Sabtu, 20 Jul 2019
  • Home
  • Profil
  • Guru Besar Nyabu dan Narkoba di Kampus
  • Home
  • Profil
  • Guru Besar Nyabu dan Narkoba di Kampus

FOKUS

Guru Besar Nyabu dan Narkoba di Kampus

Minggu, 23 November 2014 12:00 WIB
Setelah-  berkali-kali terungkap pengguna narkotika dari kalangan artis, politisi, bahkan penegak hukum, kali ini beritanya tidak kalah heboh. Tidak tanggung-tanggung, Wakil Rektor III Universitas Hasanuddin Makassar, seorang guru besar dalam bidang hukum, ditangkap saat mengkonsumsi sabu bersama rekan dosennya dan seorang mahasiswa. Guru besar tersebut  ditangkap saat menggelar pesta sabu di suatu hotel di Makasar. Mereka dibekuk Satuan Narkoba Kepolisian Resor Kota Besar Makassar

Kasus ini menyedot perhatian, sampai-sampai Menteri Pendidikan Nasional dan Riset  menyesali kejadian tersebut dan meminta para rektor mencoba mencermati fenomena ini dan melakukan tindakan pencegahan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan keprihatinannya atas kasus ini. Ia menyayangkan seorang yang menyandang gelar intelektual dan paham hukum bisa terseret dalam kasus narkoba. Ketua KPK bahkan meminta supaya guru besar ini dipecat dari jabatannya sebagai guru besar.

Masuknya narkoba ke dunia kampus memang bukan kisah baru. Sudah lama dicurigai mahasiswa menjadi target utama para pemasoknya. Kondisi labil generasi muda dan keingintahuan mereka atas sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka rasakan menyebabkan banyak mahasiswa  terjebak dalam penggunaan narkoba.

Akibatnya banyak mahasiswa yang kemudian terancam kehilangan masa depan. Mereka tidak lagi memiliki hasrat untuk kuliah dan menyelesaikan pendidikannya. Mereka bahkan banyak yang kemudian dari pengguna menjadi pemasar. Bisnis yang menggiurkan ini terbukti menjadi alat bagi industri narkoba untuk masuk dan menjadikan mahasiswa menjadi target "emas"-nya.

Alih-alih menjadi  generasi penerus bangsa, banyak mahasiswa pengguna narkoba justru menjadi pesakitan yang harus diurus dan kemudian menjadi beban sosial. Kehidupan mahasiswa yang menjadi beban ini amat berbeda dengan impian kita menjadikan mahasiswa sebagai tonggak kemajuan bangsa.

Oleh karena itu, pasca kasus guru besar yang nyabu ini, kita berharap ada kewaspadaan yang lebih lagi di kampus-kampus. Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nasional dan Riset, supaya seluruh pimpinan perguruan tinggi bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Dia meminta agar mereka meningkatkan pengawasan terhadap seluruh civitas academika di lingkungan kampus. Tidak hanya pengawasan terhadap para tenaga pendidik, Menteri Nasir meminta agar pihak kampus juga meningkatkan pengawasan kepada para mahasiswa. Salah satu caranya adalah menambah berbagai kegiatan positif bagi mahasiswa.

Memang narkoba bisa masuk ke dalam dunia kampus jika aktifitas mahasiswa lebih sering tidak ada. Sebagai agen perubahan, mahasiswa seharusnya sosok-sosok yang kreatif dan mampu menggunakan waktunya dengan baik. Jika mereka sibuk maka mereka akan beralih kepada suasana yang positif, bukan lari kepada narkoba.

Menteri Nasir juga berencana melakukan tes urine. Tes urine ini akan ditujukan bagi pejabat di lingkungan kampus guna mencegah kejadian serupa terulang. Namun, lagi-lagi, rencana tersebut harus melihat anggaran yang tersedia. Anggaran untuk memeriksa seluruh pejabat struktural kampus bisa sangat besar.

Memang peta persoalan narkoba di Indonesia semakin rumit. Seluruh aspek sudah terlibat di dalam bisnis yang menghancurkan mental dan produktifitas seseorang ini. Perlu langkah serius sebenarnya jika tidak ingin melihat kampus-kampus di negeri ini menjadi sarang beranak-pinaknya kejahatan narkoba (***)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments