Jumat, 13 Des 2019

Milenial Target Radikal di Medsos, Saring Sebelum Sharing

admin Minggu, 19 Mei 2019 11:22 WIB
SIB/Dok
SARING DAN SHARING: CEO HoRe Ministry Indonesia Ps Aryo Darudjati SE dan senioren GAMKI Ps Krisman Saragih SE yang fungsionaris Gereja Pentakosta Sumatera Utara/Pinksterkerk (GPSU/P) di Medan, Jumat (17/5). Mengajak kaum milienial menyaring informasi baru sharing.
Medan (SIB) -Media sosial (Medsos) yang diakrabi kaum milenial tak semata 'memiliki' hal negatif dalam hal adab tapi bertendensi dijadikan media brainwash ke arah negatif, seperti terkait ideologi fundamental. Antisipasinya, diciptakan pola dan cara pendamping berbasis moral agama keindonesiaan.

Demikian simpulan pendapat CEO HoRe Ministry Indonesia Ps Aryo Darudjati SE dan senioren GAMKI Ps Krisman Saragih SE dalam diskusi Akurasi Medsos Kaum Milenial di Medan, Jumat (17/5). Keduanya mengatakan, potensi penyusupan apa saja terkait brainwash dapat terjadi. "Persoalannya, Medsos itu marketnya cenderung kaum milenial. Generasi muda dalam usia peralihan lebih tertarik dengan hal-hal hero hingga lebih gampang disusupi," ujar Ps Krisman Saragih.

Fungsionaris Gereja Pentakosta Sumatera Utara/Pinksterkerk (GPSU/P) itu menunjuk contoh radikalisme dengan pelaku kaum muda. Seperti penyebarluasan berita bohong, ujaran kebencian, dan informasi negatif lain yang makin marak di era Pileg Pilpres dan terakhir ancaman pada Kepala Negara. "Selalu dan kerap 'melibatkan' oknum milenial," tegasnya.

Ps Aryo Darudjati menunjuk ragam platform Medsos yang kadang menjadi 'sulit' terkontrol. Kondisi itu mengakibatkan mudahnya di-brainwash, baik langsung maupun soft. "Jika sudah masuk 'perangkap' maka gampang sekali diarahkan sesuai kemauan 'operator'. Si obyek (baca: kaum milenial) bisa jadi seperti robot yang digerakkan remote control," tegasnya.

Untuk itu, paparnya, harus ditekankan harus lebih dulu menyaring informasi sebelum sharing. "Saring dan sharing adalah kunci paling utama," sebut Ps Krisman Saragih.

Keduanya memastikan, untuk mencegah proses brainwash yang paling utama adalah penanaman dan pemahaman moral agama. Orangtua, ujarnya, sebagai pihak paling dekat dengan kaum milenial memiliki peran dominan dalam pengajaran moral dan agama. Seiring perkembangan usia dan kebutuhan pada teknologi digital, generasi muda harus didampingi. "Minimal diberi batasan dalam penggunaan Internet," tambah Ps Aryo Darudjati.

Keduanya menelisik cara berselancar di dunia maya dengan sehat. Internet, lanjutnya, memang menjadi sumber utama informasi tapi kaum milenial tetap harus mendapatkan penyeimbang yakni kebajikan dari Alkitab. "Cara itu secara otomatis memberi filter," pasti Ps Krisman Saragih sambil megatakan dengan cara demikian maka ada 'pembersih' pemikiran bila beroleh informasi 'miring'.

Yang paling utama, tambah Ps Aryo Darudjati, jangan sampai anak-anak muda mendapat informasi yang tidak dipahami namun kemudian diamininya. Bila itu terjadi, dapat disusupi secara lembut ideologi yang tak baik. "Itu namanya self-radicalization yang menyasar minimal dari usia 16. Bahkan sekarang ada indikasi melibatkan perempuan," tegasnya.

Keduanya minta otoritas dan orangtua ikut mewaspadai Medsos yang membungkus game online sedemikian rupa. Seperti kejadian di Selandia Baru. "Yang pasti pengajaran moral dan agama berciri keindonesiaan harus diperbanyak. Karena cara itulah yang mampu mengimbangi pemahaman radikalisme dengan memakai Internet," jelas Ps Aryo Darudjati.

Ia menunjuk HoRe Ministry Indonesia yang memberi masukan moral agama berciri keindonesiaan dengan cara berkidung pujian. Di institusi itu, kaum milenial belajar dan sharing ilmu bermusik dan memuliakanNya. "Jika sudah menyaring dengan moral agama, gampang sharing," pungkasnya. (R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments