Jumat, 29 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Cerpen

Hari Ini, Seperti di Akhir Tahun Lalu

Karya Josua Pinem - Cinta Damai, Helvetia Medan
redaksi Minggu, 05 Januari 2020 19:41 WIB
solopos.com
Ilustrasi
Sambil berlari kecil Davie menepi. Sekadar menyilakan sepedamotor yang suaranya seperti terompet basah itu melintas lebih cepat. Tetapi, ah... busyetlah. Emang dasar gak punya otak.
Semakin menepi semakin membuatnya susah. Selain tak beroleh jalan untuk menempatkan menjejakkan kaki dalam kayuhan lebar, jins termahal yang dipunyanya kena cipratan air dari kereta yang melaju tak kencang itu.
Ia ingin memaki, tapi langsung dibatalkannya. Baru saja pulang ibadah. Kok harus memaki-maki pula. Lagi pula, tak kan mungkin satu makian membuat celana barunya kembali kering.
Meski demikian, hatinya mengumpat. Niatnya, celana itu dipakainya lagi untuk ibadah awal tahun.
Soalnya, tak sampai sepekan lagi, kan sudah Minggu. Kata kawan-kawannya, memakai panlatalon terbuat dari jin itu membuat Davie lebih tampan.
Tak hanya seorang Zidan yang mengatakan demikian. Devan, Elvano dan Randi pun bilang seperti itu. Tetapi yang paling membekas ketika Irene memujinya di luar kebiasaan.
Biasanya seorang gadis kan cuma bilang ganteng, tapi Irene menilai Davie bertubuh atletis dengan jenjang kaki memesona.
Davie mengakui, dengan celana baru itu tubuhnya kok merasa lebih tinggi. Lebih atletislah. Tetapi, dengan cipratan air bercampur lumpur itu, musnahlah obesinya ingin menarik perhatian Irene lebih jauh.
Sambil berlari, Davie masih mengumpat. Sudahlah, malang tak dapat ditolak, rezeki tak dapat ditampik.
Hujan makin deras. Semakin lebar kayuhan kakinya, air dari langit itu semakin menerpa. Karena sudah tak dapat lagi menahan, ia menghentikan larinya. Berteduh di depan grosir tempatnya selalu membeli mi instan dan camilan.
Baru berdiri, betapa terkejutnya Davie karena dilihatnya sosok hitam ke luar dari sisi bangunan, tepat di sudutnya.
Bulu kuduknya seketika naik. Seperti melihat makhluk halus, Davie hampir saja berteriak. Aduh... ia mengelus dada sendiri. Sosok hitam yang semula menakutkannya adalah orang lupa ingatan yang tadi siang ditemuinya di depan warung di depan sekolah.
Aneh. Jauh sekali si gila ini sudah di sini. Sambil meredakan asa terkejutnya, Davie memerhatikan dengan seksama. Jangan-jangan si lupa ingatan ini sedang kambuh sakitnya.
Dilucutinya si gila dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ah, lega sedikit karena tak ada benda apapun dipegangnya. Meski demikian, Davie menjauh. Sekadar menurunkan deburan nafas yang memacu karena tadi berlari.
Tetapi si lupa ingatan itu mendekat. Mau ngapainlah dia ini, pikir Davie dalam hati. Karena aroma tubuhnya semakin menusuk hidung, Davie tak tahan.
"Bagi duitlah," pinta si gila tapi Davie tidak memedulikan karena ia langsung memacu langkah. Lari.
Ingin cepat-cepat ke rumah. Niatnya hendak memotong dari gang kecil tapi karena gelap membuatnya melompat ke jalan lain.
Tak apalah, meski jauh tapi memberi kepastian. Minimal tidak gelap-gelapan yang mengundang kecurigaan.
Melompat kecil, tiba-tiba laju kendaraan mencipratkan air. Kini, mulai dari badan hingga kaki, basah.
Davie memaki. Keras kali hingga suaranya mengalahkan bising hujan deras.
Ia memutuskan naik Ojol. Baru meraba sakunya, dompetnya tak ada lagi di kantung jinsnya. Ya Tuhan... ke manalah.
Davie bingung alang kepalang. Diteleponnya kawan-kawan tadi saat ibadah, semua mengatakan tak tahu. Jadi, ke manalah dompetnya itu.
"Aku gak punya uang. Mau pulang!" ujarnya setengah membentak. "Tolonglah!"
Karena kawan yang dihubungi tak juga memberi jawaban yang diingininya, Davie menyerah. Tak khawatir lagi dengan hujan. Cuma smartphonenya yang dilindunginya.
Pikirannya tertuju pada dompet. Tak hanya bingung karena seluruh uangnya ada di dompet tersebut, tapi dokumen pribadi. Mulai KTP hingga kartu mahasiswa dan ATM yang isinya sedang sangat tipis itu.
Ia jadi malas untuk pulang. Apalah gunanya ke rumah jika dompet tak ada. Apalah artinya berkumpul dengan keluarga, kalau pikiran tak fokus.
Kekesalan membuat pikirannya bingung. Tanpa pikir hujan atau apa, ia langsung memutar arah. Mengulangi jalan yang tadi sambil mencari dompet.
Di simpang gelap tempatnya tadi berdiri, si gila tadi didapatnya lagi. Kali ini, suaranya lebih keras lagi dengan minta rokok.
"Bu....'" maki Davie tapi si gila tetap ngotot minta rokok.
Ingin ditunjangnya si gila itu. Tapi tiba-tiba matanya terbeliak karena di tangan pria tak waras itu ada benda yang dicarinya.
Davie langsung menarik dari tangan si gila. Tanpa bicara apapun, langsung dibukanya dompet itu. Hatinya lega.
"Di mana kauambil ini?"
Si gila tak menjawab kecuali tertawa kuat. Davie jadi tertawa. Refleks dirangkulnya pria tersebut tanpa menghiraukan aroma yang tadi membuatnya hendak muntah.
Diambilnya sebagian uangnya dan diserahkannya. Akhir tahun lalu, ketika bertemu dengan orang tak waras itu, Davie juga memberinya uang tapi ala kadarnya. Kali ini, jumlahnya jauh lebih banyak. (f)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments