperti halnya jam 19:30 WIB. Mataku sama sekali tak merasakan kantuk.

“Dear Diary”
Hari ini aku dan Dika genap setahun jadian. Ini adalah pertama kalinya ku jalani hubungan dalam rentan waktu yang lama. Setelah 12 bulan semua kenangan-kenangan tentang kami berlalu, akankah bulan-bulan berikutnya lebih baik lagi?

Dear Diary...
Aku mencintainya, mencintainya di sisa-sisa umur yang masi kumiliki. Meski ku tahu waktu ku tak lama lagi. Diary jika nanti aku harus pergi, aku ingin pergi dipangkuannya, merasakan desiran darah di dadanya untuk terakhir kali, meresapi belaian hangatnya yang mungkin akan menjadi belaian terakhirnya bagiku.

Diary...
Kumohon rahasiakan ini semua, rahasiakan siapa aku darinya. Biar saja waktu yang mengukirkan kisahnya sendiri. Dan jika nanti aku harus pergi, aku tidak ingin melihat tetes air mata di pipinya. Buat dia setegar batu karang, yang meski berulang kali dihempas ombak, namun tetap kokoh. Jika nanti ku pergi, aku ingin dia memelukku sekali lagi sebelum dunia ini menjadi kenangan bagiku.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, ketika jarum jam mengisyaratkan 08:45 WIB, aku mengayunkan langkah menuju kampus kesayanganku. Dengan kaos putih dan celana jeans masih tetap dengan dandanan biasa sebuah tas sandang ku gantungkan di pundak sebelah kiriku, tangan kananku memeluk buku-buku mata kuliah favoritku, yaitu Bahasa Indonesia.

Semilir angin pagi sayup-sayup menyapaku ramah, belaiannya terasa hingga ke sum-sum tulangku, mentari masih malu-malu menampakkan cahayanya. Sesekali ku lirik jam, jarumnya menunjukkan pukul 08:55 WIB, berarti sekitar lima menit lagi perkuliahan akan di mulai. Tapi tak seperti hari biasanya, tak ada seorang pun yang datang kecuali aku. Ku perhatikan sekitarku, tetapi tetap juga tak ada orang. Entah kemana mereka semua, padahal tidak ada pengumuman libur sama sekali. Tanpa berfikir apa-apa lagi, aku langsung saja masuk dan meletakkan tas serta buku-buku ku di tempat duduk paling depan, tempat dudukku. Ku pasang mp3 di hp ku. Sambil mendengarkan mp3 aku pun mulai membuka buku. Ku baca-baca, meski sebenarnya hatiku masih penuh tanda tanya. Aku terlarut dalam bacaanku.

Tiba-tiba sebuah tangan memelukku dari belakang. Aku tersentak, ku arahkan pandanganku, dan ku lihat Dika berdiri dengan senyuman khasnya, aku membalas senyumannya.

“Happy Aniversary for Us...” ucapnya.
Aku tak tahu harus mengatakan apa. Mataku berlinang serasa ingin tumpah dan singgah di pipiku. Belum lagi aku sempat berkata apa-apa, tiba-tiba semua teman-temanku berdatangan. Serentak mereka mengatakan  “Ciee....satu tahun....” malu-malu aku melemparkan senyuman pada mereka. Aku pun berdiri dari dudukku, yach! Berdiri tepat di sebelah Dika. Aku pun menyandarkan tubuhku dengan manja, dia merangkulku tanpa malu-malu lagi.

“Thank’s ya..” ucapku akhirnya sambil menatap wajah Dika dalam-dalam. Ku peluk Dika erat-erat, mengisyaratkan kebahagiaan yang tak tahu harus ku ungkapkan dengan apa. Air mataku tak terbendung.

Lama aku berada di dekapan Dika, berada dalam detak nadi di dadanya, hanyut dalam sentuhannya. Tapi tiba-tiba badanku terasa lemas dan aku pingsan. Sejenak aku masih bisa mendengar riuh suara-suara gemuruh mengkhawatirkanku. Masih kurasakan lembut tangan Dika membelai rambutku. Tapi hanya sebentar, dan selanjutnya aku tak tahu lagi apa yang terjadi, karena ketika aku sadar, aku berada di Rumah Sakit.

“Masih lemas, Dek?” tanya Dika ketika melihatku mulai sadar, aku mengangguk. Jarum-jarum infuse masih menusuk-nusuk kulitku sakit. Dika membantu untuk duduk bersandar, aku engatur napas pelan-pelan.

Detak nadiku masih berdenyut tak beraturan, membuatku merasa sangat lelah. Dika yang tadinya duduk di kursi, di samping tempat tidurku, akhirnya duduk di sebelahku, di tempat tidurku. Dirangkulnya aku, dan dihelusnya rambutku. Aku menyandarkan badanku di dadanya. Meski rasa sakit masih menggigit isi kepalaku, bahkan jauh lebih sakit dari rasa sakit yang sebelumnya pernah kurasakan, seolah pudar.

“Kenapa tidak pernah cerita dek?” tanyanya sambil terus membelai rambutku mesra. Aku tak menjawab, ku biarkan dia terus berkata-kata sendiri.
“Dika sayang Rara.” Sambungnya. Sebentar ku lirik wajahnya, ku tatap bahasa matanya. Tapi tetap tak ada bahasa di bibirku. Lalu ku lingkarkan tanganku di pinggangnya, Ku peluk dia erat-erat, Dika membalasnya.

“Maafkan Rara....” ucapku akhirnya. “Rara sayang Dika,” lanjutku.

Air mataku berderai lagi, singgah ke pipiku menetes tak terbendung.

“Hidup yang sedang berjalan terasa ringan berjalan...
Karenamu disisiku, di sampingku...
Cinta yang kian tertanam
Terasa kuat bertahan..
Karena kau...menguatkan... menyucikan...
Kau dan aku
Bersenyawa...mengarungi hidup...
Cintaku ini akan bertahan
Tak akan habis menembus zaman
Kau buat mega menjadi warna
Satukan hati dan percaya
Cintaku ini akan bertahan
Semakin hari semakin dalam
Engkau dan aku bisa jadikan mimpi
Jadi kenyataan...”

Kunyanyikan lagi Acha-Cinta Bertahan sambil terus membiarkan butir-butir salju bening singgah di pipiku. Seandainya aku bisa memilih, aku akan memilih untuk hidup lebih lama lagi menikmati  umur seperti gadis-gadis yang lain yang merasakan cinta seumuran kami.

Hidup adalah pilihan! Dan sukses adalah pilihanku.

Dalam belaian kekasihku itu, kurasakan detak nadiku yang berdenyut lebih lama dari biasanya. Aku kesulitan untuk mengatur napas, dadaku terasa sesak begitu sesak sangat sesak, bahkan tiba-tiba mataku terkatup. Dan selanjutnya, kurasakan jiwaku yang meninggalkan ragaku dalam pangkuan Dika. (h)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments