Minggu, 22 Sep 2019

Cerpen

Maaf, Bukan Niatku Mengkhianatimu

Karya Lampos Fernando Saurlin Medvedev Hutauruk - Jakarta
Minggu, 02 Februari 2014 13:03 WIB
AKU berjalan kencang, tergopoh-gopoh bahkan. Ingin sampai lebih cepat, tapi tak mungkin. Jangankan berlari, melangkah lebar saja, tak bisa. Padatnya manusia yang juga bergegas hendak naik subway ke Metro Center Washington DC, tak terbilang. Sepertinya, seluruh penduduk Ibu Kota negara adidaya tumpek blek di Stasiun Can Ness.

Meski penat dan kesal, aku mencoba senyum pada perempuan yang minta didahulukan naik. Katanya, ia sudah ditunggu keluarganya yang sudah semalaman menginap di sekitar The National Mall, Washington DC hanya untuk beroleh tempat mengikuti pengukuhan Barack Obama menjadi Presiden AS.

Aku bergumam kecil. Kalau memang diundang, pasti boleh masuk. Jadi, untuk apa ngotot-ngototan berdesak bahkan saling sikut.

Baru menyandarkan tubuh di dinding kereta bawah tanah, SMS Nudo datang lagi. Teman baikku mendesak agar aku lebih cepat. Aku sudah tak sabar. Mau memelukmu. Dingin sekali, isi SMS Nudo.

Aku tersenyum. Aku juga ingin memeluknya. Sungguh. Baru sebulan tak ketemu tapi rasanya sudah selama tujuh purnama berpisah. Makin cantikkah, Nudo? Makin pintar dan menarikkah Nudo? Hup, sudah pasti. Kemarin Nudo mengirim foto terakhirnya sedang di Sungai Ayung - Ubud, Bali. Kayaknya gemukan.

Memang, aku yang minta Nudo gemukan. Biar lebih berisi, lebih montok. Meski Nudo beralasan sedang diet ketat, aku tak peduli. Mana lebih baik, diet ketat atau aku bosan? He... he... he... padahal aku takut ditinggalkannya.

Begitu keluar dari subway, aku ketemu lagi dengan perempuan yang tadi minta didulukan. Mau apa lagi dia, pikirku. Syukur kami dipisahkan petugas. Aku dapat undangan yang langsung diarahkan ke Gerbang Biru, sedangkan perempuan itu diarahkan ke Gerbang Kuning. Eh, saat hendak berpisah, ia melayangkan senyum dan aba-aba kecupan melalui dua jari tangannya. Gila. Andai lebih cantik dari Nudo, belum tentu aku tertarik. Ini, di bawah standar. So pasti aku milih Nudo.

Dari Gerbang Biru, aku harus berjalan sejam lagi. Soalnya, menelang inaugurasi, jalan-jalan yang mengepung The National Mall, ditutup semua.

SMS Nudo masuk lagi. Katanya, ia sudah menyediakan tempat di sisinya. Jaraknya lumayan dekat dengan podium VIP. Sekira 100 meter. Duhai, berarti cukup dekat dengan orang-orang ternama di Amrik ini.

Nudo memang jago. Cekatan. Ini pun salah satu aku mengaguminya. Bila Nudo mau sesuatu, segala cara yang halal diupayakannya. Tekadnya, harus berhasil. Itu selalu terjadi.

Sama seperti kala hendak mengenalku. Ia dapat dari Facebook. Di jejaring sosial itu aku menyamar nama. Aku tetap tak mau mengatakan jati diri asliku. Entah dari mana, Nudo bisa tahu curiculum vitaeku secara pas.

“Aku kan intel mengadopsi ilmu KGB dan M17 plus CIA,” jawabnya ketika kutanya dari mana Nudo tahu tentangku.

Setelah kenal melalui dunia maya, aku ngajak Nudo kopi darat. Kubilang ketemu di Orchad Road Singapura aja, tapi Nudo ngotot di Bali. Alasannya, tidak ada tempat paling romantis di dunia ini selain Bali untuk tahap perkenalan.

“Tapi, kalau tahap selanjutnya, di tempat pembaringanlah yang paling pas,” tandas Nudo.

Aku tersenyum membaca e-mailnya. Nudo kuklasifikasikan humoris tingkat tinggi. Simak saja tulisannya itu, rada-rada ngeres tapi tak porno. Tetapi, begitu bertemu dengannya, tak ada kesan Nudo urakan atau orang sembarangan. Jangankan kiss bila hendak berpisah, jalan-jalan saja tak mau pegangan tangan.

“Aku orang timur, tabu melakukan hal-hal seperti itu bila tanpa ikatan jelas,” ujarnya.

“Maksudmu?”

“Kenalan dan berpisah untuk bertemu lagi kan tidak perlu pakai cium segala,” ujarnya. “Yang penting hati-hatilah yang berbicara”.

Aku terdiam. Nudo ini anak malaikat atau sok idealis? Aku jadi makin mau tahu latar belakangnya. Kata kawan-kawanku, cewek yang besar di Eropa cenderung berperilaku bebas, tapi Nudo kok tidak. Jangan-jangan... ah, praduga ternyata negatif.

Setelah aku dikenalkan dengan teman-teman dekat Nudo, baik yang laki maupun perempuan bahkan yang transgender, Nudo memang bersih.

Nudo pun punya jiwa sosial dipujikan. Bila dengar kawannya atau keluarga kawannya bahkan orang sewarga negaranya punya masalah, langsung membantu. Saat di New York Nudo dengar ada orang Indonesia berurusan dengan imigrasi karena diduga melanggar peraturan. Nudo langsung pergi meninggalkanku. Padahal kami ada janji dinner. Aku marah, tapi Nudo bilang, kalau sekadar makan malam kan masih ada waktu lain tapi kalau membantu orang terjepit, jangan menunda.

Aku makin kesal. Padahal aku sudah memesan dinner romantis.  Sudah membuang uang karena membatalkan menu, juga membuang waktu. Padahal aku hanya punya waktu malam ini. Besok sudah kerja. Aku minta ganti.

“Jangankan dinner. Aku mau tidur bersamamu, malam ini. Biar esok kau tenang meninggalkanku,” tantang Nudo.

Pikiranku melayang-layang. Tidur bersama? Aku mengimpikan ragam hal berkaitan tidur. Nudo telah menyerah, racauku. Tetapi, semua meleset.
Nudo memang berbaring di sampingku di apartemennya, tapi jangankan seperti yang kuangankan, memeluk tubuhnya saja tak bisa. Nudo justru mengajakku ngobrol semalaman.

“Kapan tidurnya?” tantangku.

Nudo tak menjawab. Ia mematikan lampu dan merebahkan tubuhnya di sofa, bukan di ranjang. Aku kecewa alang-kepalang. Tetapi, sejujurnya kuakui, aku makin salut padanya. Nudo memang benar-benar perempuan Timur yang paham harga diri.

Aku makin ingin dekat dengannya. Lama-lama kutetapkan juga Nudo yang paling pas buatku. Tetapi, lagi-lagi aku harus menggantung harapan. Nudo bilang, aku harus minta restu orangtuaku dan orangtuanya untuk membangun rumah tangga.

“Nudo, kamsek deh,” ucapku. “Menikah itu yang menjalani kita, bukan orangtua. Mereka cuma tinggal merestui,”

“Aku orang Timur.”

Kalau sudah mengatakan itu, aku terdiam. Nudo memang amat menjunjung tradisi ketimurannya. Karenanya, aku ngotot ingin minta restu pada orangtuanya. aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan padanya.

Janjinya, setelah menghadiri pesta Chinese New Year 2565, aku dibawanya ke Indonesia. Karena, saat ini, betapa gembiranya aku dikunjungi Nudo. Istilahnya, Nudo menjemputku untuk membawanya ke rumah orangtuanya.

Begitu melihat Nudo melambai-lambaikan tangan dan mengipaskan syal antidingin, aku langsung berteriak. Menyimakkan barisan orang yang tertib.

Begitu bersua, aku memeluk tubuhnya erat, erat sekali. aku merasakan Nudo memelukku dengan erat juga. Rasanya tubuh kami menyatu di hadapan jutaan orang yang hadir di The National Mall.

Aku merapatkan wajah, ingin mengecup bibirnya tapi Nudo mengelak. Aku kecewa. Hal biasa mencium bibir gadis. Jangankan sudah begitu dekat, baru kenal saja, gampang. Bibir seindah seperti milik Angelina Jolie saja bisa dipagut, tapi Nudo kok demikian?

Mengetahui wajahku berubah, Nudo memeluk pinggangku. Ia berbisik di telingaku. “Untuk apa kau mencium bibirku jika aku tidak merasakannya. Aku kedinginan!”

Aku jadi tersenyum. Ya, udara di sini memang hampir 0 derajat Celcius, mendekati beku. Jadi, sulit merangsang birahi. Namun, merasakan pelukan Nudo serasa berada di ranjang hangat. Aku belum pernah merasakan seperti ini. Sungguh.

Maksudnya, sejak dekat dengan Nudo, aku belum pernah sebirahi sekarang. Kalau dengan yang lain, ah... sudah biasa. Itulah kelebihan Nudo ketimbang perempuan yang selama ini kukenal.

Pelukan Nudo terus berada di pinggangku hingga matahari di Washington DC meminggir. Begitu menikmati dinner di kafe emperan JW Mariott, aku langsung tagih janji Nudo yang hendak membawaku menemui keluarganya.

Pan-Am flight pertama Washington - Los Angeles - Singapura - Denpasar membawa aku dan Nudo ke dekapan mesra. Di pesawat, saat Nudo tertidur lelap, aku menikmati wajah teduhnya. Aku menjamah pipinya, menekan bibir merekah Nudo hingga ia terbangun.

“Aku ingin menciummu?”

“Ciumlah,” balasnya lembut. “Tapi jangan di bibirku!”

Aku terkesiap. Rasa kecewaku kupendam. Kupikir, tak sampai 23 jam lagi aku sudah resmi memilikinya. Itu artinya aku berhak atas segalanya mengenai Nudo.

Tetapi, tidak juga. Meski ibu dan keluarganya merestui hubunganku tapi Nudo bilang, mentalnya belum siap menjadi istriku.

Duhai, aku masih menunggu. Capek menanti, kadang aku selingkuh dan membuat Nudo marah serta memutuskanku. Aku menyesal, aku minta maaf tapi Nudo kadung mencapku binal. (h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments