Jumat, 29 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

CERPEN

Apakah Cinta Butuh Rekomendasi?

karya Tiarda Simarmata - Lubukpakam, Deliserdang
redaksisib Minggu, 19 Januari 2020 18:38 WIB
IDNTimes
Ilustrasi
"Cowok yang kayak mana lagi yang cocok di hatimu? Semua gak pantas. Ntar jadi perawan tualah kau," kecam Naina pada Nana.
Entah sudah berapa banyak pria dikenalkannya pada Nana tapi selalu ngadat. Kurang tampan apa lagi si Eko namun di hati Nana pria kaya itu terlalu di atas. Ketika dikenalkan pada Alex, yang tak sekadar tampan, tapi pintar, pun ditolak dengan alasan terlalu lebay. Sama juga, ketika Bima dijodoh-jodohkan padanya, Nana bilang gak suka sama lelaki suka hiburan.
Terakhir, Naina mengenalkan Nana pada Miko. Pria kesepuluh itu pun ditolaknya dengan alasan yang dinilai dibuat-buat.
Jujur, Naina sebenarnya suka sama Bima tapi anak pejabat tersebut lebih memilih Nana. Nana itu tak sekadar cantik. Hampir semua yang ideal ada padanya.
Jika cantik itu relatif, maka Nana mendekati sempurna. Tutur bahasanya menggoda. Adabnya terpuji. Dari keluarga terpandang.
"Sementara, biarlah aku begini, Nai," ujarnya sambil menghela napas dalam-dalam. Dari tarikan itu sepertinya ia menyimpan perasaan yang sulit diungkapkan.
"Kalau aku jadi kau, aku malu. Perempuan secantikmu, tak ada pacar. Apa kata dunia?"
"Mungkin sudah nasibkulah,"
"Wkwkwkwk... milenial kok pasrah sama nasib. Makanya kau itu ... eh, jangan-jangan kau sudah mati rasa ya!"
Duh, Nana spontan terdiam. Baru kali inilah Naina berkata yang membuatnya terpukul. Dalam kali ucapan tersebut. Jantungnya saja hampir copot mendengarnya. Tetapi, sesungguhnya Naina benar, Nana sudah tidak terpikir mengenai cowok.
Dulu, ada yang menempel di hatinya. Orangnya biasa-biasa saja. Jangankan dibandingkan dengan Bima, sama Alex saja tidak imbang. Hanya saja, Tian melebihi semuanya.
Tian suaranya merdu. Kalau berkidung, menusuk sampai ke hati. Nyanyiannya seperti malaikat surga. Tian juga punya perhatian lebih dari pria-pria lain.
Tiap hari selepas sore, tak pernah lupa mengingatkan Nana untuk persiapan makan malam dan belajar. Saban pagi, tak pernah alpa mengingatkan Nana untuk menjalani Saat Teduh. Di ujung sana, dari smartphonenya, Tian bernyanyi menutup doa yang dilakukan Nana sebelum memulai aktivitasnya.
Pertemuan dengan Tian bukan di gereja tapi di penjara. Kala itu Nana mendampingi kawannya yang bezuk papanya di lembaga pemasyarakatan. Papa sahabatnya itu dihukum karena terbukti korupsi.
Tian merupakan tim rohani yang melayani warga binaan. Terpaut hatinya pada Tian karena menikmati suara pria suka senyum itu. Tian semula menduga Nana adalah putri narapidana korupsi itu.
Ia menasihati Nana dengan nats Alkitab. Setelah panjang lebar cerita, Nana baru bilang bahwa orangtuanya ada di rumah. Ia hanya mendampingi kawannya.
"Maaf," lanjut Tian. "Berarti hatimu itu lebih mulia dari aku. Kau menyemangati kawanmu. Kalau aku, emang tugasku."
Dari sana, komunikasi semakin intens. Tian rajin kali menghubungi Nana. Isi komunikasinya lebih dominan soal Alkitab dan kehidupan beriman. Nana jadi terpesona bahkan tergila pada Tian.
Hidupnya jadi penuh bahagia. Selama ini, tidak ada anjuran keharusan dari orangtuanya untuk ke gereja. Tidak pernah ajakan untuk pendalaman Alkitab. Bersama Tian, religinya makin matang.
Yang bikin sakit hati, banyak perempuan suka pada Tian. Baik itu dari kalangan kampus maupun dunia entertainment. Soalnya, sepekan tiga kali ia tampil di kafe paling eksklusif di kota ini. Emang, selain bersuara merdu, Tian jago main piano.
Meski selalu dibuat kesal karena Tian terlalu ramah sama cewek, tapi Nana bertahan. Soalnya, Tian janji, tak akan goyah pada perempuan lain selama Nana tekun memujiNya.
Nana pun senantiasa ikut bila Tian ngamen di kafe. Kecemburuannya perlahan terkikis karena pada publik penggemarnya, Tian selalu mengenalkan Nana. Saat-saat tertentu, Tian membawakan lagu istimewa untuk perempuan istimewa.
Tahu Tian bekerja sebagai artis, orangtua Nana marah. Papa-mama, apalagi abangnya, tak suka Nana berteman dengan biduan. Benci pada pria penyanyi. Apalagi Tian datang dari keluarga biasa-biasa.
"Kamu itu cantik. Anak keluarga terpandang. Apalah kata orang bila mereka tahu pacarmu penyanyi bar. Dekat dengan maksiat," marah mamanya.
"Mama kok bilang begitu?"
"Mama trauma sama pria yang suka ke bar. Tengoklah papamu. Gonta-ganti perempuan. Hartanya tak jadi jaminan mama bahagia," paparnya.
Nana jadi sedih. Sedih atas cap yang diberikan pada Tian. Sedih karena mamanya selalu bertengkar dengan papanya sebab pria yang dibanggakan tersebut suka pesta bahkan mabuk di diskotek.
Tiap Saat Teduh, Nana menitikkan air mata. Apalagi jika Minggu pagi. Mamanya memaki-maki papanya. Dalam doanya, ia ingin kedamaian. Nana juga berdoa kiranya Tian tidak seperti papanya.
Tetapi mamanya bersikukuh, tidak boleh pacaran sama penyanyi. Tidak boleh sama Tian. Sekali tidak, selamanya tidak. Mamanya pun sudah langsung mendatangi Tian agar menjauhi anaknya.
Nana bingung. Mempertahankan hubungan dengan Tian, berarti melawan orangtua. Mengikuti kemauan mama dan abangnya, berarti putus dari Tian.
Tian tak berkomentar. Semua diserahkannya pada Nana. "Apapun sikap dan keputusanmu, saya menerima. Seperti saya menerima Yesus sebagai penyelamatku, saya menerima apapun keputusanmu, Nana!"
Nana tak dapat berkata apapun. Saking harunya, dipeluknya Tian sekerasnya. Ia menangis keras.
"Tuhan Yesusku, berilah yang terbaik buat kami," doa Tian sambil membelai kepala Nana. Tian melepas pelukannya dan bertelut di kaki Nana. "Aku janji terus menyayangimu!"
Belum selesai merangkul, tiba-tiba mama Nana datang dan menarik dengan kasar putrinya. Perempuan itu bahkan meludahi Tian. "Kupenjarakan kau ya. Sekali lagi kauganggu anakku, kupenjarakan kau!"
Tian diam saja. Ia tersenyum. Tapi air matanya bercucuran karena Nana menangis tak henti.
Sejak saat itu, Tian mohon pamit pada Nana. Entah pergi ke mana tapi Tian tak ada lagi di kota itu. Nana kehilangan. Pintu hatinya seperti tertutup. Pikirannya tak pernah pudar dari Tian. Tiap membuka Alkitab, Tian ada di lembar buku suci tersebut. (q)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments