Rabu, 03 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Cerpen

Hanya Aku dan Dia, Kamu Tidak

By: Aries Parto Tambunan, Saribudolok, Kampung Toba.
Minggu, 23 Maret 2014 21:24 WIB
Aku masih menyimpannya dalam hati sampai sungguh aku mengerti dengan keyakinan kalian. Aku menempatkan diriku sebagai orang yang suatu waktu diberi kejutan dan kejutan itu adalah kejutan yang menyenangkan hati. Aku menunggu jawabannya sampai pada akhirnya aku jenuh menunggu. Kukatakan lagi pada kalian bahwa aku ingin bertemu, entah berdua atau satu dari antara kalian.

Kau juga mau dan ingin segera menuntaskan permasalahan ini. Aku mengatur waktu. Kau mengatur perjumpaan. Kita sejalan dan akhirnya pertemuanlah yang terjadi. Kau masih tampak cantik, matamu masih juga bening. Tapi aku lebih yakin dia juga tidak kalah lebih cantik dan tatapan matanya juga masih berbinar. Ketika kau dengar bahwa kukatakan hal-hal istimewa pada dirimu, pipimu merona. Aku maklum dan mengakuinya.

Kita bertemu dalam suasana yang berlainan seperti yang sudah-sudah. Bila dulu kita berkumpul dengan senyum simpul, sekarang kita bertatapan dengan wajah lesu penuh beban. Mungkinkah itu beban teramat berat yang boleh dikatakan lebih berat dari apapun juga? Perjumpaan ini kuharap dapat menuai jawaban atas apa yang kutanyakan. Kau bercerita dari mana itu berawal.

Dari ceritamu kau katakan bahwa dirimu dan dirinya menghadapi masalah yang semakin runyam. Demi rasa kebersamaan kita bertahun-tahun, bolehkah aku ikut mengetahui permasalahan sukar itu? Kau menyetujui dan mengatakan bahwa antara kau dan dia telah menyukai orang yang sama. Hanya kau dan dia, aku tidak. Ketika kudengar bahwa permasalahan laknat itu rupanya cinta maka aku tertawa. Tawa itu bukan menertawakan dirimu atau dirinya tapi menertawakan diriku yang tak menjangkau pikiran sampai ke sana.

Kau tampak tersinggung ketika aku melebur tawa. Pikirmu itu tidak lucu. Pikirku itu menarik maka aku tertawa. Aku tak sadar bahwa tak mudah memahami situasi cinta antara laki-laki dan perempuan. Jika itu benar urusan cinta, aku boleh dan berhak tahu supaya aku bisa menyusun strategi. Kau bergeming dan berpendapat antara laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan tebal bagaimana menerjemahkan ungkapan bernama cinta.

Aku meminta padamu untuk bersedia mengatakan siapa orang yang menjadi belahan hati dirimu dan dirinya. Lama kau terdiam mengumpulkan seluruh tenaga perasaan dan rasa canggung luar biasa. Detik terakhir aku menghentikan tawa dan menatapmu gamang ketika aku mendengar nama yang meluncur dari mulutmu adalah namaku. Aku mencoba meyakinkan diriku dan meyakinkan dirimu bahwa yang kudengar itu tidak meleset. Kau mengangguk dalam-dalam sambil merangkum kekuatan untuk mendengar kata-kata dari mulutku.

Katamu, perasaan itu telah muncul sejak kita bersama. Kau bahkan berkata, kami berlomba untuk menjadi seseorang di sisimu sebagai yang istimewa. Aku amat tak mengira hal itu telah terjadi bertahun-tahun lalu dan aku tak merasa sedikitpun. Bukankah aku juga punya kecenderungan yang sama. Cinta pada keduanya, tak mau meninggalkan salah satunya. Sekarang aku mengerti mengapa setiap hal yang tampaknya sensibel, kau dan dia selalu mengatakan itu rahasia. Atau lebih suka mengatakan biarlah hanya aku dan dia, kau tidak. Kita berpisah dengan tanpa jawaban dariku.

Aku pulang, bukan ke kotaku tapi ke tempat dimana dulu kita sering menghamburkan waktu di kaki gunung untuk menatap awan rendah atau menunggu bulan muncul. Aku duduk sendiri mengungkit masa lalu yang tak mungkin kembali. Aku mengingatnya dimana kita duduk bertiga, aku merangkulmu dari kiri dan dia juga merangkulmu dari kanan. Hanya aku dan dia, kau tidak.

Aku bingung harus menjawab bagaimana pada dirimu dan dirinya. Jika aku memilihmu, maka dia terabaikan. Jika terjadi sebaliknya tampaknya kau tersisihkan, padahal aku pernah berpikir ingin bersamamu saja, dia tidak. Tapi, juga pernah ingin aku bersama dia saja, kau tidak. Masing-masing kalian pasti pernah punya keinginan itu dan kau akui benar.

Senja yang mulai memerah justru semakin membuat hatiku tak tentu. Bertanya dalam nubari, manakah yang aku pilih, dirimu atau dirinya atau keduanya. Mungkin juga tidak keduanya. Tapi tidak. Sejak dulu aku juga begitu, hanya aku tak lebih tahu bagaimana cara mengatakannya. Bukankah aku suka pada matamu yang bening? Bukankah aku pun suka pada tatapannya yang binary. Kukira hanya akulah yang punya perasaan ini. Ternyata kalian juga telah menabur benih itu sejak lama.

Kukatakan jika aku memilihmu, dia tidak. Apa yang akan terjadi padanya. Atau apa yang akan kau lakukan andai aku memilih dia, kau tidak? Hal paling rumit untukku adalah memilih salah satu. Namun, sebelumnya aku menanyai diriku mengapa ini semua terjadi, apakah aku yang terlalu atau kalian yang berlebihan.

Dalam pikiranku yang hampir membusuk itu, tiba-tiba saja aku mengenali dirimu dan dirinya sedang menghampiriku. Aku terperanjat. Bias senja telah membuaikan mata bahwa kalian terlihat seperti dayang yang tiba-tiba muncul dari telaga hening. Kalian datang kemari bersama karena punya maksud serupa. Seserupa apakah itu, aku telah mengetahuinya. Itu bukan lagi menjadi rahasia yang dulu selalu kalian katakan pada telingaku. Sungguh begitu. Dan memang begitu.

Kalian duduk di samping kiri-kananku. Kita terdiam sambil melihat bulan sabit yang indah. Mendengar suara adzan yang berkumandang mengantar perubahan waktu. Senja mulai menutup diri agar digilir malam. Suasana petang seperti dulu enggan minggat. Aku di tengah. Kita bertiga kembali seperti dulu.

Seperti dulu kita sering bercerita di tempat ini. Mengenang yang silam, berbagi pengalaman hidup. Yang susuah kita pelajari, yang senang kita tertawakan dan yang berarti kita kenangkan. Meski waktu di belakang tak bisa dihadirkan lagi setidaknya kita mengingat bahwa kita pernah ada waktu itu. Yang berlalu sudahlah, yang baru datanglah.

Sejak dulu selalu aku yang pertama berbicara dan sekarang aku melakukannya lagi. Kuceritakan bagaimana aku menempatkan diriku sebagai orang yang suatu hari akan menerima kejutan. Sungguh senang bila kejutan itu kena pada hati. Kukisahkan pula bagaimana aku menangisi dirimu dan dirinya ketika aku  berpisah menuju ke kotaku. Menghabiskan seluruh waktu yang menjepit. Meluangkan waktu untuk berkunjung ke kota kalian sedapat mungkin.

Kuandaikan bahwa kalian baik-baik saja. Selalu bersama. Kau dan dia, aku tidak. Tahukah kau bahwa hal terbesar dalam hidupku adalah memahami ketidakmengertian orang terhadap diriku. Sampai detik ini, bolehkah aku katakan bahwa menjadi manusia sepertiku adalah beruntung sekaligus rugi. Beruntung karena dicintai oleh orang yang sama. Rugi karena aku tak tahu harus menunjuk siapa dan menyisihkan yang mana. Aku bingung dan sungguh aku bingung sehingga boleh kukatakan tak ada bingung yang serumit ini.

Kukatakan di hadapannya dan di hadapanmu juga bahwa sejak dulu aku juga mempunyai rasa yang sama dan tak pernah berubah. Hanya karena rasa takutku telah membunuhnya sekian lama. Dan hari ini kukatakan dari dalam hatiku ingin tetap memilih kalian berdua saja sebagai satu bagian dari diriku. Bukan dirimu atau dirinya. Bukan hanya aku dan dia, kau tidak. Bukan juga sebaliknya.

Tak lama setelah itu, kau berkata di hadapanku dan hadapannya. Segala perkara antara kalian berdua biarlah kau dan dia yang menyelesaikannya. Serentak kalian berkata padaku, "hanya aku dan dia, kau tidak".

 (f)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.



T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments