Rabu, 19 Jun 2019

Bram Silalahi Ubah Corat-coret Jadi Sketsa Syair

admin Minggu, 28 April 2019 16:46 WIB
Bram Silalahi
Jakarta (SIB) -Aksi corat-coret pasca UNBK mengusik rasa Abraham Partogi Silalahi. Saat menetap di ibu kota Sumut ketika menyelesaikan pendidikan di SMA Methodist 1 Medan, aksi 'perpisahan' dengan seragam putih abu-abu sudah menjadi bagian rutinitas tapi pria kelahiran Medan, 20 April 2000 tersebut tidak melakukannya. Bersama rekan dekatnya, rocker remaja Josua Tampubolon, Bram mengubah tindakan 'negatif' menjadi produktif.

Ia mengubahnya jadi sketsa syair. "Jika hendak mengubah ritual corat-coret, harus dicarikan kegiatan positif produktif dalam bentuk apa? Pihak sekolah dan orangtua mengambil bagian," ujar mahasiswa Politeknik Keuangan Negara (PKN) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Bintaro, Tangerang Selatan, Banten tersebut melalui pesan singkat.

Menurutnya, selain harus dicarikan alternatif mengganti kegiatan corat-coret, alangkah baik dibimbing sejak awal. Misalnya, ketika siswa masuk ke kelas di awal pelajaran baru, langsung diingatkan bahwa nanti di akhir semester, tidak ada corat-coret. Apalagi sampai konvoi di jalanan merayakan hari terakhir di sekolah.

Bram mengusulkan, setelah UNBK berakhir, pihak sekolah idealnya menggelar kegiatan dengan melibatkan siswa secara keseluruhan. Seperti menampilkan kegiatan ekstra kurikuler sebagai acara 'perpisahan' dengan uniform.

Cara demikian, menurutnya, justru lebih berkesan karena meninggalkan kenangan dalam.

Menunjuk pengalaman saat sekolah di Medan, putra semata wayang pasangan novelis Ls Drs Naurat Silalahi - Cerolina Sintauli Simanjuntak itu melakukan dengan kegiatan bermusik bersama rekan setim.

Dalam gangnya, Bram menggebuk drum. Mahir main gitar dan piano, pria yang bercita-cita menjadi auditor negara tersebut mengangkat pengalaman corat-coret rekan seangkatannya menjadi sketsa syair.

Syair-syair indah dari lagu top dunia menjadi inspirasinya dalam membuat sketsa. Seperti 'You Raise Me Up' Josh Groban. Keselaluannya membuat rancangan syair itu menjadikannya peka menangkap makna tersirat dari satu lagu.

Seperti 'Great is Thy Faithfulness' yang diciptakan Thomas Chisholm. Karya dari pria kelahiran Kentucky, Amerika Serikat itu justru digubah Bram menjadi aura positif dalam memberi semangat papanya ketika didera sakit berkepanjangan. "Aku ingin papa pun seperti lagu itu, 'Great is Thy Faithfulness'," ujar Bram, seusai membawakan lagu dimaksud ketika menyukuri genap 51 tahun usia mamanya. "Tetapi, semua manusia harus mengandalkanNya!"

Bram menyitir syair dari 'Bukan Dengan Kekuatanku' yang membuatnya tersadar sebagai manusia harus tunduk dan bertuhankan padaNya. (R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments