Senin, 20 Mei 2019
  • Home
  • Profil
  • Surya Ch Gintings Penyandang Disabilitas yang Jadi Arsitek
  • Home
  • Profil
  • Surya Ch Gintings Penyandang Disabilitas yang Jadi Arsitek

Surya Ch Gintings Penyandang Disabilitas yang Jadi Arsitek

admin Minggu, 05 Mei 2019 12:34 WIB
SIB Dok
Surya Ch Ginting (Paling Kanan) ketika liburan bersama keluarga dan kerabatnya.
Semangat dan kemauan bekerja keras menjadi syarat meraih kesuksesan di bidang pendidikan, pekerjaan dan karier, termasuk bagi penyandang keterbatasan fisik (Disabilitas). Hal itu dibuktikan Surya Ch Ginting (57) yang mampu menamatkan pendidikan formal hingga menjadi arsitek handal, meski seluruh aktifitasnya harus menggunakan tongkat akibat kelainan bentuk kaki yang dialaminya pasca diserang virus Polio Paralysis saat berusia 7 tahun.

Kepada SIB di Medan, Jumat (3/5), Surya Ch Ginting mengaku, semua aktifitas yang dijalaninya tidak berbeda dengan teman sebaya lainnya, sebelum pada tahun 1969 Polio Paralysis menyerang saraf tulang belakangnya. Akibatnya, putera pasangan Alexius Sad Ginting dan Chatarina br Barus yang saat itu masih duduk di kelas 1 SD itu mengalami kelainan pada bentuk kaki karena pertumbuhan tulangnya terganggu. Selain perobatan, butuh waktu yang lama baginya mengembalikan kepercayaan diri untuk kembali sekolah.

Meski menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya, Surya melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti selama dua tahun itu. Seiring dengan itu, latihan berjalan terus dilakukan dengan semangat untuk bisa beraktifitas normal.

"Kejadian itu sempat membuat saya putus asa, karena selama 2 tahun hanya bisa merangkak akibat pinggul dan kaki saya tak mampu menopang badan ini. Sejak memulai bersekolah lagi, setiap hari menjadi perjuangan bagi saya untuk mencapai sekolah dan pulang ke rumah," ujarnya

Kegiatan belajar di sekolah dibarengi rutinitas berlatih berjalan terus dilakoni pria kelahiran Kabanjahe 12 Maret 1962 itu, hingga akhirnya saat duduk di kelas 3 SMP ia dapat berjalan maksimal walau tetap menggunakan tongkat. Membaca dan mengulang pelajaran menjadi cara baginya untuk mengisi waktu luang, saat mata pelajaran praktek olah raga yang tak mungkin diikuti penyandang disabilitas sepertinya.

Kegigihan mengikuti bimbingan belajar setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Pancur Batu Deli Serdang. Tamat SMA, dia diterima di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Sebagai anak kos, dia bekerja paruh waktu di Jogjakarta, hingga akhirnya predikat sarjana berhasil diperolehnya tahun 1990.

Pria yang fasih berbahasa Inggris dan penggunaan komputer untuk desain arsitektur, serta menguasai kaidah ketahanan bangunan dari gempa bumi itu sempat mengalami pasang surut di pekerjaannya di Karawang Jawa Barat. Karena mengalami kerugian besar pasca krisis moneter pada tahun 1998, suami dari CS br Bangun itu memutuskan kembali ke Medan pada tahun 2000.

Kesempatan berkarir kembali diperoleh pada tahun 2003 saat dipercaya menjadi koordinator arsitektur PT UE Sentosa - PT Acset, kontraktor utama proyek bangunan pusat perbelanjaan Sun Plaza Medan. Selanjutnya pada tahun 2007, ia menjadi Kepala Bidang Perumahan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) di Nias Selatan, Sumatera Utara. Lalu sejak tahun 2016 hingga kini, ayah 4 anak itu menjadi manager proyek serta arsitek CV Bangun Cita Lestari di Kota Medan dan Binjai.

"Dulu, dukungan serta motivasi tetangga dan teman membuat saya semangat menjalani hidup dengan disabilitas ini. Itu yang membuat saya tidak pernah menolak siapapun yang membutuhkan bantuan. Tak jarang, saya membantu mendesain bahkan membangun rumah dengan bidang tanah yang kecil serta biaya minimalis dan efisien, tanpa mengambil keuntungan," katanya.

Disebutkan pria yang pernah dipercaya berkoordinasi dengan arsitektur asal Hamburg Jerman Clause Hemker saat membangun sekolah kejuruan di Pirak Timu, Aceh Timur NAD itu, keterbatasan fisik yang dialami dapat diatasi tanpa menganggap hal itu sebagai musibah. Hidup dengan keterbatasan yang dijalaninya selama 50 tahun itu diharapkan menjadi motivasi bagi penderita lainnya, untuk dapat terus menggapai cita-cita dan menjadi berarti bagi lingkungan di sekitarnya.

"Sampai saat ini saya belum merasa nyaman, selalu ada kegelisahan. Namun saya tetap belajar bersyukur dalam kekurangan, karena kami sekeluarga sepakat lebih berbahagia memberi dari pada menerima meski dalam keterbatasan. Ini yang menjadi motivasi kami dalam membantu membangun rumah sesama dengan biaya murah," akunya. (M15/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments