Minggu, 08 Des 2019
  • Home
  • Sekolah
  • Meningkatkan Literasi Matematika Peserta Did

Meningkatkan Literasi Matematika Peserta Did

admin Rabu, 11 September 2019 13:33 WIB
Apa itu literasi Matematika?
Apakah sama dengan membaca buku Matematika?
Bagaimana membaca buku yang hanya bertuliskan angka-angka?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul dalam benak kita ketika mendengar literasi Matematika. Hal ini karena selama ini yang sering kita dengar program literasi adalah program untuk meluangkan waktu membaca buku 15 menit sampai 20 menit dalam satu hari. Program ini telah di jalankan di sekolah maupun di desa-desa, sehingga kita banyak mengenal program perpustakaan desa, pojok baca di dalam kelas dan menjamurnya rumah-rumah baca. Ini membuktikan program pemerintah dalam Gerakan Literasi Nasional berjalan sesuai dengan yang diamanatkan, walaupun masih banyak kita jumpai permasalahan-permasalahan dalam penerapannya di lapangan. Namun gerakan membaca hanya salah satu dari program literasi yaitu program literasi baca tulis.

Padahal program literasi tidaklah sesederhana itu, ada 6 jenis program literasi yang sedang digalakkan pemerintah yaitu 1) literasi baca-tulis, 2) literasi numerik (literasi Matematika), 3) literasi sains, 4) literasi teknologi informasi dan komunikasi, 5) literasi finansisal, 6) literasi budaya dan kewarganegaraan. Keenam literasi ini disebut literasi dasar yang merupakan salah satu dari 3 kecakapan yang harus dimiliki oleh seorang anak menghadapi tantangan abad 21 atau yang pemerintah sebutkan sebagai kecakapan abad 21.

Di dalam artikel ini lebih lanjut akan dijelaskan tentang literasi Matematika. Hal ini perlu dibahas karena kemampuan literasi Matematika kita masih jauh tertinggal dari negara-negara lain. Menurut Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2015, peserta didik Indonesia belum menunjukkan prestasi memuaskan. Kemampuan Matematika peserta didik Indonesia, hanya mampu menempati peringkat 45 dari 50 negara, dengan pencapaian skor 397 dan masih di bawah skor rata-rata internasional, yaitu 500.

Untuk itu perlu banyak usaha yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan literasi Matematika siswa. Salah satu program yang dilakukan adalah dalam bentuk pengabdian yang memprogramkan kegiatan pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) berbantuan Metode Resitasi, Token Ekonomi dan Dukungan Sosial Keluarga. Program ini merupakan salah satu dari kegiatan tugas pokok dosen melalui program hibah bersaing Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang tertuang dalam program PKM (Program Kemitraan Masyarakat) dan telah bekerjasama dengan SMP Negeri 3 Satu Atap Aek Natas, Labuhanbatu.

Pada pelaksanaan program ini dilakukan sebanyak 24 kali pertemuan, yaitu 18x pertemuan untuk kegiatan pembelajaran, 2x pertemuan untuk pretes, 2x pertemuan untuk postes, 2x pertemuan untuk psikoedukasi pada awal dan akhir kegiatan. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilakukan selama lebih kurang 3 minggu yakni pada hari Senin s/d Sabtu dari pukul 10.00 s/d 12.30 wib.
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan Pendekatan Matematika Realistik dengan berbantuan metode resitasi dan metode token ekonomi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan selama 18 pertemuan. Sebelum itu terlebih dahulu dilakukan pretes. Setelah itu dilakukan kemudian dilaksanakan postes. Pelaksanaan diawali dengan memberikan materi pembelajaran menggunakan Pendekatan Matematika Realistik. Pada saat pembelajaran diberikan disesuaikan dengan indikator dari literasi Matematika yaitu 1) Mathematical thinking and reasoning. 2) Mathematical argumentation. 3) Mathematical communication. 4) Modelling. 5) Problem solving. 6) Representation. 7) Symbol dan 8) Tools. Jadwal kegiatan pembelajaran terbagi atas 1) 10 Menit di awal adalah pengumuman jumlah token (bintang) yang diperoleh siswa. 2) 15 Menit siswa diminta untuk membaca materi. 3) 15 Menit mengerjakan tugas soal pada buku latihan soal. 4) 1 Jam 15 menit adalah pelaksanaan pembelajaran dengan PMR. 5) 5 Menit terakhir, pengumuman tentang tugas yang akan dikerjakan siswa di rumah yang terdapat pada buku "self control".

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan PMR, pertama kali mentor memberikan materi sesuai dengan indikator yang hendak dicapai, kemudian dilanjutkan dengan mengajak siswa untuk mengerjakan soal yang disusun mentor berdasarkan kondisi yang ada di lingkungan sekolah. Misalnya pada materi barisan dan deret siswa diminta untuk mencari penyelesaian soal tentang menghitung jumlah asbes yang dibutuhkan seorang tukang berdasarkan jumlah kelas yang hendak dibangun. Setelah selesai mengerjakan soal, siswa diminta untuk memberikan argumentasi dari hasil penyelesaian soal yang telah diberikan. Selama pelaksanaan pembahasan soal, siswa diajak untuk berdiskusi, untuk memberikan penilaian apakah argumentasi yang diberikan teman mereka benar atau salah. Di akhir pelaksanaan PMR mentor memberikan materi tambahan untuk membenarkan argumentasi atau indikator yang lain sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Pada kegiatan pembelajaran, peneliti juga menerapkan metode resitasi yaitu pemberian tugas. Siswa diminta mengerjakan tugas-tugas yang disusun oleh peneliti. Kemudian siswa yang mampu menyelesaikan tugas akan mendapatkan "bintang" (token ekonomi) yang akan dikoleksi siswa dengan menempelkan "bintang " di lembar kerja. Di akhir pembelajaran setelah 18x pertemuan, seluruh token "bintang" yang dikoleksi siswa akan ditukarkan dengan hadiah-hadiah yang telah disusun oleh peneliti dan siswa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Hadiah-hadiah token yang diberikan adalah alat-alat sekolah atau kebutuhan siswa yang tidak melebihi dari Rp. 50.000 dan siswa yang mampu mengumpulkan hingga 100 bintang akan mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke kota Medan (Ibu Kota Provinsi) misalnya, dan siswa umumnya belum pernah berkunjung ke Kota Medan.

Pemberian hadiah memang sudah sering dilakukan orangtua untuk meningkatkan minat belajar anak. Tetapi perbedaan pemberian hadiah dan prinsip token ekonomi adalah jika pada pemberian hadiah anak akan mendapatkan langsung hadiah yang dia dapatkan ketika berhasil melakukan apa yang diminta, sedangkan pada pengumpulan token, anak harus berusaha untuk mengumpulkan token sesuai dengan hadiah yang mereka inginkan. Hal ini membuat anak lebih berusaha untuk memperoleh sesuatu dan biaya yang dipergunakan akan lebih murah daripada langsung mendapatkan hadiah.

Diharapkan dengan menggunakan prinsip token ekonomi, pada saat anak berusaha untuk mengumpulkan token perilaku anak akan terbentuk karena sudah menjadi kebiasaan. Berdasarkan pelaksanaan pengabdian ditemukan bahwa penerapan pembelajaran dengan PMR berbantuan metode resitasi beserta token ekonomi tak akan berhasil jika tidak ada dukungan sosial keluarga yang menguatkan dan mengingatkan anak untuk terus berusaha dan melakukan pengulangan pembelajaran di rumah. Anak-anak yang memiliki dukungan sosial keluarga, lebih meningkat kemampuan literasi Matematikanya dibandingkan anak-anak yang kurang mendapat dukungan sosial keluarga walaupun di dalam kelas anak mampu untuk mengerjakan soal matematika namun ketika di rumah anak hampir tidak mengerjakan soal-soal yang seharusnya mereka kerjakan di rumah. (Penulis adalah dosen di Universitas Labuhanbatu/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments