Jumat, 18 Okt 2019
  • Home
  • Profil
  • Ahmad Noerzaman, Arsitek di Balik JPO Ikonik
  • Home
  • Profil
  • Ahmad Noerzaman, Arsitek di Balik JPO Ikonik

Ahmad Noerzaman, Arsitek di Balik JPO Ikonik

admin Minggu, 22 September 2019 15:22 WIB
swa.co.id
Ir Achmad Noerzaman (kanan), sosok arsitek di balik Jembatan Penyeberangan Orang ikonik Kota Jakarta berada dalam JPO yang dia desain.
Jika melintasi Jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin, cobalah tengok jembatan penyeberangan orang (JPO) di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Polda Metro Jaya, dan Bundaran Senayan. Anda akan menyaksikan pemandangan menarik: JPO berdesain artistik yang menjadi ikon baru Kota Jakarta.

Dari kejauhan, bangunan jembatan ini sudah terlihat menonjol. Memasuki area JPO, pejalan kaki disambut dengan landasan datar berbahan kayu komposit dan memiliki pegangan berbahan serupa. Sisi kiri dan kanan jembatan berbatas besi warna hitam dan beratap transparan. Landasan datar ini merupakan fasilitas ramah disabilitas.

Lalu, saat naik ke arah jembatan utama (main bridge) sepanjang 68 meter, pejalan kaki akan disuguhi desain jajaran pagar putih dan lampu temaram yang menyala di malam hari. Ya, di malam hari, kilau lampu LED serta lampu sorot warna-warni akan terlihat mendominasi sehingga menimbulkan pantulan cahaya yang sangat indah. Ada papan petunjuk, railing pengarah, kamera pengawas/CCTV selama 24 jam, tong sampah, dan lift bagi kaum disabel yang juga memberi kesan modern Kota Jakarta.

Adalah Ir Achmad Noerzaman, sosok arsitek di balik JPO ikonik tersebut. Bersama timnya dan berkolaborasi dengan kawan-kawan konsultan Arsitektur Pavilion 95, Presdir PT Arkonin (anak usaha PT Pembangunan Jaya) ini mengaku membutuhkan waktu cukup lama untuk merancang konsep JPO agar sesuai dengan karakter Jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin yang merupakan jalan protokol terbagus di Indonesia. "Kami berpikir, ini ikatan historisnya sangat kuat. Apa pun (pertimbangannya), ruas jalan tersebut akan menjadi bagian dari etalase, alias menjadi pajangan yang harus menarik dilihat, menjadi perhatian semua orang," ungkap Noerzaman menjelaskan.

Karena itu, yang terpikirkan olehnya, bagaimana memberikan desain yang bisa memberikan nilai sebagai bagian dari ruang publik dan bisa memberikan experience yang baik bagi penggunanya. "Idenya lahir dari semangat perjuangan. Yaitu, semangat Bung Karno, mulai dari perjuangan sebelum kemerdekaan hingga perjuangan revolusi," kata Noerzaman.

Inspirasi dari semangat Bung Karno ini telah dituangkan dalam Tugu Api Pemuda, patung pemuda di ujung Jalan Sudirman (depan Ratu Plaza). Dan, Noerzaman melengkapinya dengan membuat desain JPO yang satu napas dengan semangat itu. "Sehingga, lahirlah JPO berbentuk meliuk-liuk atau pelintiran. Itu sebenarnya menunjukkan kobaran api atau semangat atau movement, inspirasi dari Bung Karno," paparnya. Jadi, menurut arsitek lulusan Universitas Indonesia ini, desain JPO dibuat menyatu dengan GBK dan sekitarnya.

Sama seperti yang dilakukan gubernur terdahulu dalam pembangunan di Ibukota, anggaran proyek senilai Rp 16 miliar-17 miliar per satu jembatan ini bukan dari APBD, melainkan dari kelebihan dana Koefisien Lantai Bangunan (KLB). Salah satu komponen yang membuatnya mahal adalah lift yang ditujukan untuk kaum disabilitas. Selain itu, bahan-bahan yang digunakan juga menggunakan bahan seringan mungkin, tetapi harus kuat dan kelihatan kokoh.

Yang membuatnya istimewa, sistem pelaksanaan membuat waktu pengerjaan jadi sempit. Waktu kerja penuh cuma empat jam pada malam hari, selebihnya tidak bisa bekerja karena tidak boleh ada penutupan jalan. "Itulah makanya, waktu penyelesaiannya juga jadi lebih panjang; meleset dari rencana semula untuk menyambut Asian Games," ujar Noerzaman yang mengaku menghadapi kendala lapangan cukup banyak.

Setelah resmi dibuka pada Februari 2019, Noerzaman berharap penataan ruang publik di lingkungan Pemprov DKI seperti RPTRA, pembenahan RTH Kalijodo, Lapangan Banteng, dan kawasan pedestrian akan terus dilakukan. Mengapa? Sebab, kalau nantinya MRT sudah beroperasi penuh dan akan ada juga LRT, setidaknya infrastruktur pendukungnya sudah siap. Karena, pola orang bertransportasi akan pindah dari kendaraan pribadi ke transportasi publik sehingga orang akan lebih banyak berjalan kaki.

"Berarti, akan ada banyak pergerakan di (kawasan) pedestrian. Desain Jakarta ke depan itu haruslah yang ramah untuk pejalan kaki, dan fasilitasnya juga harus disiapkan dengan sangat baik," kata Noerzaman. Ia berharap agar penghijauan, shelter, serta spot untuk seni, budaya, dan olahraga (seperti skate board, bike park, jalur sepeda), semua agar disiapkan. "Maka, ke depan Kota Jakarta akan semakin ramah bagi orang yang berjalan kaki dan bisa membuat orang semakin bahagia," lanjutnya, bangga.

Dari pengalamannya mendesain jembatan layang Semanggi; ikut mengagas RPTRA; turut merencanakan pembangunan Lapangan Banteng; merehabilitasi pedestrian sepanjang Thamrin-Sudirman; merenovasi Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta; mendesain stasiun MRT di empat stasiun (Blok M, Sisingamangaraja, Blok A, dan Haji Nawi); serta mendesain stasiun LRT sepanjang Jagorawi, Bekasi, sampai Kuningan dan stasiun LRT velodrome sampai Kelapa Gading, Noerzaman optimistis, kemampuan arsitek Indonesia sangat memadai. Kalaupun mendapatkan referensi dari luar negeri, itu wajar karena dalam arsitektur pasti mencari preseden (pemicu). Bagi dia, tidak ada salahnya menemukan preseden dari luar. Yang penting, karya-karya arsitek Indonesia dapat dipertanggungjawabkan, baik secara artistik maupun secara ilmiah. (swa.co.id/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments