Sabtu, 20 Jul 2019
  • Home
  • Profil
  • Penyerangan Majalah Prancis Awal Gelombang Teror ke Eropa
  • Home
  • Profil
  • Penyerangan Majalah Prancis Awal Gelombang Teror ke Eropa

Penyerangan Majalah Prancis Awal Gelombang Teror ke Eropa

* Hayat Boumeddiene Perempuan Paling Dicari di Prancis *Kenang 17 Korban Tewas, Ratusan Ribu Orang Long March
Senin, 12 Januari 2015 16:17 WIB
SIB/AP Photo/Laureny Cipriani
Seorang wanita memegang poster bertuliskan "Menentang kebodohan" saat ratusan ribu warga Prancis melakukan longmarc di Taman m Republique di Paris, Minggu (11/1), memegang 17 korban tewas akibat serangan teroris. aksi yang mendapat pengawalan ketat pasuka
Berlin (SIB)- Pertumpahan darah di Prancis bisa jadi merupakan awal dari gelombang serangan teror lain ke benua Eropa, demikian dugaan dari badan intelijen Amerika Serikat yang berhasil menyadap komunikasi pemimpin kelompok ISIS.

Menurut surat kabar asal Jerman, Bild yang mengutip dari sumber anonim, tidak lama setelah penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo, badan National Security Agency dari Amerika Serikat mengintersepsi komunikasi dari pemimpin tinggi ISIS yang pada intinya berisi pengumuman rencana serangan-serangan baru. Peristiwa di Paris diduga hanya menjadi awal dari serangkaian serangan lain di sejumlah kota di Eropa, termasuk Roma, Italia. Namun sayangnya rincian rencana teror itu belum diketahui sampai sekarang.

Badan intelijen Amerika Serikat juga dikabarkan mempunyai informasi bahwa dua bersaudara Cherif dan Said Kouachi--yang merupakan pelaku utama pembunuhan massal di kantor majalah asal Prancis, Charlie Hebdo--mempunyai kontak dengan sejumlah orang di Belanda, tulis Bild.

Saat ini Pemerintah Prancis tengah memburu seorang wanita bernama Hayat Boumeddiene (26). Ia merupakan salah satu aktor penyerangan brutal toko kelontong yang menyebabkan 5 orang tewas. Hayat merupakan istri dari Amedy Coulibaly yang juga terlibat dalam penyerangan di toko kelontong di Paris. Keduanya sangat berbahaya dan membawa senjata tajam.

Coulibaly sendiri tewas di tangan polisi saat hendak membawa lari para sandera. Drama penyerangan tersebut berakhir dengan tewasnya Coulibaly. Polisi telah menyebar foto perempuan bermata sayu tersebut di berbagai lokasi di Paris. Kini ia menjadi buronan yang paling dicari. "Semua layanan kami terfokus pada mencari orang ini," kata Kepala Polisi Nasional Prancis Jean-Marc Falcone kepada televisi BFM-TV seperti dikutip dari Reuters, Minggu (11/1).

Dia dikabarkan telah berada di Suriah. Seorang sumber di kepolisian menyebut telah melihat wanita mirip Boumeddien terbang ke Turki melalui Madrid."Istri pria penembak supermarket di Paris mungkin sedang berada di Suriah," kata sumber kepolisian

Menurut sumber Reuters, Boumeddiene meninggalkan Perancis pekan lalu dan melakukan perjalanan ke Suriah melalui Turki. Ia didampingi seorang pria dan telah mengantongi tiket pulang untuk tanggal 9 Januari, namun tidak pernah digunakan. Dia mengatakan bahwa pihak berwenang Turki telah mengisyaratkan bahwa ia melewati perbatasan dengan Suriah pada 8 Januari.

Sementara itu, untuk mengenang 17 korban yang tewas tersebut, warga Prancis melakukan pawai bersama. Aksi ini diikuti sekitar 700.000 orang. Mereka dijaga oleh personel keamanan gabungan sebanyak 5.500 orang.  "Pasukan penembak khusus akan ditempatkan di atap bangunan di sepanjang rute pawai. Atap-atap dan selokan akan diperiksa terlebih dahulu," tegasnya. Seluruh transportasi umum juga akan diawasi dengan ketat. Sebab menurutnya tak menutup kemungkinan serangan akan kembali terjadi.

"Pada situasi yang luar biasa, dibutuhkan penanganan luar biasa untuk menjamin keamanan pawai dan menghormati ketertiban umum," kata Mendagri Prancis, Bernard Cazeneuve. Presiden Prancis Fancois Hollande, beberapa pemimpin dunia seperti Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan lainnya dikabarkan ikut dalam aksi ini.

Tantangan Pemberantasan Terorisme
Serangan ekstremis Islam di Paris menunjukkan bahwa Prancis mungkin perlu memikirkan ulang skema operasi intelijen mereka, kata Camille Grand, ahli pertahanan dan Direktur Yayasan Penelitian Strategis di Paris. Prancis memiliki salah satu komunitas Muslim terbesar di Eropa, mayoritas warga Muslim hidup damai di negara tersebut, dimana mereka berbagai nilai dan cara hidup.

Jumlah minoritas yang signifikan diketahui memiliki penafsiran terhadap Islam yang lebih keras. Tetapi lebih banyak Muslim yang konservatif, dan hanya sedikit yang merupakan golongan Islam yang keras. Hanya sebagian dari Muslim Prancis tinggal dalam komunitas yang memiliki pandangan hidup yang jauh berbeda dengan mereka fenomena sama yang dapat dilihat di komunitas lain di Eropa.

Hukum negara Prancis kukuh menegakkan sekularisme - misalnya larangan memakai burqa di tempat umum, atau memakai jilbab di sekolah-sekolah umum dapat dilihat sebagai cara untuk membantu komunitas Muslim agar tidak terisolasi dari masyarakat lain.

Tetapi yang menjadi fenomena belakangan ini adalah adanya umat Muslim di Prancis yang berubah menjadi radikal - apakah mereka itu merupakan warga negara Prancis atau bukan. Sejumlah Imam radikal dari masjid yang resmi ataupun tidak, kemungkinan memainkan peran itu. Namun proses radikalisasi tersebut tampaknya lebih banyak terjadi melalui internet.

Radikalisasi juga terjadi di penjara, dimana para tahanan kriminal muda diajak bergabung dalam kelompok Islamis. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur Tengah dapat memainkan peran pada tahap awal radikalisasi, dengan mengubah individu yang kehilangan jati diri menjadi militan radikal, meskipun masih sulit untuk mengidentifikasikannya.

Prancis telah berurusan dengan kelompok radikal Islam selama dua dekade terakhir, sejak konflik Aljazair menjangkau Paris dengan pemboman pada tahun 1995-1996. Sebab itu, Prancis memiliki pengalaman panjang dalam mengawasi kelompok radikal Islam.

Sistem hukum anti-terorisme yang diberlakukan di Prancis termasuk tegas dan memungkinkan penyelidikan dan pengadilan pada tahap awal. Data yang diperoleh dari intelijen asing dan domestik selama beberapa tahun terakhir telah memprioritaskan ancaman dari pejuang radikal. Asumsi mengatakan bahwa negara tersebut telah sukses mencegah serangan terror dalam jumlah signifikan sebelum ini.

Meskipun itu, seperti yang ditunjukkan serangan minggu ini, masih terdapat beberapa celah dalam sistem pengawasan ini. Celah-celah seperti ini memang tidak susah dipantau tanpa mengubah negara Prancis menjadi negara kepolisian.

Dalam konteks ini, masalah utamanya adalah fakta bahwa teroris yang baru-baru ini melakukan serangan di Prancis memiliki latar belakang sebagai pejuang di negara lain, atau setidaknya telah tinggal di Suriah dan Yaman. Jumlah warga asal Prancis yang pergi ke Suriah dan Irak cukup banyak, dan negara ini saat ini menghadapi masalah keamanan ketika ratusan dari mereka kembali pulang. Upaya untuk mencegah ekstremis tersebut bergabung dengan kubu pejuang di negara lain menimbulkan masalah baru, yaitu dengan calon jihadis yang tinggal di negara Prancis.

Serangan minggu ini masih harus dianalisis secara rinci untuk mengetahui latar belakang dan jaringan teroris yang bersangkutan namun satu hal yang jelas adalah bahwa Perancis, seperti negara demokrasi di Eropa lainnya, menghadapi tantangan keamanan jangka panjang.

Untuk mengatasi tantangan itu, negara-negara tersebut harus mendekati komunitas Muslim yang tinggal disana dengan damai dan itu hal yang sulit dilakukan di tengah ketegangan ekonomi dan sosial. Tantangan ini juga harus dihadapi dengan komitmen untuk tindakan tegas terhadap minoritas yang menyebarkan pesan kekerasan, tugas yang mungkin memerlukan pembenahan sistem intelijen dan anti-terorisme Prancis. (Detikcom/BBC/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments