Rabu, 19 Jun 2019

Milenial Asia Cenderung Anggap Belajar Sebagai 'Tekanan'

admin Minggu, 12 Mei 2019 17:00 WIB
Maniur Rumapea - Limjan Silalahi
Medan (SIB) -Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA St Thomas 1 Medan Drs Maniur Rumapea MSi mengatakan, pengajaran dalam era Revolusi Industri 4.0 idealnya dilakukan lebih soft dengan memerhatikan minat dan bakat serta mengacu pada kebutuhan pasar. Dengan cara itu, peserta didik memahami bahwa bila ingin memenangi persaingan dalam perkembangan dunia, harus lebih gigih. "Tanpa ada paksaan dan benar-benar didasari kemauan positif. Mental seperti itu menjungkalkan anggapan rasa bahwa kaum milenial Asia merasa bahwa belajar sebagai 'tekanan' yang memberatkan," ujarnya di Medan, Jumat (10/5) didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Limjan Silalahi SSi.

Atas dasar meninjau pendidikan di City Collage Plymouth Inggris, aktivis tersebut memetik sistem yang diterapkan yakni anak-anak muda dibukakan pemahaman bahwa dunia berkembang sedemikian cepat dan kebutuhan pasar ke depan bagaimana. "Memang sih, Finlandia dicap sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik. Di Asia, Korea Selatan berada di depan tapi konsep dari institusi terbaik di dunia harus disesuaikan dengan budaya dan sistem Indonesia dengan melihat kepentingan ke depan," ujar Maniur Rumapea.

Di era Revolusi Industri 4.0 itu dibutuhkan kecakapan tentang teknologi digital yang muaranya adalah penguatan ekonomi berbasis teknologi (fintech). Maka, lanjutnya, fokusnya adalah bagaimana pendekatan tersebut dengan polesan keindonesiaan.

Indonesia yang memasuki era bonus demografi di mana kelompok milenial mendominasi, diharapkan memaksimalkannya dengan menempa sumber daya manusia yang sempurna. Singapura, ujar Maniur Rumapea, menerapkan ajaran enterpreunership. "Indonesia idealnya melakukan lompatan. Tak sekadar enterpreunership tapi dikuatkan dengan kebutuhan sesuai era Revolusi Industri 4.0,"
paparnya sambil mengatakan hal tersebut dilakukan di SMA St Thomas 1 Medan di mana pendekatan belajar menyenangkan dan holistik untuk pelajaran-pelajaran akademik yang serius menjadi kekuatan. "Muaranya, rasa 'tertekan' karena belajar, dan sebaliknya membuat betah," simpulnya sambil mengatakan pola pendidikan seperti itu pun melahirkan generasi Indonesia yang mampu berpikir kritis, kreatif, mampu memecahkan masalah, berempati dan menjadi pribadi yang membawa dampak bagi lingkungan dan bahkan dunia.

Ia menunjuk pengajaran coding, yang oleh sebagian peserta didik, dianggap 'menakutkan' tapi dengan pendekatan holistik dan entertainment, menjadi mengasyikan. "Pengajaran coding, misalnya, melalui Lego hingga kids era now jadi tertarik. Bila sejak dini tertarik maka begitu enaknya memabwa kelompok milenial untuk menyukainya," paparnya.

Dengan demikian, belajar jadi seperti bermain dan benar-benar tidak merasa 'ditekan' dan melahirkan generasi pencipta bukan lagi konsumen. "Ketika belajar sudah jadi seperti permainan serius, distraksi menjadi produkitivitas," tutup Maniur Rumapea. (R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments