Jumat, 05 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Cerpen

Diantara Mereka

Karya Fredy DR, Pematang Siantar
Minggu, 16 Maret 2014 21:42 WIB
Sore yang begitu indah. Lain dari hari-hari biasa. Matahari merah keemasan bersinar membelai bumi, angin sepoi Danau Toba lembut menampar wajahku. Tak kusangka, hampir tiga jam sudah aku duduk termenung menikmati indahnya pemandangan sore ini.

Dari kisah kenangan masa SMP dan kisah-kisah yang betapa menggigit saat itu bergantian hadir menjenguk kalbuku yang sepi.

“Edi, dah sore mandi yok!” Kudengar teriakan Fendi dari balik pagar besi halaman rumah kami, yang tingginya setinggi leher orang dewasa.
“Iya, masuk aja dulu!”

Tanpa berkata apa-apa lagi Fendi melangkah ke halaman depan rumah kami yang berukuran 6 x 7 meter. Seperti biasa, dia ditemani bola kaki kesayangannya. Ember sabun berwarna biru, handuk Liverpool warna merah masih setia menggantung di tangan kiri dan lehernya.

“Tunggu di sini bentar, ya!” ucapku sambil beranjak masuk ke dalam rumah. Sepuluh menit kemudian, aku telah berada di depan dengan seragam kebesaranku. Kostum AC Milan, celana Arsenal, handuk bernama Germany serta ember sabun warna orange mendampingi penampilanku sore itu. Dan kemudian kami beranjak menuju pantai yang berjarak kurang lebih 50 meter dari rumahku.

“Di, hari Minggu , kita tanding lawan kampung seberang. Gimana, kau mau ikut?”
“Pastinya……..”jawabku semangat.

“Alah……cuman bilang iya kau bersemangat. Untuk merelakan uangmu membeli minuman, tak pernah bersemangat.”
“Ya, seharusnya kau tau-lah krisis sekarang……”

Berbagai obrolan ringan seputar olah raga, cewe’ dan kenangan masa lalu menghiasi perjalanan kami. Tak terasa lapangan sepak bola yang lumayan luas sudah terhampar di depan mata. Aku tak sabar. Bola di tangan Fendi kusambar dan aku berlari mengejar bola yang lebih dahulu melompat hingga beberapa meter ke depan. Aku menendang bola dan tengah lapangan dan disambut teman-teman yang lain yang telah menunggu kedatangan kami.

Memang, hanya bola itulah yang ada di kampung kami. Dan itulah satu-satunya yang kami pakai setiap sore sebelum mandi.

Lama bermain, kemudian mandi dan pulang ke rumah, sudah membudidaya dalam kegiatan harian kami.
# # #
“Edi….Edi……bangun!” abangku yang kebetulan pulang berlibur, membangunkan aku dari tidurku yang nikmat. Dengan berat, kelopak mataku ku buka untuk melihat hari pagi. Mataku beradu dengan jam dinding yang bergantung di kamarku. Pukul 8.30

“Busyet!!!!!Mampus aku……!” aku melompat dari kasur. Selimut dan tempat tidurku yng sangat berantakan. Aku berlari keluar kamar meninggalkan abangku yang bingung. Hari ini, hari Minggu. Aku harus mengajar asmika di stasiku.

Setengah jam kemudian aku tiba di depan gereja katolik St. Stanislaus yang  berdiri dengan kokoh dan megah, seratus meter dari garis pantai. Dengan tergesa-gesa aku melangkah masuk ke dalam gereja. Dari dalam, ku dengar suara nyanyian anak-anak sekolah minggu. Sejurus kemudian hening dan terdengar suara lembut seorang gadis.

“Cewe’ dari mana tuh anak?!” gumamku dalam hati. Memang aku punya teman perempuan pembimbing asmika, tapi suaranya tidak selembut yang baru kudengar barusan….

Sampai dalam gereja, aku terperanjat melihat seseorang. Gadis berambut hitam panjang tergerai, berbaju biru cerah, tidak mengenakan berbagai perhiasan ataupun make up, namun kelihatan manis. Cantik. Menawan. Sekitar 2 meter di samping kirinya, kulihat Rega. Temanku pembimbing asmika. Kuhampiri Rega.

“Sorry jo..,” ucapku sambil mengambil tempat disampingnya.

“Udah biasa kok,” ucapnya sambil meninju lenganku, “untung ada dia, kalau tidak, mungkin akan kusuruh anak-anak ini pulang,” katanya bercanda.
“Orang mana tuh?”

“Dia orang sini juga, tapi dah lama di Tebing. Dia boru Manullang temanku sejak SD. Saat ini mereka lagi liburan untuk satu bulan setengah. Karena itu makanya dia kuajak ke sini. Sekalian mengenalkannya ama kamu, he….he..,”  kata Rega setengah berbisik.

“Wow….apakah itu rencana mulia?” ucapku.
“Ya, mungkin,” katanya sambil meninggalkan aku yang diam mematung di samping organ.

“Oke, adik-adik manis, sebelum kita keluar, kita berdoa dulu dan doa akan dibawa Bang Edi,” kata gadis itu sambil menunjuk aku. Tak kusangka, gadis itu menunjuk aku dan ternyata dia sudah tahu namaku. Dengan percaya diri, aku maju ke depan untuk memimpin doa. Tapi sebelum mulai berdoa, aku melihat Rega tersenyum. “Oh…..ini ulah Rega,” pikirku.

Aku memimpin doa dengan tidak konsentrasi. Hatiku bergejolak antara kaget dan bahagia, karena rupanya gadis itu sudah tahu namaku, dan mungkin sudah tahu sedikit tentang aku. Rega………ya mungkin Rega telah menceritakannya. Setelah doa berakhir, anak-anak bubar, Rega dan gadis yang tadi tak kulihat lagi di dalam gereja. Lantas aku keluar hendak mencari mereka berdua. Tapi, di luar gereja pun tak kutemukan batang hidung kedua bidadari itu.
“Mungkin orang itu dah pulang,” gumamku dalam hati, dan untuk sementara kuhentikan pencarianku.

Tanpa kusadari, aku sudah berjalan sampai di depan sakristi-kira-kira 15 meter jauhnya- dari tempatku semula. Kulihat ke dalam sakristi dan mataku menangkap sosok kedua bidadari tadi. Mereka sedang membantu Sr. Lina menyiapkan keperluan ekaristi. Sekali-kali kulihat senyum manis terbersit dari bibirnya yang tipis. Mataku hampir tak berkedip supaya pemandangan indah itu tak luput dari mataku. Keanggunannya telah membius seluruh urat sarafku sehingga dalam setiap detak jantungku hanya ada dia dengan senyumnya.

Teng..neng….teng…..

Lonceng gereja berdentang dengan nyaring. Perayaan ekaristi akan segera dimulai. Kupercepat langkahku menuju ke pintu gereja. Orang-orang telah memasuki gereja dengan penampilan yang berbeda-beda. Ada yang mengenakan jas, kebaya, parfum dan beraga, aksesoris lainnya. Teman-temanku hadir dengan style yang keren dan menyemprotkan berbotol-botol parfum ke tubuhnya. Mulai dari aroma  Pierre Cardine, Casablanca, Gatsby, Extreem sampai aroma tak dikenal pun tercium dari radius 5 meter. Wah…………

Aku duduk sendirian di bangku navis paling kanan saat pastor memulai perayaan ekaristi. Setelah doa pembukaan barulah bangku navis  dipenuhi remaja-remaja seusiaku.

Saat angin bertiup dari arah kami, pastor menoleh. Kutangkap ada guratan jengkel di wajah beliau seakan berkata,”Dasar anak muda…….Ke gereja aja harus menghabiskan berbotol-botol parfum, belum lagi dandanannya……minta ampun….”

Aku tertawa sendiri, menertawakan cerita yang dirajut pikiranku sendiri. Sembari melirik gadis yang membuatku tak tenang sedari tadi, aku berlutut saat konsekrasi dimulai.

“Ga, kenalin donk sama temanmu,” ucapku sambil melirik gadis itu di beranda pastoran selepas perayaan ekaristi. Yang kulirik malah tersenyum manis. Lagi, hatiku jatuh…..

“Kenalan aja sendiri,” ucap Rega.

“Hai, aku Edi. Boleh tahu namamu?”

“Udah tahu kok. Aku Aira,” ucapnya sambil menyambut uluran tanganku.

Melihat kami bersalaman cukup lama, Rega meninggalkan kami sambil berdehem. Setelah itu, kami berdua bercerita panjang lebar tentang segala sesuatu yang menarik. Anehnya, aku merasa kami langsung nyambung alias connect. Aku merasa ada sesuatu yang lain.

Kami bercerita sampai Rega mengajak Aira pulang.              
 # # #

“Edi...Edi…..sini, Di,” teriak Fendi sambil berlari ketika aku sedang menguasai bola di kakiku. Tanpa berpikir panjang, kukirimkan bola lambung kepadanya. Namun sial, bola itu disentuh lawan dengan tangannya.

“Hand!” teriakku sambil mengangkat tangan kananku dan wasit meniup peluit, pertanda free kick untuk tim kami. Fendi mengambil tendangan bebas, namun tendangannya menyentuh badan lawan dan keluar lapangan. Setelah menerima bola dari pinggir lapangan, aku langsung mengoper bola kepada Fendi. Tapi bek lawan melakukan tackle keras terhadapnya. Free kick  kedua kalinya untuk kami. Kali ini aku maju mengambil tendangan bebas yang berjarak sekitar 25 meter dari kiper lawan.

Terobsesi dengan eksekusi ala Juninho, aku menendang bola dengan dingin. Bola melesat jauh menuju tiang jauh dan ………gol…… kami menang 2-1. Kemudian, pengadil meniup peluit tanda pertandingan berakhir.

Aira dan Rega menghampiri aku di tempat parkir untuk mengucapkan selamat. Dari belakangnnya kulihat Fendi datang.
“Di, kenalin, ini Aira. Pacarku,” ucapnya memperkenalkan Aira.

“Oh kami dah kenal kok,” ucapku sambil berlalu dengan perasaan yang tak jelas. (c)


T#gs Cerpen
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments