Jumat, 05 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Hujan di Awal Desember

karya Paska Rios Sembiring - SMA RK Serdang Murni Lubukpakam, Deliserdang
redaksi Minggu, 01 Desember 2019 18:28 WIB
liputan6.com
Ilustrasi Hujan
Hujan kadung turun. Angin yang semula sepoi berubah kencang, mendatangkan dingin. Rumput jadi basah, menunjukkan kesegaran. Padahal, jika air yang menitik dari langit itu lebih dulu turun, mungkin, dedaunan tak rontok.
Mulianya dedaunan itu. Ia tak pernah marah apalagi dendam pada angin yang membuatnya terberai dari ranting berdahan. Dedaunan rela membusuk dan menyuburkan akar.

Aku menatap ke luar dari kisi daun jendela. Rintik gerimis makin padat. Bermalasan aku bangkit. Masih ada beberapa saat untuk meluruskan badan.

Selimut kutarik. Badanku pun kubungkus. Begitu terbangun, aku terkejut. Sudah lewat terlalu jauh.
Cepat-cepat aku berangkat. Tak mandi. Hanya mengambil pisang dan meminum susu yang dihidangkan.
Aku sengaja menembus hujan. Berlari kencang. Teringat akan jalan yang kulalui bersamanya, waktu perempuan yang kusetarakan sebagai makhluk paling seksi di dunia bersamaku.

Dulu, di jalan ini, aku dan kekasihku bergandengan tangan begitu erat. Kadang, tubuhnya bersanda dan kami terus melangkah.
Sampai di sekolah, tubuhku kuyup. Guru terheran dan menyuruh untuk mengeringkan. Aku tak melakukannya. Bukan melawan tapi bagiku percuma baju kering jika hatiku tetap basah berdarah perih.
"Kamu sakit, Miko?"

Aku terkesiap. Aku memang melamun. Memikirkan tentangnya di tengah waktu yang singkat, di hadapan kawan-kawan.
"Kalau kamu tidak menyayangi dirimu sendiri, siapa lagi?" Suara guruku semakin keras. Kupikir ia benar-benar marah.
Seharusnya aku senang masih ada yang memerhatikan. Tapi, ah... guruku tak tahu isi hatiku. Atau, haruskah kuceritakan?
Hujan mengingatkanku awal berjumpa dengannya. Waktu itu, hujan membuatnya menepi dan berteduh. Aku sih berteduh di halte yang sama.

Sama-sama berdiam diri begitu lama, ketika hari sudah semakin gelap, aku beranikan diri menegurnya. Sebenarnya lebih tepat jika dikatakan mengisi kelengangan.
Aku menawarkannya untuk bergeser dari halte. Berjalan ke simpang lain. Mana tahu bila berada di halte itu ada angkutan yang lewat dari jurusan lain. Tetapi ia menolak.

"Kamu kelelahan ya," ujarku. "Boleh aku menggendongmu?" tawarku dengan bahasa gurau tapi sesungguhnya aku serius.
Kulucuti tubuhnya dengan pandangan serius. Hmm, cantiknya. Tapi memang ia terlihat letih.
Karena kudesak tapi ia tetap tak mau, aku beranikan memegang tangannya. Ia marah. Maaf, aku memang lancang. Tapi semua kulakukan dengan ikhlas.

Karena terus kudesak sambil kuwanti-wanti tentang adanya kemungkinan orang usil, ia bersedia. Dan benar prediksiku, baru beberapa menit berdiri di simpang lain, angkutan datang.
Kami naik. Selama dalam angkutan, ia bungkam dan selama itu pula aku menikmati wajahnya. Ayu. Meski terlihat penat tapi ia cukup cantik. Sangat cantiklah untuk ukuranku.
Membuktikan aku bertanggung jawab, aku mengantarnya sampai ke rumah. Padahal, aku harus melewati beberapa kilometer lagi agar dapat kembali pulang ke rumah.

Esoknya, kuulangi lagi. Ia keheranan tapi aku ngotot dan langsung bilang suka padanya.
"Kau ini lelaki paling aneh, Miko. Baru kenal, langsung bilang cinta. Atau, kau ingin meminta balas atas kebaikanmu?"
Aku menggeleng. Aku langsung bertelut di depannya. Entah kenapa, aku kok punya keberanian dengan perempuan paling seksi eksotik ini. Padahal, biasanya aku cuek dengan kaum Hawa meskipun wanita itu secantik Ariana Grande.
Walau ia menolak, aku tak peduli. Sampai-sampai aku tak peduli apakah ia sudah punya pacar atau belum. Bagiku, ia makhluk tertepat buat menumpahkan kasih sayangku.

Aku pun harus berkorban waktu dan apa yang kupunya demi bertemu dengannya. Satu contoh, tiap hari aku harus menumpang kereta kawanku akan lebih cepat menunggu di depan sekolahnya.
Sekeras-kerasnya batu cadas, bila tiap hari dititik air, pasti berlubang. Aku pun berhasil melubangi hatinya. Ketika ia mengangguk menerima harapanku, aku langsung bersujud di depannya.

Ia marah. Lebay, katanya. Tapi aku tak peduli. Sejak saat itu pula aku merasa bertemu dengan reinkarnasi ibuku. Dalam tubuh dan hatinya, tersimpan seluruh kerinduanku pada sosok perempuan yang melahirkanku yang telah dipanggilNya.
Kami mulai saling mengisi. Hubungan yang benar-benar sehat. Aku tak pernah mau macam-macam. Aku bebas menggandeng dan memeluk tubuhnya, tapi cuma sampai di situ.

Aku memosisikannya sebagai orang tersuci, sama seperti ketika aku memeluk ibuku dan perempuan itu membelai rambutku.
Tetapi, hubunganku dengannya tiba-tiba putus. Ia disambar kereta api ketika hendak memotong jalan untuk menemuiku. Ia tergelincir karena licin. Waktu itu hujan di awal Desember.
Kejadian itu membuat hidupku kembali hampa, hidupku seperti tanpa tujuan. Hatiku kosong, kering-kerontang. (q)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments