Kamis, 21 Feb 2019
  • Home
  • Profil
  • Hebat! Tak Mau Bebani Keluarga, Tuna Netra di Sulbar Kerja Sadap Aren
  • Home
  • Profil
  • Hebat! Tak Mau Bebani Keluarga, Tuna Netra di Sulbar Kerja Sadap Aren

Hebat! Tak Mau Bebani Keluarga, Tuna Netra di Sulbar Kerja Sadap Aren

admin Minggu, 27 Januari 2019 12:34 WIB
Arya Pangga
Mamuju (SIB) -Hidup dalam keterbatasan fisik bukan alasan untuk menyerah pada hidup. Hal ini dibuktikan Arya Pangga (40), warga Dusun Rakasang, Desa Riso, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar.

Walau menderita kebutaan pada kedua matanya, tidak lantas membuat Pangga--sapaanya--hanya berdiam diri di rumah sembari mengharap belas kasih warga. Di usianya yang tidak lagi muda, dirinya tetap berjuang dengan bekerja sebagai penyadap air aren, untuk dibuat gula merah.

Didampingi Isa (31) sang istri tercinta, sudah lebih dari 10 tahun lamanya, Arya Pangga yang dikenal karena kebutaan pada kedua matanya, melakoni aktifitasnya sebagai penyadap air aren.

Setiap hari, ayah dua anak ini harus berjalan keluar masuk hutan yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumahnya, mencari pohon aren yang bisa disadap airnya. Bekerja sebagai penyadap air aren tentunya bukan pekerjaan yang mudah, apalagi bagi Arya pangga yang kedua matanya tidak bisa melihat.

Tidak jarang tubuhnya menabrak benda apa yang tiba-tiba berada di tengah jalan yang biasa dilalui. Kakinya harus berhati-hati saat melangkah, sekedar untuk merasakan jalan yang dilaluinya, memastikan bahwa tujuannya sudah benar.

Untuk menyadap air aren, Arya Pangga harus memanjat pohon setinggi belasan meter. Satu pohon aren mampu menghasilkan 20 hingga 40 liter air, yang disadap dua kali dalam sehari, pada pagi dan sore.

Sadar akan keterbatasan yang dimiliki, Arya Pangga bukannya tidak ingin melalukan pekerjaan lain yang lebih aman, namun apa daya, banyak warga yang memandang sebelah mata akan kondisinya.

"Mau bagaimana lagi pak, tidak ada yang mau memberikan pekerjaan dengan kondisi fisik saya yang terbatas, jadi saya harus memutar otak untuk menafkahi keluarga " ungkapnya.

Diceritakan, bahwa kebuataan pada kedua matanya bukanlah bawaan lahir, melainkan akibat penyakit yang dideritanya saat masih kecil.

"Waktu itu umur saya sekitar lima tahun, menderita penyakit cacar, karena waktu itu dokter dan obat-obatan masih susah, orang tua salah memberikan obat, jadi akhirnya seperti sekarang," ujarnya sambil tertawa.

Untuk untuk menambah pemasukan, selain menyadap air aren, Arya Pangga juga kerap membantu warga memetic buah kelapa, yang dipanjat dengan upah sebesar Rp 5 ribu untuk setiap pohonnya. Bahkan di musim panen buah langsat seperti sekarang ini, Arya mengaku kerap membantu warga memetik buah langsat, dengan upah Rp 10 ribu untuk satu peti buah langsat yang dipetiknya.

"Tidak banyak pak, kalau kelapa paling Rp 10 setiap pohon, tapi kalau langsat paling banyak saya mendapat upah sebesar Rp 50 ribu setiap harinya. Cukuplah untuk menambah biaya hari-hari," ungkapnya.

Dengan kondisi seperti sekarang Arya Pangga mengaku sangat bersyukur, karena Tuhan memberikan kelebihan untuk menutupi kekurangan pada dirinya.

"Alhamdulillah, ini semua mujizat dari Tuhan, karena meski buta, saya masih bisa beraktifitas layaknya manusia normal lainnya."
Arya Pangga juga mengaku tidak berani mendatangi tempat yang baru jika tanpa didampingi kerabatnya.

"Kalau ke tempat baru, saya tidak berani pak jika sendiri, harus ada yang damping, jika sekali dua kali telah dilewati, barulah saya bisa sendiri," pungkasnya. (detikcom/l)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments