Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran
  • Home
  • Sinar Remaja
  • Agustinus Lebangun Baktikan Hidup untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Agustinus Lebangun Baktikan Hidup untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Minggu, 23 Februari 2014 12:41 WIB
SIB/Dok
Agustinus Boly Lebangun bersama penari Rumba-rumba dari Papua — Fani, Tirsa Ambat, Lutgardis, Karmila — yang memesona dan warga SLB C Abdi Kasih.
Medan (SIB)- SMA Swasta Santo Thomas 3 Medan menggelar pesta Valentine’s Day di kompleks sekolah yang berada di Jalan Jend Gatot Subroto Gg Banteng 7 Medan, Jumat, (14/2).

Ragam kesenian ditampilkan, tapi yang paling menyedot perhatian adalah tampilkan tim kesenian dari Sekolah Luar Biasa (SLB) C Abdi Kasih Jalan Rawe 4 - Psr 6 Martubung, Medan.

Meski tidak sesempurna rekan-rekan remaja namun kelompok berkebutuhan khusus itu tampil maksimal. Lihatlah Tirsa Ambat yang bertubuh tambun. Meski menyandang kekurangan namun mampu mengundang tepuk. Ada puluhan anak lain yang terdiri dari tunagrahita, downsindrom dan autis.

Dari sedikit pendamping kelompok berkebutuhan khusus, ada Agustinus Boly Lebangun yang membaktikan diri untuk memandirikan 90-an siswa SLB C Abdi Kasih tersebut. “Saya sudah bertekad, inilah keluarga. Suka duka, tapi tak ada duka jika bersama mereka, dilalui. Apalagi saya seorang diri di sini,” tandas pria kelahiran Lembata, Flores pada 29 Agustus 1991.

Putra pasangan Stanis Temada Lebangun - Rosalia Ara itu tak membayangkan betapa nikmat menjadi pendamping kelompok berkebutuhan khusus. “Mereka itu jauh lebih ikhlas dalam berteman, apalagi berkeluarga,” ujarnya. “Kesimpulannya, kelompok berkebutuhan khusus ini jauh lebih sempurna dari kita,” tambah pembina SLB C Abdi Kasih Fr Tasih CMM.

***
Agustinus menimba ilmu di SDN Wangatoa, berlanjut di SMPN 1 Nubatukan dan di SMK Ile Lewotolog. Tamat sekolah, saat rekan sebayanya fokus cari pekerjaan sebagai pegawai negeri, Agustinus justru bulat tekad menjadi pendamping kelompok berkebutuhan khusus lewat fasilitasi Fr Vincentcius Gala di tahun 2011.

Membulatkan pengabdian, Agustinus meninggalkan kampung halamannya. Lingkungan SLB C Abdi Kasih dijadikan seperti rumah tinggal sendiri. Bersama kelompok berkebutuhan khusus itu Agustinus sosialisasi.

“Kami bertani, beternak, prakarya, doorsmer dan lainnya yang dapat menghasilkan ekonomi di lingkungan sekolah,” tandasnya sambil mengatakan lewat kerja sama dengan Singapura International Foundation semakin mempercepat pemandirian mereka yang berada di asrama SLB C Abdi Kasih.

Ketika menampilkan kesenian — bersama para pendamping lain seperti Yustinus Sukisnu SPd, Fr Tasih CMM, Yuhanna Ganda guru TKLB, Ika Siregar dan Desalia —  siswa seperti memiliki indera lengkap. “Itu buktinya bahwa mereka yang punya kebutuhan khusus justru mampu memberi yang terbaik,” tandas Agustinus.

Guru Agama SMA ST Thomas 3 Franciscus Sihombing mengaku. Berdasarkan pengalaman mendamping tunagrahita, yang didapat adalah kesulitan. “Tapi keinginan yang tak pernah mati adalah adalah pengharapan hidup dari kelompok berkebutuhan khusus!”

Kepala Sekolah SMA St Thomas 3 Medan Drs Michael Muda Ginting MSi mengatakan adalah hal terpuji berbaur dengan kelompok berkebutuhan khusus. untuk berbagi kasih guna melatih dan membuktikan bahwa siswa di sini harus punya karakter lebih dalam kualitas.

“Berkarakter lebih itu tak hanya kata-kata tapi dalam pikiran dan perbuatan. Dengan berbaur dan tampil dalam satu pentas dengan anak-anak berkebutuhan khusus telah terjadi sinerjitas dan saling tukar pengalaman,” tandas Michael Ginting. (R9/ r)





T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments