Jumat, 19 Jul 2019

30 Mahasiswa Arkeologi USU Kuliah Lapangan di Karo

admin Kamis, 04 Juli 2019 17:08 WIB
SIB/Dok
Keterangan : Beberapa mahasisawa sedang mendapat keterangan tentang mariam puntung dan sebagian pula di antaranya menyaksikan mariam puntung di tempatnya yang dianggap sakral.
Tanah Karo (SIB) -Sebanyak 30 mahasiswa arkeologi USU melakukan kuliah lapangan yang dibimbing DR Suprayitno MHum selama tiga hari di Kabupaten Karo.

Agenda kuliah lapangan mengunjungi sejumlah tempat bersejarah antara lain Situs Putri Hijau di Desa Seberaya dan Museum Letjen Djamin Ginting's di Desa Suka Kecamatan Tiga Panah dan Mariam Puntung di Desa Sukanalu Kecamatan Barusjahe.

Hal ini diungkapkan Dosen Pembimbing Arkeologi Ilmu Sejarah USU DR Suprayetno MHum, Kamis (20/6) di Desa Sukanalu.

Selain ke tiga lokasi itu kata Suprayetno, mahasiswa juga akan berkunjung ke sejumlah desa untuk melihat lokasi tempat kremasi, air tawar, makam syeh Tengku Lau Bahun, terowongan jepang, pengasingan bung Karno dan lainnya.

Di lokasi Mariam Puntung, mahasiswa mendapat keterangan dari juru kunci Maslela Br Tarigan didampingi Milar Ginting, sementara mahasiswa kuliah lapangan didampingi Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Karo Nancy Meininta Br Brahmana dan dosen pembimbing lainnya Drs Edi Sumarno MHum Dra Junita Setiana Ginting MSi dan Drs Lucas Partanda Koestoro (Balai Arkeologi Sumut).

Ditambahkan Suprayetno, praktek kuliah lapangan arkeologi dari program studi ilmu sejarah USU S1 stambuk 2018 dibimbing 7 dosen.

Tujuan kuliah lapangan untuk memperkenalkan kepada mahasiswa tempat bersejarah. Di Kabupaten Karo ada beberapa situs yang ditinggalkan atau diwariskan.

Terkait makam Tengku Lau Bahun kata Suprayetno, nisannya cukup unik, tidak seperti batu nisan Aceh yang dikenal selama ini atau yang ada di Barus, tapi memang ada adopsi. Jadi secara tipologi dari segi motif atau ornamen dari rumah adat Karo, katanya.

Situs arkeologi ini perlu diperkenalkan kepada mahasiswa, kita coba membangkitkan minat rasa cinta mereka terhadap cagar budaya sebagai warisan leluhur kita yang harus dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan sekaligus mereka dapat melihat dan mendengar secara langsung di lapangan. (BR2/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments