Minggu, 22 Sep 2019
  • Home
  • Sinar Remaja
  • Pengangguran Usia 15-24 Bakal 215 Juta Jiwa, Salah Satu Cara Mengatasinya dengan Pendidikan dan Pelatihan

Pengangguran Usia 15-24 Bakal 215 Juta Jiwa, Salah Satu Cara Mengatasinya dengan Pendidikan dan Pelatihan

Minggu, 26 Januari 2014 20:42 WIB
Jenewa (SIB)- Lemahnya pemulihan ekonomi global telah gagal meningkatkan pasar tenaga. Akibatnya, dalam lima tahun ke depan, angka pengangguran di dunia akan menembus level 215 juta jiwa. Kelompok tunakarya itu berusia 15 - 24 tahun yang berada di Timur Tengah, Afrika Selatan, Amerika Latin, Eropa Selatan dan Asia. Mengatasinya dengan pendidikan terarah dan pelatihan maksimal.

Jaringan televisi CNBC, Selasa, (21/1), mengutip laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO) merinci dalam laporan bertajuk 2014 Global Employment Trends diungkapkan, jumlah pengangguran telah meningkat sebesar 5 juta orang menjadi 202 juta jiwa pada 2013.

"Jika tren tersebut berlanjut, tingkat pengangguran dunia dapat semakin buruk dan meningkat secara bertahap mencapai lebih dari 215 juta pencari pekerjaan pada 2018," siar SCTV.

ILO memprediksi, setiap tahunnya, sekitar 40 juta lowongan pekerjaan baru tercipta tapi jumlah itu jauh lebih kecil dari jumlah masyarakat yang memasuki pasar tenaga kerja sebanyak 42,6 juta per tahun.

Penumpukan masyarakat tidak bekerja akan banyak ditemui di wilayah Asia Timur dan Asia Selatan. Kedua wilayah tersebut menyumbang angka pengangguran hingga lebih dari 45 persen  pada total pengangguran global 2013.

Wilayah dengan persentase pengangguran tertinggi berikutnya adalah Sub-Sahara Afrika dan Eropa. Sebaliknya, Amerika Latin hanya menambah kurang dari 50 ribu pengangguran ke dalam perhitungan global. Angka tersebut setara dengan sekitar 1 persen peningkatan pengangguran pada 2013.

ILO telah memperingkatkan dari beberapa tahun lalu, tingkat pengangguran akan terus meningkat dan menerpa generasi muda. Di Spanyol dan Yunani, jumlah pemuda yang tidak bekerja masih berjumlah di atas 50 dari total populasi penduduk masing-masing.

Direktur Pengembangan dan Penelitian ILO Raymond Torres mengemukakan solusi bahwa setiap negara dituntut untuk menggelar berbagai program pendidikan dan pelatihan guna mengurangi porsi pengangguran, baik yang berusia muda maupun dewasa.

Sejauh ini, menurut penelusuran ILO, hampir seperempat generasi muda berusia 15-29 tahun di dunia tengah aktif mengikuti berbagai program pendidikan dan pelatihan di negara masing-masing.

Menghadapi prediksi buram tersebut, Krisman Purba dan Stephan Alexander Ferdinandus mengatakan, ‘sumbangan’ pengangguran anak muda Indonesia, khususnya dari wilayah Sumatera Utara dan spesifik di Medan memang kenyataan. Kader Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu mengatakan, dari sisi perdagangan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) membuka peluang terciptanya pengangguran.

Krisman Purba yang Ketua Umum Alumni SMAN 3 Medan itu mengatakan, CAFTA 90 persen produk China dan ASEAN akan menikmati tarif nol persen. Ada 228 pos tarif yang diusulkan oleh pemerintah agar tidak dihilangkan tarifnya karena dianggap belum siap berkompetisi dalam pasar bebas.

“FTA akan membuat 7,5 juta pekerja industri manufaktur kehilangan pekerjaannya. Untuk bebas dari ‘produksi’ pengangguran itu adalah meningkatkan SDM dan daya saing,” tandas pria ‘anak kolong’ tersebut sambil menganalogkan sesuai pepatah Cina bahwa jika diserang angin kencang harus membangun tembok tinggi untuk melindungi atau membangun kincir angin agar angin yang berhembus kencang dapat dimanfaatkan sebagai sarana menghimpun energi. “Itu kan artinya harus cermat dan cerdik memanfaatkan situasi!”

Hal serupa dikatakan Stephan Alexander Ferdinandus. “Program pendidikan dan pelatihan dimaksudkan untuk menguatkan pondasi pribadi per pribadi.

Dalam ukuran keindonesiaan, remaja di Tanah Air pasti lebih paham dan sangat mengetahui apa yang dibutuhkan dalam kehidupan keseharian. Itu yang dimaksudkan sebagai introspeksi dan invasi,” ujar pria aktivis gereja dan pengurus  Tunas Indonesia Raya (Tidar) Sumut tersebut, bersisian dengan tokoh Kristen Sumut di Gereja GSJA Jl Majapahit Medan, Jumat, (16/1).

Krisman Purba dan Stephan Alexander Ferdinandus mensitir semboyan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Soebianto yang bertekad memandirikan Indonesia dari ragam sisi kehidupan.

“Jika warga tumpah darah Indonesia lebih memprioritaskan produk negaranya, maka upaya memandirikan bangsa telah tertangani. Meski dalam lingkup kecil tapi bermakna besar karena cara itu pula membuat produk Indonesia berkelanjutan yang muaranya membuka kesempatan kerja,” tutup Stephan Ferdinandus. (t/r9/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments