Jumat, 24 Mei 2019
  • Home
  • Profil
  • 910 Orang Tewas Akibat Gempuran Udara AS di Suriah
  • Home
  • Profil
  • 910 Orang Tewas Akibat Gempuran Udara AS di Suriah

910 Orang Tewas Akibat Gempuran Udara AS di Suriah

* Militer Irak Klaim Berhasil Ambil Alih 2 Kota Strategis dari ISIS
Selasa, 25 November 2014 13:55 WIB
Damaskus (SIB)- Dua bulan berlangsung, operasi militer Amerika Serikat terhadap militan ISIS di Suriah telah menewaskan lebih dari 900 orang.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar korban tewas merupakan anggota militan ISIS. Namun terdapat sedikitnya 52 warga sipil yang tewas akibat gempuran udara AS dan pasukan koalisi di sejumlah wilayah Suriah. Jumlah tersebut termasuk 8 anak-anak dan 5 wanita. Demikian disampaikan Syrian Observatory for Human Rights dan dilansir CNN, Senin (24/11).

Tercatat ada 910 korban tewas akibat gempuran udara militer AS dan koalisi dalam waktu 2 bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 785 korban tewas merupakan anggota ISIS. Namun diperkirakan jumlah korban tewas tersebut masih akan bertambah lagi karena Syrian Observatory mengklaim kesulitan dalam mencatat dan mengumpulkan data dari sejumlah wilayah Suriah yang berkonflik.

Menurut Syrian Obervatory, sebanyak 72 korban tewas lainnya merupakan anggota militan Al-Nusra Front yang masih berafiliasi dengan Al-Qaeda. Satu korban tewas merupakan anggota militan lain, yang disebut Islamic Battalions. Catatan PBB menyebutkan, sebanyak lebih dari 191 ribu warga Suriah tewas akibat serangkaian konflik di negara tersebut yang kini memasuki tahun keempat.

Ambil Alih 2 Kota
Militer Irak mengklaim berhasil mengambil alih dua kota yang ada di sebelah utara ibukota Baghdad, dari militan ISIS. Tentara Irak disebut berhasil mengusir ISIS dari dua kota yang telah dikuasainya selama beberapa bulan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (24/11), tentara Irak bersama dengan pasukan Kurdi dan milisi Syiah dilaporkan berhasil mengambil alih kota Jalawla dan Saadiya, yang berjarak 115 kilometer dari Baghdad. Sebagian besar warga setempat telah melarikan diri sebelumnya, semenjak ISIS menguasai kedua kota tersebut.

Sedikitnya 23 pasukan milisi dan pasukan Kurdi tewas dalam pertempuran yang terjadi pada Minggu (23/11) ini. Puluhan orang lainnya dilaporkan luka-luka dalam pertempuran yang sama. "Kami telah membebaskan Jalawla dan Saadiya," tutur pejabat senior dari Partai Patriotic Union of Kurdistan, Mala Bakhtiar via telepon kepada Reuters.

Bakhtiar memperkirakan, sekitar 50 anggota ISIS tewas dalam pertempuran tersebut. Jalawla dan Saadiya terletak di Provinsi Diyala yang sebagian besar dikuasai tentara Irak dan pasukan Kurdi.

Pemerintah Irak yang didukung oleh serangan udara militer Amerika Serikat dan pasukan koalisi terus berusaha memukul mundur ISIS yang menguasai sebagian besar wilayah utara negara tersebut sejak Juni lalu. Pekan lalu, militer Irak bersama pasukan Kurdi dan milisi Syiah berhasil merebut kembali kilang minyak Baiji yang merupakan kilang minyak terbesar di negara tersebut, dari tangan ISIS.

Tewaskan 200 Militan ISIS
Para penembak jitu dari pasukan elite Inggris (SAS) yang menggunakan motor roda empat, dilaporkan menembak mati sedikitnya delapan militan ISIS setiap hari. Diklaim sudah 200 militan yang tewas dalam empat pekan terakhir. Disebut laman Daily Mail, Minggu (23/11), sejauh ini SAS yang ditempatkan di Irak secara resmi dikatakan tidak terlibat dalam pertempuran. Tapi, keterangan sumber, disebut ada operasi rahasia yang dilakukan sekelompok kecil tentara.

Mereka diterjunkan menggunakan helikopter Chinook milik angkatan udara Inggris (RAF), di tengah wilayah yang dikuasai ISIS. Sasaran sebelumnya, diidentifikasi menggunakan drone yang dioperasikan dari pangkalan SAS, atau kelompok yang ada di lapangan.

Pasukan kecil itu dilengkapi dengan motor roda empat, yang bisa dilekatkan dengan senjata otomatis. Mereka bertugas melacak unit militan ISIS dan menyerang mereka secara tiba-tiba. Operasi itu telah dilakukan setiap hari dalam empat pekan terakhir. "Taktik kami adalah memberikan ketakutan bagi ISIS, karena mereka tidak tahu di mana akan menyerang selanjutnya. Sejujurnya, tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk mengantisipasi atau menghentikan kami," kata seorang sumber SAS.

Dia menambahkan bahwa operasi itu dimaksudkan untuk menurunkan moral para militan ISIS. Militan ISIS dapat lari dan sembunyi jika melihat pesawat di udara, sehingga serangan udara mungkin tidak lagi efektif untuk menyerang ISIS. "Tapi, mereka tidak dapat mendengar atau melihat kami," katanya. Banyaknya penembak jitu yang diturunkan SAS juga meningkatkan faktor ketakutan bagi ISIS, karena para militan tidak tahu apa yang terjadi, kecuali melihat rekan-rekan mereka tewas dan jatuh di pasir.

Taktik gerilya yang dijalankan SAS, disebut sumber itu menyasar rute pasokan utama ISIS di barat Irak, serta pos-pos pemeriksaan kendaraan yang dibuat ISIS untuk melakukan penculikan atau penyitaan uang dari sopir-sopir setempat.

Operasi dimulai dengan para komandan SAS mempelajari beberapa jam rekaman sasaran potensial, yang diambil melalui drone. Mereka juga mendengarkan hasil penyadapan komunikasi untuk mengidentifikasi para pemimpin ISIS.

Setelah sasaran teridentifikasi, sejumlah kecil tentara di lapangan akan menerima perintah operasi. Mereka kemudian meninggalkan pangkalan rahasia, dan menuju lokasi menggunakan helikopter yang turut mengangkut motor-motor roda empat. Sekitar 50 mil dari sasaran, tim akan diturunkan bersama motor, senjata otomatis, serta senapan penembak jitu. (Rtr/AP/dtc/vvn/i)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments