Selasa, 26 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Curhat

Di Doa Ibuku, Titip Rindu Buat Ayah

Karya Asun Chandra Sembiring
Minggu, 02 Februari 2014 13:09 WIB
IMLEK itu saatnya bertemu seluruh anggota keluarga. Kawan-kawan, menghadapi Chinese New Year 1565 sibuk dengan cerita abang dan kakaknya pulang dari rantau. Om dan tantenya memilih berkumpul. Lalu minta angpao sama oma dan opa. Tetapi tidak demikian denganku.

Tak ada sanak saudara apalagi kerabat dari ayahku yang dapat kutemui. Kalau dari keluarga ibu, berjejer berbaris. Bahkan, bila usai silaturahim dengan famili, mereka berbondong datang ke kediamanku di Jl Gelas 31 - Sei Putih Tengah, Medan.

Berangkat ke vihara untuk berdoa, aku dan adik-adik mendampingi ibu. Dalam kekhusyukan peribadatan, semua permintaan kupanjatkan termasuk untuk kesehatan dan kesuksesan seluruh orang yang kucinta di tahun Kuda Kayu ini. Dalam doaku, aku pun minta padaNya agar ibuku yang seorang diri membesarkanku dan adik-adikku diberi kekuatan dalam mendidik, mengasuh dan mengantarkan kami menjadi manusia berguna.

***
Aku terlahir dari keluarga kebanyakan. Ibuku, Ah Wie berasal dari Belawan, Sumatera Utara. Perkawinan dengan ayahku, konon, tak direstui keluarga ibuku. Tidak ada cerita lain tentang itu karena bila mencoba mencari tahu lebih jauh, ibuku menghindar.

Suatu kali pernah ada orang yang bercerita tentang ayahku. Katanya, ayahku bernama Alek Sembiring yang lahir dan besar di Batang Serangan, Langkat, Sumatera Utara. Pernah mencoba menyusuri jejak langkahnya ke daerah yang berbatasan dengan air dari Pulau Sumatera tapi hasilnya tak maksimal.

Ada sih keluarga bermarga Sembiring di tempat yang kutuju tapi untuk menjelaskan di mana dan siapa sosok utuh ayahku, masih jauh dari seperti yang kuharapkan. Pernah juga ada kabar, ayahku ada di Sidikalang.

Aku memburu ke arah sana hingga harus meninggalkan Medan berlama-lama. Aku tidak bersekolah karena ketiadaan biaya. Mengisi hari-hariku, ikut kerja di rumah makan. Pernah juga kerja di bengkel tapi tak panjang karena pengetahuan minim.

Meski sudah meninggalkan pekerjaan hingga harus dipecat, hasilnya nol. Ada sih jejaknya tapi untuk memastikan di mana keberadaan ayahku secara utuh, kosong.

Larut dalam ketidakjelasan siapa dan di mana ayahku, pernah kepikiran bahwa — mungkin — ayahku sudah bahagia bersamaNya tapi di mana makamnya.
Sama seperti Imlek yang lalu-lalu, tiap Chinese New Year aku cuma dapat berdoa: di doa ibuku, titip rindu buat ayah! (r9/h)
T#gs Curhat
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments