Senin, 16 Sep 2019
  • Home
  • Profil
  • George HW Bush: Dari Pilot Perang Dunia II hingga Jadi Presiden AS
  • Home
  • Profil
  • George HW Bush: Dari Pilot Perang Dunia II hingga Jadi Presiden AS

George HW Bush: Dari Pilot Perang Dunia II hingga Jadi Presiden AS

Admin Minggu, 02 Desember 2018 13:13 WIB
SIB/Twitter/David Priess
Washington DC (SIB) -Presiden ke-41 Amerika Serikat (AS) George HW Bush meninggal dalam usia 94 tahun pada Jumat (30/11).  Bush begitu dikenal karena saat dia memimpin pada periode 1989 hingga 1993, dunia menghadapi dinamika politik terbesar di akhir Perang Dingin.  Dimulai dari runtuhnya Tembok Berlin yang dilanjutkan dengan bubarnya Uni Soviet pada 26 Desember 1991 dan membuat AS menjadi satu-satunya negara adikuasa dunia saat itu. 

Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) hanya memimpin satu periode setelah harus mengakui kekalahan dari jagoan Partai Demokrat, Bill Clinton.  Meski begitu, kiprahnya melahirkan dinasti politik baru di mana dua putranya menjadi pemimpin baik di level negara maupun negara bagian.  Putra tertuanya, George Walker Bush, mengikuti jejak Bush Senior menjadi Presiden AS selama delapan tahun dari 2001 hingga 2009.  Kemudian putra keduanya, John Ellis atau dikenal sebagai Jeb Bush, memimpin Florida sebagai gubernur pada 1999 hingga Januari 2007. 

Dilansir AFP Sabtu (1/12), berikut biografi singkat dari presiden yang terkenal dengan janji kampanye "Read my lips. No new taxes (Baca bibir saya. Tidak ada pajak)" itu. 

1. Lahir dari Keluarga Dinasti Politik 
Lahir pada 12 Juni 1924 di Milton, Massachusetts, George Herbert Walker lahir berasal dari keluarga politik nan kaya di New England.  Sang ayah, Prescott Bush, merupakan seorang bankir yang sukses sekaligus Senator dari Negara Bagian Connecticut pada 1952-1963.  Bush kecil pernah mengenyam pendidikan di sekolah prestisius Akademi Phillips Andover. Namun, dia menunda masuk ke Universitas Yale.  Di ulang tahunnya yang ke-18, dia memutuskan masuk ke militer dan mendaftar ke Angkatan Laut AS saat Perang Dunia II berkecamuk. 

Sepanjang Perang Dunia II, dia menjadi pilot pesawat tempur Gruumman TBM Avenger yang bertugas menyerang fasilitas militer Jepang di Chichijima.  Selama menjalankan operasi, pesawatnya ditembak oleh senjata anti-pesawat Jepang. Meski begitu, dia berhasil menjatuhkan torpedo ke sasaran.  November 1944, Bush kembali berpartisipasi dalam beberapa misi di Filipina hingga dia dan skuadronnya dikirim pulang ke AS. Sepanjang pengabdiannya di militer pada 1942-1945, presiden yang menggamit pangkat Letnan itu mengantongi 58 misi tempur.  Sebelum perang berakhir, Bush menikah dengan Barbara Pierce pada Januari 1945 dan dikaruniai enam anak.  Putri tertuanya, Robin, meninggal karena leukemia. 

2. Bisnis dan Mulai Meniti Karir Politik 
Setelah perang, Bush kembali ke Yale dan lulus di bidang ekonomi dalam waktu 2,5 tahun. Namun, dia tidak mengikuti jejak ayahnya di dunia perbankan.  Dia memilih berkarir di bisnis minyak di Texas. Dia mengejutkan banyak orang dengan kesuksesannya dan menjadi jutawan di umur 40 tahun. 

Setelah mapan, Bush mulai tertarik kepada politik dan terjun pada 1963 dengan menjadi Ketua Partai Republik untuk Harris County. 

Sempat gagal menjajal pemilihan anggota Senat Texas, pada 1966 dia berhasil menjadi anggota House of Representatives AS asal Texas dan menjabat dari 3 Januari 1967 hingga 3 Januari 1971. Di antaranya Duta Besar AS untuk PBB, Utusan AS untuk China, hingga menjabat sebagai direktur Badan Intelijen Pusat (CIA). 

Bush mulai menjajal tantangan lebih besar dengan mencalonkan diri sebagai presiden. Namun, dia kalah oleh Ronald Reagan dalam pemilihan partai. Meski begitu, Reagan memilihnya sebagai wakil. 

Pasangan ini melenggang menjadi orang nomor satu dan dua AS setelah mengalahkan kandidat Partai Demokrat, Jimmy Carter. 

3. Menjadi Presiden dan Kebijakan Luar Negerinya yang Terkenal 

Bush akhirnya menjadi presiden setelah memenangkan Pemilu Presiden 1988 melawan calon dari Demokrat, Michael Dukakis. 

Tantangan lain datang kepada Bush ketika Pemimpin Irak Saddam Hussein melaksanakan invasi ke Kuwait pada 1990 dan mengancam Arab Saudi. 

"Aksi mereka (Irak) yang telah melakukan agresi kepada Kuwait tidak akan bertahan lama," janji Bush yang hingga kini masih dikenang. 

Dia membuat Operation Desert Storm dengan menggalang koalisi 32 negara di seluruh dunia untuk mengusir Saddam dari Kuwait dalam konflik yang juga dikenal sebagai Perang Teluk itu. 

AS yang mengerahkan sekitar 425.000 personel militer dibantu 118.000 pasukan aliansi ditopang serangan artiler dan udara berhasil melenyapkan pasukan Irak di Kuwait. 

Bush memutuskan untuk tidak menggulingkan Saddam dari kekuasaannya, sebuah tugas yang bakal diselesaikan putranya, George Walker Bush, 12 tahun kemudian. 

Di akhir 1989, Bush juga mengerahkan pasukannya untuk menginvasi Panama guna menggulingkan diktator Manuel Noriega setelah pasukannya menewaskan Marinir AS yang tengah bebas tugas.  Dia juga memprakarsai fondasi bagi Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) antara AS, Kanada, serta Meksiko. 

4. Kalah dalam Pilpres 1992 
Awal 1992, dia mengumumkan bakal mencalonkan diri untuk periode kedua. Saat itu, rapornya mentereng setelah kemenangan koalisi di Perang Teluk. Namun, sejumlah lawan politiknya menyebut dia tidak becus mengatasi resesi ekonomi, dan keraguan bahwa dia telah mengakhiri Perang Teluk.  Salah satu lawan politiknya, Pat Buchanan, kemudian maju dalam pemilihan calon Partai Republik, meski harus mengaku kalah. 

Di Pilpres, dia berhadapan dengan Gubernur Arkansas, Bill Clinton, yang menuduh Bush tidak memberi bantuan berarti bagi kelas menengah. 3 November 1992, Bush akhirnya harus takluk kepada Clinton setelah dia hanya mendapat 168 electoral votes berbanding 370 milik Clinton. Kaum konservatif Republik berkata, kekalahan Bush terjadi karena dia melanggar sendiri kampanyenya yang paling terkenal pada Pilpres 1988, "Baca Bibir Saya: Tidak Ada Pajak". 

5. Aktivitas Setelah Tak Jadi Presiden 
Lepas dari tugasnya sebagai presiden, Bush Senior memenuhi janjinya untuk terjun dari pesawat dalam rangka bersenang-senang. Dia menuntaskan janjinya itu dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-75, 80, dan ke-90. Dia kemudian bergabung dengan mantan rivalnya Bill Clinton. 

Bersama keduanya menggalang dana bagi korban tsunami di Asia pada 2004 dan gempa bumi Haiti enam tahun berselang. 

Pada 2017, dia bersama mantan presiden lainnya seperti Clinton, Jimmy Carter, putranya George Walker dan presiden aktif Barack Obama menggalang donasi bagi korban badai di Texas. (Kps/f)
Editor: Admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments