Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Cerpen

Mama, Izinkan Air Mataku Membasuh Kakimu

karya Indah Khairunnisa Siregar - SMAN 2 Rantau Selatan
redaksi Minggu, 22 Desember 2019 18:54 WIB
Eratekno.com
Ilustrasi
Entah kenapa, sejak masuk kelas, perutku mengulah. Padahal tidak ada makan makanan yang aneh-aneh. Tadi pagi sarapan seperti biasa. Minum teh seperti biasa. Makan-minum itu pun disiapkan mama, seperti biasa.
Memang sih, aku makan terlalu banyak. Sejak sebulan ini, porsi makanku berlebihan. Bila di rumah, makan olahan mama, pasti aku tambo-tambo. Mama pun senang karena tubuhku semakin berisi. Montok.
Tetapi, jika makan makanan dari orang lain, aku tak bersemangat. Seperti hari ini, cuma makan sepotong nuget, perut langsung mengolah. Bolak-balik ke kamar kecil, tapi tak ada yang ke luar.
Wali Kelas sampai curiga. Jangan-jangan... ia kemudian menawarkan padaku untuk pulang. Istirahat. Atau baringan di kantor. Semula aku menolak, tapi karena isi perutku semakin berputar-putar, aku menerimanya.
Baru sedetik terlelap, Anggi tiba-tiba datang sambil teriak-teriak. Suaranya mengalahkan berisiknya pelajar yang bermain.
"Mamamu tabrakan!"
Aku terdiam. Menatap tajam ke bola matanya. Pikiranku langsung menerawang ke hal yang tidak-tidak. Inikah makna mimpiku sejak kemarin dan barusan?
Kemarin dan kemarinnya lagi, aku mimpi melihat mama pakai jubah putih. Kupikir itu cuma bunga tidur. Soalnya, aku ingin sekali menghajikan mama. Mimpi itu, tadi terulang lagi.
"Hei, kok melamun," kejar Anggi sambil menggoyang-goyang tubuhku. "Mamamu tabrakan. Dengar hlo. Aku bilang mamamu... bukan pacarmu!"
Aku tak merespon. Aku langsung lari ke kelas. Mengambil tas sekolah dan langsung ke luar. Wajah mama melintas di pikiranku. Kurang ajarnya yang menabrak itu.
"Hei, kau belum permisi sama Bu Wali," ingat Anggi. "Yuk, kita ke kantor. Permisi pulang!"
Aku cuek tapi langkahku ke arah kantor guru juga. Anggi terus mengelus kepalaku. Aku berterima kasih padanya. Ia mengembus-embus ujung ubun-ubunku. Ah, terasa sejuk tapi hatiku sudah seperti remuk.
Kabar itu bagai petir menyambar dahan kering dan ranting rapuh. Teganyalah orang yang menabrak mamaku. Salah apa mama kok main tabrak begitu.
Sampai di rumah, aku semakin perih. Tetangga sudah membenahi... mengangkat kursi ke halaman. Ada yang memelukku dan berulang kali membisikkan agar aku sabar.
Aku jadi heran. Heran... tak ada papa, tak ada abang, tak ada kakak, tak ada adik. Rumah hanya dipenuhi tetangga.
Kabar mengagetkan datang dari Anggi. Katanya, mamaku meninggal. Ia meminta aku tegar. Nasihat bertubi-tubi pun datang dari orang-orang yang memenuhi rumahku. Kudengar semuanya. Aku... bruk! Tubuhku lunglai dan ambruk.
***
Aku belum move on. Padahal, setahun lebih mama sudah pergi untuk selamanya. Aku terus berupaya menegarkan diri. Soalnya, bila terus larut dalam duka, mentalku down dan aku semakin terpuruk.
Tetapi, teori tersebut terlalu gampang diucapkan. Ketika hendak melakukan, semua teramat berat.
Semua terkait mama, tak dapat dienyahkan dari pikiranku. Bersyukur aku karena ingat pesan mama bahwa aku harus tekun dan semakin giat belajar. Tidak boleh meninggalkan doa, terus berdoa. Ya, tetap berdoa.
Cara seperti itulah yang menguatkanku, menegarkan hatiku, mengokohkan langkahku, menyambung napas harapanku.
Desember, doa-doaku pada mama kutingkatkan karena bulan akhir tahun tersebut hari ulang tahunnya. Dalam doa itu aku merasa mama mendengar dan tiba-tiba muncul dari belakangku.
Mama kelihatan cantik. Kulitnya yang putih semakin bersinar dalam jubahnya. Ia membelai rambutku. Aku membalas dengan langsung bersedekap di kakinya.
Memegang erat-erat kakinya adalah satu keistimewaan. Hal serupa kulakukan sejak dahulu, sejak masih kecil. Apalagi di saat hari-hari besar agama.
Sambil bersujud, air mataku tumpah membasahi kakinya. Aku bahagia dapat bertemu dengan mama. Saat aku terjaga, kudapatkan tubuhku memang sedang bersujud.
Mama.
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments