Senin, 09 Des 2019
  • Home
  • Profil
  • dr. Terawan Agus Putranto, Ahli 'Cuci Otak'Menjadi Menteri Kesehatan
  • Home
  • Profil
  • dr. Terawan Agus Putranto, Ahli 'Cuci Otak'Menjadi Menteri Kesehatan

dr. Terawan Agus Putranto, Ahli 'Cuci Otak'Menjadi Menteri Kesehatan

redaksi Minggu, 10 November 2019 17:43 WIB
Katadata.com
dr Terawan Agus Putranto

dr. Terawan Agus Putranto sangat terkenal sebagai dokter dengan metode 'Cuci Otak' untuk pasien stroke. Ia sudah melayani pasien hingga puluhan ribu melalui metodenya ini. Namun metodenya ini dianggap kontroversi oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sehingga membuat ia pernah dipecat dari IDI.


dr. Terawan diketahui memiliki langganan pasien pejabat serta para artis terkenal. Sebelum ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan, dr. Terawan menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.


Lahir di Yogyakarta pada tanggal 5 Agustus 1964, dr Terawan mengenyam pendidikan di SMP Negeri 2 Yogyakarta. Setelah lulus dari sana pada tahun 1980, ia kemudian melanjutkan sekolahnya di SMA Bopkri 1 Yogyakarta dan kemudian lulus pada tahun 1983.
Sejak kecil Terawan Agus Putranto sudah bercita-cita menjadi seorang dokter. Setelah tamat SMA, Terawan Agus Putranto kemudian diterima masuk di Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan kemudian lulus pada tahun 1990.

Prestasinya cukup baik, terbukti ia berhasil menjadi dokter saat berumur 26 tahun.


Selepas lulus sebagai seorang dokter, dr Terawan kemudian bergabung dengan TNI Angkatan Darat melalui jalur Korps Kesehatan Militer. Selama bergabung dengan TNI AD, dr. Terawan pernah bertugas di Bali, Lombok dan kemudian Jakarta.


Karena ayah dr. Terawan hanya pensiunan PNS biasa sementara dr. Terawan kala itu bercita-cita ingin menjadi dokter spesialis, maka ia kemudian melanjutkan pendidikannya berbekal beasiswa ikatan dinas.

Ia mengambil gelar master di bidang spesialis Radiologi di universitas Airlangga, Surabaya dan selesai pada tahun 2004.


Beberapa tahun kemudian yakni 2009, dr. Terawan kemudian masuk dalam jajaran tim dokter kepresidenan. Selain itu, ia terus memperdalam ilmu kedokterannya dengan menempuh program Doktor (S3) di Universitas Hasanuddin, Makassar.


Metode 'Cuci Otak'

Dalam studinya, ia menekankan perhatiannya pada penderita stroke. Disertasinya berjudul 'Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis'.
Dalam studinya tersebut, ia menemukan metode yang ia beri nama 'Brain Flushing'. Metode ini sempat menjadi perdebatan di kalangan akademisi dan ilmuwan kedokteran karena latar belakangnya sebagai seorang radiolog. Namun dr. Terawan berhasil membuktikannya.


Metode pengobatan 'Cuci Otak' nya bahkan sudah ia terapkan dan digunakan di Jerman. Ia membuat paten dengan nama 'Therawan Theory'. Menurut pengalaman dr. Terawan, dengan metode ini pasien bisa sembuh sekitar 4-5 jam pasca operasi.


Dikutip dari CNN Indonesia disebutkan bahwa dalam sebuah wawancara dr. Terawan yang dimuat dalam dalam situs Good To Know, di situ ia menyebutkan bahwa ia berhasil mengobati pasien bernama Benny Panjaitan, yang diketahui merupakan seorang penyanyi grup Panbers.


dr. Terawan menyebutkan bahwa Benny Panjaitan mengidap penyakit stroke selama setahun yang menyebabkan ia lumpuh. Melalui metode cuci otak atau Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) dimana itu adalah modifikasi dari penggunaan teknik pencitraan dengan Digital Substraction Angiography (DSA) yang kemudian dilakukan tindakan dengan metode flushing heparin dengan yang dipandu dengan kateter.


Menurut dr. Terawan, intervensi radiologi dapat memperbaiki penumbra. Dimana dalam otak penderita stroke terdapat bagian inti atau bagian otak yang mati dan penumbra atau bagian yang mati sebagian. Bagian yang rusak tidak bisa diperbaiki, tetapi bagian penumbra masih bisa.


Kepala RSPAD
Karena prestasi serta pengalamannya, pada tahun 2015 dr. Terawan diangkat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto dengan pangkat Mayor Jenderal.


Inovasi dan penemuan metode 'Cuci Otak' ini membuat dr. Terawan diganjar beberapa penghargaan seperti Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan dua rekor MURI sekaligus sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program Digital Substraction Angiogram (DSA).


Ia juga mendapatkan penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid) yakni Lifetime Achievement Award atas penemuannya.


Walaupun begitu, metode pengobatan 'Cuci Otak' yang dikembangkan oleh dr. Terawan ini masih menjadi kontroversi sebagian kalangan kedokteran.


Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) pernah memecat atau memberhentikan izin praktek dr. Terawan terkait metode pengobatannya selama setahun.


MKEK IDI menilai dr. Terawan melakukan serious ethical missconduct atau pelanggaran berat terkait dengan metodenya.
Pasien Pejabat dan Artis


Banyak pejabat yang biasa menjadi pasien dari dr. Terawan seperti Prabowo Subianto serta Aburizal Bakrie dan para pejabat lainnya. Prabowo dan Aburizal Bakrie bahkan memberikan pengakuan keberhasilan dari metode 'cuci otak' dr. Terawan.
Pada bulan Oktober 2019, Presiden Joko Widodo menunjuk dr. Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan menggantikan Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Anfasa Moeloek Sp.M.


Setelah menjabat sebagai Menteri Kesehatan, dr. Terawan harus melepaskan jabatannya sebagai Kepala RSPAD Gatot Subroto.
Ia juga mengundurkan diri atau pensiun dini dari TNI, dimana pangkat terakhirnya adalah Letjen TNI dokter Terawan Agus Putranto.
Selain pernah menjabat sebagai kepala RSPAD Gatot Subroto, dr. Terawan juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia, Ketua World International Committee of Military Medicine serta Ketua ASEAN Association of Radiology. (d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments