Selasa, 18 Jun 2019

Melatih Jiwa Sosial Kaum Milenial dalam Suasana Lebaran

admin Minggu, 09 Juni 2019 10:42 WIB
SIB/Dok
JIWA SOSIAL: Ps Krisman Saragih SE (nomor 5 dari kanan barisan tengah) bersama Gembala House of Bethany Amir Hamzah Medan Ps Raden Aryo Dorodjati Pravesdito dan kaum milenial yang sebagian personel HoRe Ministry Indonesia dalam kegiatan lintasagama untuk melatih jiwa sosial.
Medan (SIB) -Ps Krisman Saragih SE mengatakan momen Lebaran dapat dijadikan media melatih jiwa sosial kaum milenial. Alasannya, jika di lingkungan ada kegiatan silaturahim dan saling maaf-memaafkan, otomatis menuntun individu-individu yang terlibat, mengikuti hal serupa. "Jadi, libatkanlah semaksimal mungkin generasi muda, mulai dari anak-anak hingga kaum milenial, dalam aktivitas sosial berlandas moral agama," ujar senioren Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) itu di Kompleks Gereja Pentakosta Sumatera Utara/Pinksterkerk (GPSU/P) Jalan Raja Sisingamangaraja XII Gang Sumatera 34 Simpang Limun Medan.

Ia mencontohkan ketika umat Muslim melaksanakan Salad Ied 1 Syawal 1440 H di mana kelompok milenial lintasagama lainnya ikut menjaga kondusivitas lingkungan. Keterlibatan itu, ujarnya, tak semata memosisikan kaum milenial menjaga ketertiban orang beribadah tapi meneladani bagaimana memberi toleransi sebagaimana yang diajarkan mengasihi sesama. "Pancasila pun menuntun hal tersebut, yakni bertoleransi pada umat beragama untuk menjalankan ibadah sesuai perintahNya," tegasnya.

Ia mengutip nats sebagai acuan keteladanan seperti diurai dalam Filipi 3:17-21. "... ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu."

Ia menunjuk bahwa seusai salat, ditandai dengan silaturahim. Keluarga inti, lingkungan dan masyarakat luar saling bersalaman untuk bermaafan. "Menyertakan anak-anak saling memaafkan, secara langsung mendidik generasi muda berinteraksi sekaligus belajar keterampilan berkomunikasi. Dalam bahasa kasih, cara demikian pun melatih kerendahan hati," ujarnya sambil mengatakan dalam silaturahim itu anak-anak akan berjumpa beragam individu dengan latar belakang usia, tua dan muda.

Mengenai makna bermaafan, lanjutnya, anak-anak dan kaum milenial dilatih menghargai hubungan antar-manusia dan dibiasakan meminta maaf dan memberi maaf.

Ia menunjuk tradisi di Indonesia. Hampir seluruh agama dan suku, bila merayakan hari besar, membawa bingkisan, mulai dari makanan olahan atau buah-buahan dan dikonsumsi bersama. Makna terindah dari kebiasaan itu, menurutnya, mengajarkan kebersamaan dalam suka dan duka. "Di luar rutinitas itu, nanti andai mendengar atau melihat tetangga sedang berduka, otomatis individu-individu mengulurkan tangan dan berempati," tegasnya. "Cara itu pun mengajarkan generasi muda untuk menghormati dan menyayangi sesama!"

Berkumpul dalam berbagai strata sosial, beda usia dan jenjang hubungan darah pun melatih anak-anak mengenal dan memahami sebutan-sebutan dalam adat-istiadat. "Keistimewaan Indonesia itu pada keunggulan kearifan lokal, yang diwariskan para leluhur. Misalnya sebutan untuk memanggil orangtua, adik atau kakak orangtua, adik atau kakak oppung dan lain sebagainya," paparnya.

Menurutnya, dengan pemahaman tuturan tersebut berarti telah memosisikan pribadi pada jenjang terhormat. Cara demikian, ujarnya, memastikan tidak ada lagi generasi muda masuk dalam golongan tidak paham adat atau tidak beradat.

Ia menjabarkan sesuai nats Filipi 3:17-21 tersebut. Bila sudah mengamalkannya maka otomatis tiap individi bermetamorfosis dari tubuh manusia yang hina menjadi mulia. "Nats itu mengajarkan individu mengubah tubuh yang hina hingga serupa dengan tubuhNya yang mulia, menurut kuasaNya," tutupnya. (R9/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments