Selasa, 26 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Bukan Para Penyuka Kegelapan

Karya Mitak Mahendra - SMAN 2 Rantau Selatan
redaksi Minggu, 17 November 2019 15:02 WIB
khazana.republika.co.id
Ilustrasi kegelapan

Fatma memerhatikan perempuan yang melintas di depannya dengan seksama. Dilucutinya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Batinnya berkata-kata. Andai dulu sifatnya tidak demikian, mungkin persahabatan tidak putus. Tetapi, ah... masa lalu biarlah berlalu.

Cepat-cepat ia mengubah wajah ketatnya dengan senyum. Ia ingin mempersembahkan tawa kecil yang sangat indah untuk Meli.
Farma bahkan ingin memanggilnya. Memeluk erat. Mengajak sahabat masa kecilnya, Dewi untuk sama-sama bercanda. Tertawa.
***
Fatma, Meli dan Dewi adalah tiga serangkai yang paling kompak di sekolah. Ke mana saja, selama dalam kegiatan sekolah, ketiganya seperti segitiga sama kaki. Satu dan lainnya menyatu, tak dapat dipisahkan.


Jika ketiganya sudah duduk di satu lokasi, sepertinya dunia ini milik mereka. Ketika larut dalam bahasan apa saja. Mulai dari cowok cakep yang ada di kelas sebelah hingga bagaimana strategi mendekati cowok tajir tersebut.


Meski tanpa skenario, ketiganya mampu mencairkan suasana bila bertemu dengan pria tampan.
Fatma yang mulai. Ia pura-pura es-ka-es-de. Seperti memanggil. Kemudian menjulurkan tangan. Kenalan. Diikuti Meli dengan celotehan riang. Ditingkahi gaya Dewi yang sok akrab. Jika sudah kenal dekat dengan sang cowok, ya sudah... sampai di situ saja.
Ketiganya tidak akan pernah melanjutkan ke hubungan lebih serius. Alasannya, ingin fokus pada pelajaran dan tidak membuka hati untuk pacaran.


"Berteman sajalah," pinta Dewi ketika seorang cowok minta hubungan serius dengannya.
Hal serupa pun berlaku untuk Fatma dan Meli. Karena sikap ketiganya tak mau pacaran, tak sedikit cowok membenci.
"Kok benci? Kan lebih baik berteman daripada pacaran yang ujung-ujungnya putus," tambah Fatma, ketika menjawab seorang cowok dari sekolah tetangga yang minta kepastian padanya.


Tetapi, untuk kali ini kesepakatan tak tertulis itu, dinodai. Tiba-tiba Fatma suka pada Daniel, yang semula menurutnya biasa-biasa saja.


Sebenarnya yang pertama kali kenal dengan Daniel adalah Dewi. Biasalah, begitu kenal, langsung membawanya Daniel dalam pertemuan ketiganya.


Daniel itu tak hanya tampan. Tapi punya perhatian lebih. Misalnya bila melihat lipatan kemeja sekolah Fatma tidak seperti biasanya, ia langsung protes. Uniknya, perhatian itu hanya untuk Fatma.


Perempuan bermata bulat dengan rambut legam itu pun merasakan perhatian lebih Daniel pada dirinya ketimbang dua sahabatnya yang lain. Suer... karena terus diperhatikan demikian, hatinya jadi cair dengan Daniel.


Hanya saja, ia tak berani berkata terus terang. Soalnya, Meli pun sepertinya suka. Tengoklah bila Daniel datang, Meli langsung cari perhatian. Padahal, Daniel datang untuk Fatma.


Yang bikin Fatma meradang, Meli terlihat munafik. Jika ditanya ada hati pada Daniel, langsung membantah. Ia bahkan bersumpah tak akan menyukai pria yang tipenya sama seperti Daniel.


Meski berat, kali ini Fatma tak bisa menahan gejolak hatinya. Saat Daniel mengajak jalan-jalan, ia yang berinisiatif agar perginya berdua saja. Fatma dan Meli tidak perlu ikut.


Karena tidak bertrio, Fatma mencari alasan. Ia mengaku pergi dengan orangtuanya ke rumah famili. Tetapi, karena terus mengutarakan alasan yang sama, Meli dan Dewi jadi curiga.


"Kita ikuti saja langkahnya," usul Meli. Ia ingin mengetahui dengan siapa Fatma pergi. Kan tidak mungkin tiap pergi ke rumah keluarga bersama orangtuanya.


Meli memberanikan diri menelepon orangtua Fatma. Jawaban yang paling mengejutkan diterima Dewi dan Meli. Mama Fatma mengatakan anaknya pergi dengan Daniel. Alasannya, belajar bersama.


Disebabkan merasa dicurangi, persahabatan ketiganya tercerai-berai. Fatma, Dewi dan Meli tak saling teguran.
***
Sampai lulus-lulusan, ketiganya pun tak mau merajut kembali pertemanan. Itulah sebabnya, ketika Dewi melintas, Fatma terkejut.
Tak terasa, tiga tahun tidak bertemu membuat Fatma berubah. Dewi juga sudah berubah. Tubuhnya semakin ideal. Cantiknya, semakin memesona.


Beda dengan dulu yang terlihat kecil. Fatma jadi memerhatikan tubuhnya sendiri. Ah, ternyata aku juga sudah berubah karena semakin tinggi tapi modis.


"Dewiii," teriaknya keras-keras hingga orang-orang di sekitarnya menoleh. "Kamu ke mana aja," lanjutnya sambil memeluk sahabatnya.


Ia sengaja memeluk Dewi erat-erat. Sepertinya selama ini tidak ada sesuatu yang terjadi dengannya. Tetapi, yang diceritakan adalah kandasnya hubungan dengan Daniel.


Dewi sampai terkejut. Ia jadi tak percaya dengan apa yang diceritakan Fatma. Masakan Daniel curang dengan memacari perempuan lain.


"Ya, sudahlah. Hatinya masih sakit kalau cerita soal Daniel," putus Fatma. "Kita cerita lain sajalah," pintanya.
Pertemuan tak sengaja itu pun membuka janji yakni hendak nostalgia bersama Meli. Dari Dewi nomor kontak sahabatnya itu diperoleh dan janji bertemu.


Saat kopi darat, ketiganya sepakat mengubur cerita lalu yang membuat ketiganya terpisah. Fatma merasa, jika karena keegoannya pertemanan tertutup kegelapan, ke depan tidak akan mengulangi lagi. (f)

T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments