Selasa, 11 Agu 2020

Cerpen

Bukan Sayang Biasa

Karya : Risda Novita Sari - SMA 2 Rantau Selatan
redaksisib Minggu, 02 Agustus 2020 19:14 WIB
PxHere

Ilustrasi

Waktu berjalan sangat cepat. Rasanya baru pekan lalu meninggalkan sekolah tapi kok sudah masuk semester tiga di bangku kuliah. Kalau di kampus, rasanya waktu lama sekali berjalan. Apalagi yang masuk dosen di luar kategori favorit.

Rasanya mau pulang ke kost saja. Chating sambil memperdalam materi. Tak terasa malam udah menjelang dini hari. Jika tidak dengar ayam berkokok, belum akan menutup laptop. Dunia maya sudah pun sepi tapi masih saja pikiran melambung entah ke mana-mana.

Ke kampus pun dengan mata berat, tubuh letih. Sepertinya kemarin kerja mencuci baju di rumah sebarak. Padahal karena kurang tidur. Jika sudah demikian, rasanya ingin kembali ke kost, tidur.

Pandemi Covid-19 yang membuat kampus lockdown mempertemukan Cici, Messy, Ruth, Dila, Risda, Reni, Melda, Irma, Pratiwi dan Rika di sekolah.

Seperti hampir dua tahun lampau ketika berada di sekolah, penuh canda. Tapi kali ini memang tidak seperti biasa. Sekolah sepi. Meski ada guru tapi siswa tak ada. Meski corona sudah mereda tapi pembelajaran jarak jauh diberlakukan.

Reuni kecil-kecilan pun seperti kurang semarak. Hasrat ingin melihat junioren beraktivitas di kelas, sirna. Seperti kala itu saat upacara bendera, rekan di sekolah rapi-jali dengan putih abu-abu. Anggota Paskibra saja yang putih-putih dengan handuk merah di leher, lengkap dengan sarung tangan dan sepatu hitam mengkilat.

Rika ingat bagaimana ia gemetaran karena rasanya roknya melorot saat di depan tiang bendera. Tiba-tiba tubuhnya jadi seperti limbung. Sesak dan ingin ke kamar kecil. Padahal tadi pagi sengaja tak sarapan bahkan menakar minum tak terlalu banyak.

Begitu Indonesia Raya selesai dialunkan, hatinya plong. Apalagi Paskibra sudah kembali ke posisi semula. Di Pojok kanan barisan guru. Ia langsung undur langkah dan berlari ke WC.

Aneh. Sudah jongkok tapi tak ada yang ke luar. Cepat-cepat Rika ke luar.

“Ada apa denganmu?”

“Ya Allah... ngapain kamu?” Rika terkejut. Sangat terkejut. Kok Riko ada di depan kamar mandi? Bukankah semestinya ia berada di barisan? Upacara kan belum usai?

“Kamu kenapa?” Riko tak peduli dengan keheranan Rika. Dipegangnya tangan Rika, dingin. Ia nekat memegang kening rekan setimnya. “Hangat! Tadi belum sarapan? Kuantar pulang ya...”

Rika menggeleng. Sesungguhnya ia ingin pulang tapi yang ngantar jangan Riko. Ada Ardi atau Samuel yang lebih tampan. Tetapi Riko ngotot.

Ia yang minta izin ke Guru BP tentang kondisi Rika. Ia juga yang minta papanya datang ke sekolah untuk mengantar Rika ke rumah. Gak apa-apa. Membantu kawan dengan ikhlas adalah kewajiban.

Sejak saat itu Rika jadi lebih dekat dengan orangtua Riko. Sama sih. Mungkin ketika muda, orangtua Riko jauh lebih tampan ketimbang anaknya. Tubuhnya memang lebih kecil dari Riko tapi kokohnya... hm atletis.

Samuel tak mau kalah. Tahu Rika sakit, ia orang pertama yang datang mengunjungi sahabatnya. Eh, lagi enak-enaknya cerita dengan Rika, Ardi datang bersama kawan lain.

Sial. Pembicaraan belum sampai ke soal pribadi, sudah diganggu. Kawan-kawan sekelas pun mengejek Samuel sebagai makan di tikungan. Ah, bodoh amat.

Esok ia datang lagi, tapi didahului Riko yang sudah membawa roti dan bunga. Bunga tak dapat dimakan, tapi ibu Rika suka dengan anggrek dan ros prancis yang kelopaknya tebal.

Ibu Rika jadi ikut nimbrung bicara. Pembicaraan terhenti ketika Ardi dan Samuel menyusul tiba.

Sampai ujian akhir, tidak ada kata sepakat pada siapa hati Rika dilabuhkan. Pada Samuel, itulah pilihan utama. Pada Ardi, boleh juga. Hanya saja, Riko yang paling aktif berkomunikasi.

Meski sudah ke Semarang melanjutkan studi, Riko terus komunikasi dengan Rika. Samuel mundur perlahan. Soalnya rada minder karena tidak melanjutkan studi. Ardi pun begitu. Keduanya memilih kerja di kebun, bersama orangtua.

Rika jadi semakin dekat dengan Riko karena pembicaraan soal kuliah. Terus dan terus... ketika kampus lockdown, Riko tak dapat pulang sebab pemerintah tempatnya berdiam mengimbau mahasiswa dari luar kota apalagi luar provinsi, jangan mudik. Cara itu untuk memutus mata rantai perkembangan virus corona.

Tiap hari Riko menghubungi Rika. Hubungan makin dekat. Meski VC tapi sudah memuaskan hati, membunuh rindu yang kian tak tertahan. Ketika tahu kawan-kawan di SMA mudik dan mengunjungi sekolah, Riko iri dengan kebersamaan itu.

Sampai di sekolah, kelompok reuni kecil VC pada Riko. Dari seberang sana, sahut-menyahut kepada guru. Rika bangga juga karena Riko dihujani pujian para guru.

Soalnya Riko satu-satunya alumni yang berhasil menembus universitas ternama dan jajaran terbaik di Tanah Air. Guru BP pun minta pada Rika untuk mendorong Riko meningkatkan prestasi.

“Lho, kenapa saya, Bu?”

Guru BP senyum kecil. Ketika Rika terus mengelak tentang tuduhan adanya rasa istimewa di hatinya pada Riko, ia terpojokkan dengan apa yang disaksikan petugas kebersihan.

“Kami biasa-biasa saja lho, Bu.”

“OB kita bilang, kamu itu dicium Riko waktu di depan WC seusai upacara!”

“Hayooo...” teriak kawan-kawan dalam rombongan reuni kecil.

Guru BP ikut ngakak. (d)
T#gs CerpenSMA 2 Rantau Selatansinar remaja
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments