Rabu, 18 Sep 2019

Syahdunya Petang di Embung Nglanggeran, Gunungkidul

admin Minggu, 18 Agustus 2019 13:36 WIB
KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA
Petang di Embung Nglanggeran, Gunungkidul.
Sore hari adalah saat yang pas untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana. Matahari yang sudah mulai condong ke arah barat membuat udara tidak lagi panas sehingga nyaman untuk dinikmati.

Saat musim kemarau seperti ini, matahari terbenam menjadi momen yang dinanti. Itu karena langit cenderung lebih cerah sehingga ufuk barat lebih besar kemungkinannya untuk terlihat ketika matahari terbenam.

Keindahan matahari terbenam tak hanya tersaji untuk para fotografer saja. Siapa pun bisa menikmati momen pergantian siang menjadi malam itu. Salah satu tempat yang pas untuk menikmati sunset adalah di Embung Nglanggeran.

Lokasi Embung Nglanggeran tepatnya berada di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Embung yang berada dalam kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran ini bisa ditempuh sekitar satu jam dari Kota Yogyakarta.

Embung Nglanggeran merupakan waduk kecil tempat menampung air yang memiliki luas sekitar 0,34 hektare. Air embung ini digunakan untuk sarana pengairan di area perkebunan sekitar.

Dibangun pada pertengahan 2012 silam, Embung Nglanggeran mulai diresmikan pada 19 Februari 2013 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ini juga merupakan embung pertama di Yogyakarta.

Selain untuk pengairan, Embung Nglanggeran juga dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Itu karena keindahan panorama yang dapat disaksikan dari embung berketinggian sekitar 495 meter di atas permukaan laut ini.

Mulai dari sisi utara, tersaji pemandangan barisan Gunung Api Purba. Tampak formasi batuan yang eksotis dengan latar depan Embung Nglanggeran yang terlihat bagai kolam raksasa. Saat musim kemarau, debit air embung ini berkurang cukup drastis.

Sementara sisi selatan, hamparan Kabupaten Gunungkidul tampak membentang begitu luas. Terlihat pegunungan di ujung selatan yang memanjang bagai benteng raksasa. Memandang ke arah selatan rasanya seperti melihat hutan yang luas karena banyaknya pepohonan.

Sementara sisi barat menampilkan pemandangan matahari terbenam. Meski terdapat beberapa bukit, ufuk barat masih bisa disaksikan. Saat waktunya pas, matahari terbenam bisa disaksikan tanpa terhalang oleh bukit.

Saat KompasTravel berkunjung pada Minggu (11/08), posisi matahari agak condong ke utara sehingga sunset bisa disaksikan. Namun sayang, sore itu ufuk barat berawan sehingga proses terbenamnya matahari tidak terlihat.

Setelah momen sunset berlalu, keindahan Embung Nglanggeran belumlah sirna. Pengunjung masih bisa menikmati sisa keindahan yang tersisa seiring dengan semakin gelapnya langit malam.

Momen ini biasanya dimanfaatkan oleh para fotografer untuk mendapatkan keindahan foto malam Embung Nglanggeran. Tentu dibutuhkan kamera profesional seperti DSLR atau Mirrorless dengan perlengkapan tambahan seperti tripod atau ND Filter.

Hal itu karena kondisi Embung Nglanggeran usai matahari terbenam akan terlalu gelap jika dipotret menggunakan kamera smartphone. Penerangan di sekitar embung pun belum cukup untuk menerangi obyek foto.

Dengan pengaturan yang pas, Embung Nglanggeran akan tampak berdampingan dengan gemerlap lampu di kawasan pegunungan sekitarnya. Jika cuaca cerah, bintang di langit malam juga akan turut terlihat.

Waktu yang tepat untuk memotret saat petang di Embung Nglanggeran adalah sekitar pukul 18.15 WIB. Itu karena langit belum terlalu gelap sehingga masih menyisakan sedikit warna biru dan oranye di cakrawala barat untuk menghias jepretan foto.(Kps/com/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments