Jumat, 20 Sep 2019

Era Digital Diharap Tumbuhkan Gemar Membaca Kaum Milenial

admin Minggu, 23 Juni 2019 16:25 WIB
Ketum Persatuan Wanita Gereja Pentakosta Pdm EM Br Aritonang STh
Pematangsiantar (SIB) -Dunia masuk ke era digital dan semakin kental ketika secara global negara-negara fokus memenangi persaingan dalam Revolusi Industri 4.0 yang di semester akhir 2019 beranjak ke Revolusi Industri 5.0. Upaya-upaya apa yang dilakukan agar kaum milenial Indonesia dapat bertahan bahkan (mungkin) memenangi pertarungan yang semakin sengit tersebut?

Ketua Umum Persatuan Wanita Gereja Pentakosta (PWGP) Pdm EM Br Aritonang STh mengatakan, generasi muda harus belajar... belajar... dan belajar. "Tetapi saat kehidupan manusia tak dapat berjarak dengan smartphone, fokus belajar menjadi terpecah. Back to basic, belajar dengan sentuhan kasih. Orangtua tetap mendampingi anaknya dalam membaca," ujarnya di tengah mengikuti Synode Kerja ke-42 Gereja Pentakosta yang dipusatkan di Jalan Lingga 24 A Pematangsiantar, Sabtu (22/6).

Ia mencontohkan pribadinya di mana sejumlah pahoppu yang tinggal di metropolitan, dalam dan luar negeri. "Tetap terus ada pendampingan. Tetapi memang dasarnya harus kuat yakni moral agama," tambah putri Residen Dairi pertama dan tokoh HKBP tersebut.

Menurutnya, pahoppu sudah remaja, bila berkumpul, tiap pagi tetap diajak membaca bersama. "Membaca Alkitab. Dari sana sama-sama berkidung," sebut Pdm EM Br Aritonang. "Membaca itu melatih kecerdasan emosional. Karena yang dibaca Alkitab maka sedikitnya dua keuntungan. Mencerdaskan intelektual dan menebalkan iman, sekaligus menanamkan moral terpuji," ujarnya.

Terpisah, Kepala SMA St Thomas 1 Medan Sr Agnes Saragih SFD SPd MPd mengatakan, meski smartphone ada tapi sangat baik membaca buku teks. "Segi positifnya adalah mendukung pertumbuhan fisik, kognitif, bahasa dan sosial emosional. Jika dikombinasikan dengan membaca Alkitab, menjadi terbaik," tambah penulis 'Dolok Singgalang' yang dinobatkan sebagai puisi terbaik.
Didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Drs Maniur Rumapea MSi, Sr Agnes Saragih SFD menunjuk apa yang menjadi teori terbaik tersebut dipraktikkan pada seluruh keluarga besar SMA St Thomas 1 Medan. "Guru tak sekadar mengajar tapi membimbing siswa dalam semua aktivitas mata pelajaran. Di dalamnya ada membaca plus doa bersama yang artinya membaca Alkitab," tambahnya.

Menurutnya, membaca memberi manfaat kognitif yakni menambah wawasan minimal atas topik yang dibaca. Misalnya, ketika membaca buku tentang daerah atau negara lain, yang jadi mengetahui wilayah itu meski belum pernah ke sana. "Dari posisi itu, konsentrasi dan daya ingat menjadi berkembang lebih baik," jelas Sr Agnes Saragih sambil mengatakan membaca secara langsung menambah perbendaharaan kosa kata.

Tak sekadar penambahan pembendaraan kata, membaca pun menuntun keteraturan logika bahasa. "Membaca bahan yang baik, secara langsung meningkatkan kualitas literasi. Kondisi tersebut secara langsung melatih emosi dan serta merta mengurangi waktu bermain dengan gatged!" tutup Sr Agnes Saragih. (T/R9/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments