Minggu, 22 Sep 2019
  • Home
  • Profil
  • Mencapai Jabatan Pemerintahan Dari Menarik Becak
  • Home
  • Profil
  • Mencapai Jabatan Pemerintahan Dari Menarik Becak

Rivai Nasution

Mencapai Jabatan Pemerintahan Dari Menarik Becak

admin Minggu, 07 Juli 2019 12:20 WIB
SIB/Dok
Drs Rivai Nasution MM bersama isteri serta kedua anaknya tercinta.
Medan (SIB) -Perjalanan hidup berbekal pengalaman di masa lalu, sehingga dapat melakukan hal terbaik untuk mempersiapkan masa depan tak seorang pun dapat menebaknya. Ibarat roda, posisi kehidupan bisa saja di bawah dan di atas. Hal itu terjadi dalam kehidupan Kabag Hubungan Antar Daerah (Hakda) Pemko Medan Drs Rivai Nasution MM yang pernah menjalani peran sebagai penarik becak, penjual rokok ketengan, hingga pejabat Pemko Medan, hingga menjalin kerjasama dengan sejumlah negara termasuk Rusia.

Kepada wartawan SIB di Medan, Jumat (28/6), Rivai Nasution mengaku memulai pengalaman hidup saat kedua orangtua memintanya ikut membantu mereka berjualan, serta tak merestui keinginan dirinya melanjutkan pendidikan setelah tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 1976. Bersikukuh melanjutkan pendidikan, Rivai pergi meninggalkan tanah kelahirannya Kota Pinang dan merantau ke Medan.

"Dulu saat teman-teman sekolah mudik dari perantauan, terasa sedih hingga menangis tanpa saya sadari. Dalam hati saya berkata, andai saya dapat seperti mereka, tentu saat ini kami sudah mudik bersama. Dengan tekad dan yakin tak ada kata terlambat untuk melanjutkan pendidikan, saya merantau ke Medan demi cita-cita meraih kesuksesan," ujarnya.

Setelah sempat beberapa bulan tinggal bersama abangnya di Medan, Rivai yang menyadari berasal dari keluarga kurang mampu lalu menjalani hidup disiplin setelah tinggal bersama neneknya. Pemuda yang akrab dipanggil Ucok itu melanjutkan pendidikan di SMA Ksatria dan tamat dari SMA Taman Siswa Medan.

"Setiap hari, saya harus bangun pagi dan Salat Subuh di Masjid Quatul Muslimin Pasar Merah, lalu menyapu halaman rumah nenek sebelum ke sekolah. Meski bukan siswa paling pintar, teman-teman senang bergaul dengan saya yang hobi menyanyi serta mahir melantunkan ayat Alquran dan bermain rebana. Setiap ada peringatan Maulid Nabi atau Isra Mi'raj di sekolah atau tempat tinggal, saya selalu diminta membawa gema Wahyu Ilahi. Meski dikategorikan Qori kelas kampung, saya dan teman-teman selalu diminta membawa Barzanji dan Marhaban di pesta pernikahan atau khitanan," katanya.

Bermodalkan talenta itu, anak dari pasangan Alm H Maksum Nasution dan Almh Siti Rahmah Dasopang itu dipercaya menjadi Sekretaris Remaja Masjid Quatul Muslimin (RMQM) Medan. Tanpa mengenal lelah atau pasrah terhadap keadaan, usai jam sekolah ia melakoni sejumlah pekerjaan untuk membiayai pendidikannya. Sembari bekerja memplitur dan mengecat bangku sekolah di panglong, setiap malam pria kelahiran Kotapinang 31 Desember 1961 itu menarik becak dayung yang disewanya.

"Melihat saya selalu narik becak hingga larut malam, nenek meminjamkan modal Rp 5.000 untuk membuka kios rokok ketengan di depan Wisma Umum Jalan Bakti Medan. Selama 3 tahun belajar dan bekerja, bahkan saat libur sekolah saya terus mencari uang dengan menarik becak mesin milik abang. Hasilnya saat itu lumayan untuk uang sekolah dan jajan. Yang paling saya kenang yaitu saat pertandingan sepakbola Piala Marah Halim Cup di Stadion Teladan, tanpa malu saya menjajakan telur asin serta es lemon di dalam dan luar stadion," paparnya.

Berstatus pelajar SMA, pada tahun 1981 Rivai lulus ujian masuk pegawai negeri sipil (PNS) sebagai penjaga Sekolah Dasar (SD) Wahwe Jalan Megawati dengan segudang tugas seperti membuka kelas, menyapu ruangan dan halaman sekolah, membersihkan kamar mandi, bahkan mengajar menggantikan guru yang tak hadir, serta membantu kepala sekolah menyiapkan laporan administrasi dan daftar gaji.

Hal inilah yang dilakoninya selama tiga tahun lebih di sekolah yang penuh kenangan bagi dirinya. Namun di sela-sela kesibukannya sebagai penjaga sekolah ia meneruskan pendidikan ke Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Rivai yang selama kuliah kerap aktif organisasi kampus dan kedaerahan lalu berpindah tugas ke Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Medan. Berbekal gelar sarjana muda (BA) Ekonomi, Rivai menjadi seorang petugas pajak di Dispenda Medan dan melanjutkan kuliah hingga bergelar sarjana pada tahun 1993 dan menyelesaikan pasca sarjana tahun 2004.

Karir berorganisasi yang dilakoninya antara lain Ketua Ikatan Mahasiswa Keluarga Kotapinang (IMKK) di Medan, Sekjen Ikatan Keluarga Labuhanbatu (IKLAB) Medan dan sekitarnya, serta kini dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Keluarga Labuhanbatu Selatan (PB IKLAS). Di organisasi yang dipimpinnya, ia rutin menggelar berbagai kegiatan keagamaan, perlombaan olahraga dan kesenian.

Dalam memperjuangkan cintanya, pada tahun 1989 Rivai mempersunting Rosmini Fitri SPd yang kini menjabat Koordinator Kecamatan Medan Denai di Dinas Pendidikan Kota Medan. Putra sulungnya Bachtiar R Nasution SSTP, MAP yang menamatkan pendidikan di STPDN pada tahun 2013, saat ini menjadi salah satu Kepala Seksi di Dinas Kominfo Kota Medan sembari melanjutkan program S3 di salah satu universitas di Medan. Sedangkan si bungsu Rifdah Saidah Nasution masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
Merasa keberhasilan karirnya berisi tanggung jawab untuk membangun tanah kelahirannya, sejak tahun 2002, Rivai aktif menjadi salah satu penggagas pemekaran Kabupaten Labuhanbatu hingga akhirnya pada tahun 2008 menjadi Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara (Labura), Labuhanbatu Selatan (Labusel).

Setelah menjalani karir eselon V dan IV, Rivai kini dipercaya memegang jabatan Eselon III sebagai Kabag Hubungan Kerjasama Antar Kota, Daerah dan Lembaga Setda Kota Medan yang menangani kerjasama di dalam dan luar negeri. Dalam jabatan yang menuntut kemampuan menjembatani kerjasama antar pemerintah dengan kota atau negara mitra kerjasama, Rivai yang mewakili Pemko Medan telah berhasil menjalankan tugas-tugasnya antara lain menjalin hubungan Kota Bersaudara (Sister City) dengan Kota George Town - Pulau Pinang, Malaysia (1984), Kota Ichikawa Jepang (1989), Kota Gwangju Korea Selatan (1997) dan Kota Chengdu Republik Rakyat Tiongkok (2002), serta satu kerjasama Kota Bersahabat (Frinship City) dengan Bandar Raya Ipoh Malaysia (2009). Dan disusul dengan tahap kesepakatan (Lol) dengan Bulgaria tahun 2010, Kota Milwauke (USA) 2014, dan tahap perencanaan dengan Rostov Ondon Rusia (Minute Meeting) 2017.

Dijelaskan, pada 2012 dia juga telah mengantarkan Kota Medan menjadi Ketua Komisariat Wilayah I Assosiasi 24 Pemerintah Kota se-Indonesia, yang terdiri dari 5 provinsi antara lain Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat dan Aceh. Selain menjalin MoU dengan Surabaya, Batam dan Semarang, Kota Medan kini proses penjajakan dengan Denpasar, Badung, Mataram dan Pekalongan.

"Pepatah 'Pengalaman Adalah Guru Paling Baik', serta 'Banyak Berjalan, Banyak Dilihat' telah membesarkan dan mengisi jalan hidup saya. Kunjungan ke banyak negara mitra kerjasama, merupakan modal berguna bagi tugas selanjutnya. Ditambah niat baik membangun negeri ini menjadi lebih baik, semoga menjadi modal yang cukup untuk mewujudkan harapan saya membangun tanah kelahiran Labusel, ujarnya yang akan maju dalam pilkada Labusel. (M15/d/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments