Rabu, 08 Jul 2020
PalasBappeda

Antara Matahari, Bulan dan Kasih Sayang

Karya Muhammad Dwiky Riza - SMA 2 Rantau Selatan
Minggu, 09 Februari 2020 19:38 WIB
pixabay.com

Ilustrasi

Malam semakin gelap. Beku kian menerkam. Ridho semakin melipat tubuhnya yang letih. Sejak siang terus bekerja tanpa istirahat. Sampai di rumah, langsung melemparkan badannya yang sudah seperti kain buruk. Bau busuk.

Meski penat tapi ia tak dapat tidur. Bila sudah di rumah, pikirannya terus tertuju pada orangtuanya yang sudah menghadapNya.
Sudah enam tahun tapi rasanya masih seperti kemarin. Ketika itu, hampir tiap malam menjelang tidur, ayah-ibu selalu menekankan bahwa hidup harus berjuang secara benar. Jangan sekalipun menghaki harta orang lain. Apalagi sampai menghilangkan sumber pendapatan orang.

Sebelum lelap, ayah dan ibu bergantian berdendang pelan. Kadang membaca kitab suci. Lamat-lamat suara orang yang dicintai Ridho hilang karena ia tertidur. Pulas.

Pagi hari ketika sudah terbangun, tak ada lagi ayah-ibu. Ayah sudah pergi kerja. Ibu sudah sibuk di dapur. Kenangan sangat indah yang tak akan terulang lagi.

Sekarang, pesan orangtuanya terbukti. Hidup adalah perjuangan. Artinya harus terus berjuang. Kapanpun harus bekerja tapi harus secara halal. Maksudnya, dalam berusaha tetap harus ingatNya.

Sepanjang malam Ridho asyik-masuk dalam lamunan. Ingin bertemu dengan ayah-ibu. Bertemu sih, tapi cuma dalam mimpi. Ia terbangun karena terbiasa bangun pagi.

Badan masih terasa pegal tapi harus kembali kerja. Persiapan pergi, sarapan sudah disiapkan neneknya tapi hanya teh manis yang dikonsumsinya.

“Ntar kamu sakit,” rajuk nenek. “Kalau kamu sakit, nenek sama siapa tinggal? Hayo, makan. Sedikit pun okelah!”
Ridho kembali duduk di depan meja. Pelan-pelan dikunyahkan nasi goreng. Sama seperti ketika ibu masih ada.

Tiap pagi disediakan nasi goreng. Ingin ia sekali-sekali menikmati keju dan roti tapi ekonomi keluarga tidak memungkinkan.
Ayah-ibunya ingin Ridho hidup mewah dengan segudang ilmu. Itulah sebabnya orangtuanya lebih memrioritaskan pendidikan. Jika untuk studi, pasti diusahakan.

Sekarang, posisi ayah-ibu beralih padanya. Ridho harus mengubur mimpinya kuliah karena bekerja. Hasil keringatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya bersama sang nenek dan seorang adik.

Ia bersyukur disupor kawan-kawannya. Hanya saja, jika malam Minggu tiba, ia seperti kehilangan gairah. Rekan-rekan sibuk pacaran, Ridho sendirian. Ada yang sudah menikah.

Ingin rasanya seperti itu tapi ia tak berani. Berulang kali neneknya mendorongnya pacaran tapi Ridho terus ragu-ragu.
“Sayang lho itumu hanya untuk pipis,” ejek kawannya. “Atau sudah hilang rasa sama Tetet? Pantaslah jomblo terus!”
Ridho tertawa-tawa sendiri. Kenapalah harus diingatkan pada Tetet? Perempuan spesial di hatinya itu meninggalkan Ridho karena dinilainya lelaki tersebut lebih menomorsatukan keluarga ketimbang dirinya. Padahal, sebagai pacara, Tetet ingin diposisikan di tempat terdahulu,

Pasalnya ketika Ridho terlambat datang. Waktu itu malam Minggu. Sudah janji nonton tapi karena nenek minta dibelikan rujak, ia datang molor sampai hampir sejam.
“Apa nenek ngidam?” marah Tetet. Ia berpikir, kalau minta rujak kan tidak harus menelantarkan janji nonton. Beli rujak kan bisa besok-besok.

Meski Ridho sudah minta maaf tapi Tetat tetap marah. Soalnya, sudah sering kali Ridho terlambat hanya karena mengurus neneknya. Ridho tahu hal tersebut membuat Tetet jengkel tapi meskinya ia paham bahwa nenek adalah pengganti orangtua Ridho. Karena sama-sama keras, Ridho memilih mundur.

Prinsipnya kalau jodoh tak akan ke mana. Tetapi, Tetet kadung diambil orang lain. Yang jadi cowoknya tak lain rekan Ridho. Meski sakit, ia ikhlaskan karena prinsipnya tadi.

Sekarang Tetet sudah joblo. Ia dengan kekasihnya selingkuh dengan perempuan pendatang. Ridho sudah memrediksi hubungan mantannya dengan rekannya tak panjang. Soalnya ia tahu persis Ronald itu playboy.
Ketika kabar putus diterimanya, Ridho langsung menghubungi Tetet. Menyabar-nyabarkan. Ia pula yang membawa Tetet coklat dan anggur kegemaran.

Tetet berpikir Ridho ingin balikan. Ia jadi agresif pada Ridho. Apalagi ingin menunjukkan pada mantannya bahwa dirinya cantik, Jadi rebutan pria tampan.

Ia berinisiatif mengajak Ridho jalan-jalan dan memaksa nginap di rumahnya. Soalnya, wkatu itu, orangtua Tetet sedang ke luar kota.
Yang tinggal hanya pembantu dan sekuriti. Ridho mengikuti. Ia menemani Tetet hingga larut malam. Berduaan nonton video di ruang tamu. Dari ruang tamu ke kamar Tetet yang fasilitasnya seperti bintang lima.
Tetapi ia tak mau nginap. Ridho memikirkan nenek dan adiknya. Meski malam Minggu hingga paginya tidak sarapan dan mengantar adik ke sekolah tapi Ridho ingin menunjukkan pada kelaurganya sebagai pria bertanggung jawab. Karena sikapnya itu membuat Tetet marah.

“Aku juga butuh perlindunganmu,” berangnya. “Kau tahu kan, aku sendiri di rumah!’
“Tapi kamu kan dijaga bodyguard!” bujuknya. “Kasihan nenek. Besok aku ke mari lagi!”
“Jemput saja nenek. Tidur di sini!”

“Nenek gak betah tidur di rumah orang lain. Aku sudah pernah menawarinya tapi ditolaknya!”
Tetet memberanikan diri. Diajaknya nenek tidur di rumahnya. Entah kenapa, nenek mau. Tapi Ridho masih berpikir, haruskah menjalin kasih yang terputus? Bukankah sudah janji sama almarhum orangtua untuk mendahulukan keluarga? (c)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments