Jumat, 29 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

curhat Windy S - SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat

Kita Indonesia

redaksi Minggu, 01 Desember 2019 18:21 WIB
kabar-banten.com
Ilustrasi Kami bangsa Indonesia

Seperti yang sedang viral mengenai Agnez Mo, di sekolahku juga pernah demikian. Kelompok yang satu dengan yang lain, menggunakan bahasa ibu masing-masing. Karena saling tidak mengerti, terkadang aku ikut-ikutan berkomunikasi berdialek yang dibuat-buat, dengan memberi penekanan pada vokal 'e'. Lakon tersebut dibalas serupa oleh kawan-kawan yang lain.

Saling ejek pun tak terelakkan. Memang, setelah pelajaran usai dan lonceng tanda sekolah selesai, kembali bersama. Canda ria. Tetapi, saling ejek kembali mengemuka, yang terkadang membuat suasana makin tidak enak.
Ujung-ujungnya, pertemanan menjadi renggang. Aku jadi merasa risi. Jika masuk ke kelompok yang satu, yang lainnya jadi kurang enak. Andai bergabung ke kelompok yang lain, kelompok yang satu menuding tidak solid. Padahal, yang kuinginkan adalah kebersamaan.

Disebabkan situasi semakin tak enak, aku minta pada kawan-kawan untuk memaksimalkan berbahasa ibu di depan individu yang berlatar belakang berbeda-beda. Tetapi kawanku tetap vokal.

Ia ngotot tetap berkomunikasi dengan bahasa ibunya. Aku pun berinisiatif belajar memahami. Setiap kata yang diutarakan, aku langsung bertanya apa artinya. Mula-mula sih jadi bahan lelucon, tapi aku tetap bersikukuh dengan sikapku. Ingin belajar.
Bila dijelaskan maksud satu kata, aku mencatat. Kemudian bertanya ulang lagi. Soalnya, aku sih curiga. Kenapa bila kutanya satu kata, minta diterjemahkan, kok kawan-kawan ketawa. Pakai ngakak lagi.

Untuk memastikan arti dari satu kata, aku mengecek ulang ke masyarakat yang bersuku sama. Kadang, ada yang salah dari apa yang disampaikan. Kesalnya, penggalan kata-kata yang dialihbahasakan sangat menyimpang dari makna sesungguhnya. Pantas sajalah...

Meski kadang aku kesal, apa yang kuketahui tentang bahasa daerah, kusampaikan juga pada kawan-kawan dari suku lain. Ada sih penolakan tapi lama-kelamaan bermanfaat juga.
Itu terjadi ketika bertemu dengan seorang tua di jalanan yang butuh bantuan. Orangtua itu tak dapat berbahasa persatuan kecuali bahasa ibu. Jika tidak paham bahasa melalui kursus singkat, jadi tak dapat membantu. Padahal, bantuan yang diperlukan sangat mendesak. (q)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments