Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Curhat Taufiq Subhan - Pasar Cemara Deliserdang

Buat Para Pembenci Cahaya

redaksi Minggu, 17 November 2019 14:56 WIB
viva.co.id
Ilustrasi
Wahai kau pencita kegelapan
mengapa kau ratapi dan
sangat benci matahari
yang pancarkan sinarnya

Ketika status itu kulukis di akun pribadiku, followers bertanya, apa maksud selarik puisi itu. Aku diam saja. Tak merespon. Dalam hati aku berkata-kata; untuk yang mau tahu apa maksud untaian tersebut, silakan merenung. Kontemplasi sendiri.
Apakah rasa benci dapat mengubur kesuksesan, kesuksesan siapa sajalah, yang diraih dengan ikhtiar, doa dan kerja kerasnya. Tentu tidak.

Itu sebabnya, siapapun pribadinya bila ingin kesuksesan, jangan membenci orang lain yang lebih dulu bahagia atas kerja kerasnya. Bukankah kata pepatah, tak ada hasil yang mengkhianati kerja keras?

Aku juga pernah demikian, merindukan diriku seperti orang lain yang sukses. Tetapi tidak langsung membenci orang dimaksud. Lebih baik mendekati, meniru dan minta bimbingan. Mana tahu dengan cara itu dapat sukses juga.

Tetapi, bila langsung membenci, tidak akan mungkin dapat mencontoh. Apalagi sampai dapat bimbingan menjadi sukses. Itu sebabnya, jangan sekali-kali langsung membangun tembok mercu suar bila masih ingin berbaur bersama makhluk di lingkungan.
Seterusnya, jangan sekali-kali membenci, apalagi sampai dendam pada orang lain. Apalagi orang yang sukses. Karena membenci sama dengan menarik jurang untuk diri sendiri. Bila salah melangkah, yang terjatuh dan terjerembab adalah diri sendiri.

Tetapi, masih saja ada yang bertanya. Kepo. Mungkinkah status di atas adalah bagian dari permenunganku. Minimal bagian dari perjalanan hidupku.

Untuk pertanyaan itu, aku kesempingkan. Sama seperti di atas. Aku memilih mendiamkan pertanyaan itu. Jikapun cerita itu adalah bagian kehidupanku, kan tidak harus ditutup. Dikubur dalam-dalam.

Semua orang punya masa lalu. Jika yang lalu digeletakkan begitu saja tanpa dijadikan cermin, maka sia-sialah. Tidak ada gunanya punya masa lalu.

Konsekuensinya, kehidupan masa lalu yang tak cerah mungkin akan berulang kembali. Itulah yang kumaksudkan sangat perlu dengan kehidupan lampau sebagai pijakan melakukan yang terbaik.
Permenunganku itu kututup dengan status lainnya:

Mengapa kaupaksa
padamkan api yang ada
di sinar matahari
dengan jilatan lidahmu (f)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments