Rabu, 23 Okt 2019
  • Home
  • Serbaneka
  • Bertahan Hidup Hanya dengan Rp 100 Ribu untuk Makan Selama Setahun

Bertahan Hidup Hanya dengan Rp 100 Ribu untuk Makan Selama Setahun

admin Minggu, 28 April 2019 16:52 WIB
Singapura (SIB) -Di tengah tingginya tuntutan kebutuhan akan pangan yang selalu meningkat, harga bahan pokok yang dibutuhkan pun turut melonjak. Dalam satu bulan saja paling tidak seseorang membutuhkan lebih dari Rp 100 ribu untuk memenuhi kebutuhan pangan saja. Namun pernahkah kamu membayangkan bagaimana jika uang Rp 100 ribu tersebut cukup untuk memenuhi makan selama satu tahun? Rasanya memang tidak mungkin, namun pria asal Singapura ini berhasil membuktikannya.

Daniel Tay, hanya menghabiskan 8 US Dollar atau setara dengan Rp 100 ribu sepanjang tahun 2017 untuk memenuhi keperluan makannya. Dalam cleo.com, pria asal Singapura ini menceritakan bagaimana gaya hidupnya selama ini. Daniel adalah seorang 'penyelam sampah', dia mencari barang-barang bekas untuk kebutuhannya, termasuk dalam hal makanan. Daniel juga merupakan penganut freegan. Kaum freegan adalah mereka yang prihatin dengan kenyataan bahwa telah terjadi pemborosan yang dahsyat demi sebuah gaya hidup. Pria berusia 38 tahun tersebut mendefinisikan sendiri freegan menurutnya. "Seorang freegan adalah orang yang menghabiskan sangat sedikit uang. Dia mencoba mendapatkan semuanya secara gratis," katanya. Setiap bulan, Daniel hanya mengeluarkan uang untuk kebutuhan seperti tagihan, investasi, dan hipotek. Bagaimana semua dimulai? Daniel bekerja sebagai perencana keuangan. Kesempatan bertemu dengan orang asing pada November 2016 mengubah hidupnya. Dalam sebuah acara Honesty Circles, orang-orang membicarakan tentang uang, dia akhirnya bertemu dengan pria bernama Colin.

"Sekitar 20 hingga 30 dari kami berbicara tentang menyerahkan pembayaran gaji yang stabil untuk mengejar hasrat kami." "Tapi ketika giliran Colin, dia mengatakan 'Saya di akhir 40-an, sudah pensiun dan hanya menghabiskan 100 US Dollar sebulan." "Saya tidak perlu khawatir tentang uang karena saya mendapatkan semuanya secara gratis. Begitu kata Colin," tutur Daniel.

Colin menghabiskan uang 100 US Dollar dalam sebulan untuk membayar tagihan. Daniel pun keheranan, bagaimana Colin dapat melakukannya. Sementara dirinya yang perencana keuangan saja minimal harus mengeluarkan 1.500 US Dollar sebulan hidup di Singapura.

Colin telah hidup sebagai freegan sebelumnya selama dua tahun. Colin telah mempelajari freegan dari internet. Dia menyelami sampah di toko dan supermarket, dan mengumpulkan makanan yang akan dibuang oleh tetangganya.

Setelah bertukar pikiran dengan Colin, Daniel pun bersemangat untuk mencoba gaya hidupnya. Semua rencana Daniel berjalan jauh lebih baik dari yang diharapkan.

Tetangga-tetangganya dengan senang hati memberinya makanan yang seharusnya mereka buang. Bahkan mereka berterimakasih pada Daniel karena menyelamatkan mereka dari pemborosan. Para tetangga bahkan menaruh langsung makanan yang tidak mereka inginkan di depan pintu rumah Daniel setiap hari. "Itu belum berhenti sejak itu. Saya bangun untuk makan di luar pintu saya setiap pagi," katanya. Lebih dari itu, Daniel merasa hubungannya dengan para tetangganya juga semakin dekat. Dia juga mampu mengumpulkan begitu banyak buah dan sayuran yang dapat dimakan. hingga memenuhi lemari esnya. Saking banyaknya, Daniel juga membagikan lagi ke para tetangganya yang lain. Daniel juga tidak mengeluarkan uang untuk kebutuhannya yang lain seperti mandi. Dia mencari sisa-sisa sabun dan sampo di tempat sampah (kebiasaan orang membuang barang-barang ini meskipun masih sisa setengah). Daniel juga menemukan tas, sepatu, peralatan rumah tangga lain, bahkan konsol PlayStation 3 yang masih berfungsi.
Banyaknya barang-barang yang dia temukan membuat masalah lain, penimbunan. Namun, barang-barang yang tertimbun ini malah membuat komunitas freegan dapat beramal.

Mereka telah menyumbangkan banyak buah dan sayuran ke dapur sup lokal untuk membuat makanan gratis bagi mereka yang bersedia.

Para donor juga selalu memastikan mereka tahu darimana bahan makanan ini berasal sebelumnya.

"Orang menjadi freegans karena tiga alasan: mereka ingin menghemat uang, mereka ingin menyelamatkan orang lain atau mereka ingin menyelamatkan bumi," katanya.

Sementara motivasi Daniel awalnya adalah untuk mendapatkan barang gratis dan menghemat uang.

Tapi, sekarang Daniel tidak lagi khawatir tentang uang, dia peduli tentang bagaimana mengurangi pemborosan.

Daniel mengambil makna dari gaya hidup yang dia jalani.

Bukan sekedar sesuatu yang murah yang dia cari, bukan juga barang yang gratis agar dirinya tidak perlu bekerja.

Baginya, menyimpan uang mengungkin dirinya untuk membeli waktu dan kebebasan, yang menurutnya adalah "hal yang paling mahal".

Dia ingin dapat menjalani hidup dengan melakukan hal-hal yang dia inginkan, termasuk mencoba hal-hal baru, dan mengelola komunitas freegan lokalnya. (grid/d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments