Kamis, 14 Nov 2019
  • Home
  • Sinar Remaja
  • Pemahaman Milenial pada Smartphone Harus Ditumbuhkan ke Hal Positif

Pemahaman Milenial pada Smartphone Harus Ditumbuhkan ke Hal Positif

admin Minggu, 28 Juli 2019 13:09 WIB
SIB/Dok
BIMTEK DEPDIKBUD: Limjam Silalahi dan Maniur Rumapea di jeda Bimbingan Teknik (Bimtek) Nasional yang diadakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (25/7) di Nagoya Hill Batam.
Batam (SIB) -Pemahaman milenial pada smartphone harus ditumbuhkan ke arah positif. Di era digital dan masuk pada Revolusi Industri 4.0, tidak mungkin lagi kelompok muda diproteksi atau bahkan disterilkan dari Internet tapi harus semakin didekatkan serta didorong memaksimalkan koneksi dengan dunia maya yang sehat positif. Dengan catatan, terlebih dahulu harus dilatih dan ditanamkan soal kedisiplinan memakai gatged, diarahkan gunakan untuk membangun hal terbaik.

Demikian diuraikan Limjam Silalahi SSn dan Drs Maniur Rumapea MSi di jeda Bimbingan Teknik Nasional yang diadakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (25/7) di Nagoya Hill Batam. Kegiatan diikuti para guru dari seluruh Indonesia bagian barat.

Menurut keduanya, tidak sedikit sekolah di Tanah Air menerapkan kebijakan bila saat jam belajar maka seluruh peralatan canggih seperti HP, smartphone dan sejenisnya dikumpulkan. Kemudian ketika bel akhir berbunyi, kembali diserahkan pada siswa. "Gak zaman lagi seperti itu. Peralatan canggih justru harus dimaksimalkan untuk membantu anak didik. Tapi harus diawali dengan pemahaman," jelas Maniur Rumapea.

Ia menunjuk ragam formula dan plusminus Internet. Menurutnya, dalam smartphone telah ada seluruh kebutuhan manusia. Terkait ilmu, peranti canggih tersebut sangat membantu. "Harapannya, para pendidik yang mengubah pola ajaran. Latih pelajar untuk berpikir sistematis dengan pemecahan masalah. Misalnya, hindari semaksimal mungkin sistem ujian multiple choice. Ulangan yang terbaik adalah penjabaran atas satu soal. Dari sana, anak didik diberi kebebasan menggunakan smartphonenya," sebutnya.

Keduanya memastikan, Internet harus menjadi sumber ilmu karena pengetahuan guru terbatas. "Internet kan berfungsi sebagai sumber ilmu. Kalau secara fisik, buku adalah sumbernya. Ilmu yang ada di buku tersebut ditransfer ke digital," simpulnya.

Mengutip hasil dari bimbingan teknis yang diikutinya, Limjam Silalahi mengatakan, pola pikir kritis anak didik harus ditumbuhkan dengan cara lebih elegan. Misalnya, pengarahan penggunaan smartphone untuk memecahkan soal yang diberikan guru. "Bahkan karena era sekarang era Medsos, posisikan media sosial sebagai nilai positif," ujar pendidik yang juga pekerja seni etnik tersebut.

Menurutnya, ketika pelajar memiliki cita-cita maka didekatkan dengan imajinasi tapi harus yang positif. Imajinasi positif tersebut akan melahirkan satu peradaban. "Sekarang telah tercipta peradaban baru yang bersentuhan dengan teknologi digital. Bagaimana agungnya posisi peradaban tersebut bila melahirkan satu hal baru yang agung. Semuanya berasal dari imajinasi atau hasrat," tambahnya.

Maniur Rumapea dan Limjan Silalahi mengatakan, Revolusi Industri 4.0 telah melahirkan peradaban baru. Kaum milenial, misalnya, sangat terbiasa dengan Internet. Generasi sebelumnya, terbawa ke peradaban tersebut. Generasi Alfa yakni yang kelahiran dimulai 2010, juga akrab dan senang dengan smartphone. "Semua berasal dari imajinasi. Tapi generasi milenial harus mengubah posisinya, dari pemakai menjadi pencipta. Seperti konten di smartphone, kelompok milenial kan masih dalam lingkup pengguna. Bagaimana menjadi pencipta," harap Limjam Silalahi.

Bimbingan yang diadakan Senin - Jumat (22 - 26/7) itu diisi masukan dari sejumlah pakar di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaa Republik Indonesia. Seperti tutor Bahasa Indonesia Hurhadi dan Diah, tutor Bahasa Inggris Ichsan Cahyana. (T/R9/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments