Rabu, 19 Jun 2019

Kids Era Now tapi Adat-istiadat tetap Sama

admin Minggu, 14 April 2019 16:52 WIB
SIB/Dok
CHARACTER BUILDING: Dra Catherine Margaretha Sitorus MPd bersama Glora Hutabarat dan Rendina Sihombing di Kompleks Perguruan Methodist 12 Medan bersama bocah jawara sebagai bagian dari character building.
Medan (SIB) -Tokoh dan penggelut pendidikan dasar Dra Catherine Margaretha Sitorus MPd menegaskan, kids era now (KEN) dan kids era old (KEO) sama saja dalam pembinaan plus pengisian kualitas. Meski kids era now tapi adat-istiadat tetap sama, tetap berpedomankan yang sama dalam character building.

Berbicara dalam pelatihan keterampilan digital di Kompleks Perguruan Methodist 12 Jalan Panca, Harjosari II Marindal - Medan Amplas, Medan, Jumat, (12/4), pembina Pramuka itu memastikan, zaman boleh berubah tapi seluruh sendi kehidupan sebagai pijakan tetap sama. Seperti dalam kehidupan berbangsa bernegara, meski di era Internet dan globalisasi tapi nasionalisme tetap mengacu pada Pancasila, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia menyoroti kehidupan KEN yang tergerus karena mengadopsi kemajuan berbasis digital. Anak-anak sekarang, dunia sosialnya cenderung dengan smartphone dan jikapun berkumpul, selalu menunduk mengoperasikan HP. Jika dapat uang dari orangtua, ujarnya, cenderung beli paket atau main ke warnet. "Semua itu perlu tapi, orangtua tetap membudayakan menabung, melatih kepekaan sosial dengan berkumpul dan beraktivitas sosial. Orangtua pun harus mewaspadai anaknya jangan sampai lebih fokus pada HP bahkan ketiduran pun dengan smartphonenya," tambah Catherine Sitorus.

Fenomena lain sebagai penanda KEN, mencatat atau berkait dengan ilmu pengetahuan dengan memfoto dan share di grup WA. "Padahal, era lampau, mencatat di buku hingga halaman terakhir. Artinya, mau gampang saja. Padahal, tak ada yang gampang bila belum melalui hal sulit. Mencatat dengan menulis melatih kualitas intelektualisme," tegasnya didampingi sejumlah pendidik di antaranya Glora Hutabarat dan musisi etnik rohani Rendina Sihombing.

Ia memastikan, kemajuan teknologi tak dapat dibendung dan harus diikuti tapi tidak boleh meninggalkan hal-hal yan sudah teruji di era lampau. Ia menunjuk pengadopsikan teknologi di Methodist 12 dengan komputerisasi tapi tetap mengasah humaniora dengan menambah jam pelajaran pengasahan talenta seni dan olahraga. "Tantangan saat ini harus dihadapi tapi jangan meninggalkan keunggulan era lampau. Istilahnya, kearifan lokal dalam keindonesiaan, tetap harus diadopsi," tegas musisi senior tersebut.

Dengan kenyataan sekarang, Catherine Sitorus meminta orangtua semakin ketat dalam mengawasi putra-putrinya khususnya untuk moral agama dan adat-istiadat timur sebagai jati diri pribadi.

Ia mengingatkan, HP diciptakan untuk memudahkan kehidupan tapi bukan untuk meninggalkan hal-hal unggul dalam hidup sebagai makhluk sosial. (R10/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments