Kamis, 14 Nov 2019

Minat dan Bakat Milenial Tetap Mengacu pada Norma Indonesia

admin Minggu, 14 April 2019 16:50 WIB
SIB/Dok
MINAT DAN BAKAT : Arkeolog Anderson Sitorus didampingi Kepala SMA Methodist 7 Medan membimbing siswa yang masuk PTN dari sekolah tersebut sebagai langkah mengacu wildcard dalam memastikan pilihan sesuai minat dan bakat.
Medan (SIB) -Arkeolog Universitas Gajah Mada Yogyakarta Anderson Sitorus mengatakan, meski era sekarang milenial dan manusia (harus) masuk dalam Revolusi Industri 4.0 tapi dalam membimbing kaum milenial tetap mengacu pada norma Indonesia, yang mengedepankan hubungan sosial kekerabatan berbasih adat ketimuran. Dengan kesadaran itu, lanjut alumni Perguruan Methodist 7 Medan, perkembangan generasi muda tetap mempertimbangan minat dan bakat yang harus dikembangkan sejak usia dini. "Perkembangan itu dipengarui banyak faktor. Tapi jika motivatornya tetap mengacu padahal seperti disebut di atas, maka kualitas obyeknya tidak kontraproduktif dengan hal-hal unggul yang sudah terpola dan teruji," ujarnya didampingi Pimpinan Perguruan Methodist 7 Erison Sitorus SH MTh Koordinator Bimbingan Penyuluhan Methodist 7 Pdt Robert Sihombing MTh, Kepala SMA Saiful Juni Panjaitan, Kepala SMP Jassin Sianturi, Kepala SD Poltak Simorangkir dan Ketua Yayasan Daun Palem Indonesia Tunggul Sitorus.

Berbicara saat memberi bimbingan dan arahan pada seluruh siswa Perguruan Methodist 7 Jalan Madong Lubis No 7, Sidodadi-Medan Timur, Medan awal April 2019, Anderson Sitorus mengatakan, sesuai perkembangan era, kelompok milenial memiliki peluang yang lebih luas dalam mengasah kualitas tapi tetap harus diberi pendampingan agar pilihannya sesuai dengan kemampuan.

Ia menunjuk sejumlah individu yang berhasil gemilang dalam pendidikan dan mengabdi di masyarakat dengan maksimal. Semua itu dikarenakan kemampuan, kemauan plus bakat berjalan beriring.

Erison Sitorus menambahkan, dengan ragam perubahan menandai perkembangan zaman, diramaikan dengan terkoneksinya seluruh negara, mengharuskan kaum milenial membaca peta perubahan dan wajib menaklukkannya. "Jika tidak berhasil, akan terlindas dan menjadi terjajah," pastinya.

Ia mensitir analisis ahli dari Oxford University di Oxford, Inggris yang memperhitungkan era Revolusi Industri 4.0 akan melenyapkan 47 persen pekerjaan yang ada saat ini dalam waktu kurang dari 25 tahun mendatang. "Artinya, untuk tetap survive apalagi menjadi pemenang, harus mampu 'melihat' ke 25 tahun mendatang. Di situlah perlunya pengasahan minat, bakat dan kemampuan," tambah Erison Sitorus.

Ia merinci, dengan komponen itu maka yang harus digumuli adalah ilmu yang dibutuhkan seperempat abad ke depan tanpa harus melupakan hal dasar pendidikan seperti berhitung, membaca dan bahasa. "Itulah yang ditanamkan di Perguruan Methodist 7 Medan," tutupnya. (R10/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments