Rabu, 21 Agu 2019
  • Home
  • Pariwisata
  • Libur Lebaran, Bermain Merpati di Puncak Sosok Bantul Yogyakarta

Libur Lebaran, Bermain Merpati di Puncak Sosok Bantul Yogyakarta

admin Minggu, 09 Juni 2019 10:16 WIB
TEMPO|Yovita Amalia
Wisata Puncak Bukit Sosok di Bantul, Yogyakarta, menawarkan keindahan alam dari atas bukit.
Bagi yang menghabiskan libur Lebaran di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, bisa mampir ke Puncak Sosok di Dusun Jambon, Desa Bawuran, Kecamatan Pleret. Di sini, wisatawan diajak mendaki Bukit Sosok untuk menikmati matahari terbenam, berburu foto pemandangan alam di bawahnya, dan bermain bersama merpati.

Untuk mencapai ke sana bisa mengendarai sepedamotor maupun mobil. Jalannya berbatu dan hanya cukup dilalui satu mobil. Namun jangan khawatir akan bentrok dengan kendaraan lain karena jalur hanya dibuat satu arah untuk naik dan turun Bukit Sosok. Pengunjung mendapat tiket dengan tarif sukarela.

Saat masuk kawasan Bukit Sosok, puluhan burung merpati berseliweran seolah turut menyambut. Pemandangan ini tergolong baru ditemukan di objek wisata di wilayah Yogyakarta. Burung-burung merpati ini beterbangan dari rumah-rumah mungil mereka dari bambu di tepi tebing ke sisi tengah pelataran objek wisata.

Wisatawan yang ingin memberi makan merpati-merpati jinak ini akan diberi satu wadah pakan seharga Rp 3.000. "Sembari memberi makan merpati, pengunjung bisa berfoto bareng merpati," kata warga Dusun Jambon yang juga pengelola Puncak Sosok, Rino Raharjo saat ditemui, Rabu (22/5).

Ada dua waktu yang tepat untuk berkunjung ke Bukit Sosok. Pada pagi hari seusai subuh untuk menyaksikan matahari terbit, atau di sore hari guna mengejar pemandangan matahari terbenam. Pengelola menyediakan jembatan bambu yang panjang untuk tempat berfoto. Biasanya wisatawan berebut untuk naik ke sana. "Kami mengimbau jangan berdesakan demi keselamatan pengunjung," kata Rino.

Pemandangan lain yang bisa diabadikan adalah lokasi Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) Piyungan yang bisa dilihat dari Bukit Sosok. Saat pengunjung melongok ke bawah dari tebing, akan terlihat lautan sampah di TPST itu. Puluhan sapi dan kambing mengais makanan di sana. Para pemulung pun sibuk memilah sampah. Menurut Rino, itu bisa menjadi wisata edukasi bagi pengunjung tentang lokasi akhir sampah-sampah yang mereka buang berlabuh.

"Orang jadi tahu pemandangan tempat sampah terakhir seperti itu. Anak-anak juga bisa cerita kepada guru dan temannya di sekolah," kata Rino. Sayangnya, bau sampah yang menyengat acapkali tercium hingga ke Bukit Sosok. Menurut Rino, bau sampah biasa tercium setelah hujan malam hari dan sinar matahari akan menguapkan baunya esok hari. Bisa juga karena embusan angin yang 'mengantar' bau sampah sampai ke puncak bukit.

Toh, Puncak Sosok tak sepi pengunjung, terutama di malam hari. Pengunjung bisa berwisata kuliner di warung-warung artistik dari bambu dan beratap rapak atau daun tebu kering. Warung-warung itu tak sekedar tempat menjajakan makanan, melainkan bisa menjadi spot selfie atau pun objek foto pemandangan.

Pendaran lampu dari warung yang mirip pondok-pondok mungil itu acapkali menjadi sasaran kamera untuk dibidik dan diunggah di media sosial. Pengunjung akan duduk meriung di bangku-bangku kayu yang ada di pelataran depan warung sambil mendengarkan alunan musik dari kelompok band yang tampil di atas panggung kayu.

Wisata kuliner yang bisa dinikmati di Puncak Bukit Sosok antara lain sego wiwit dan aneka wedang. Sego wiwit adalah nasi berlauk ikan asin, sayur, telur rebus separuh yang biasa disajikan di atas daun waru untuk upacara menyambut panen raya di sawah. "Harganya cuma Rp 2.500 sampai Rp 3.000," kata Rino.

Sejak dikembangkan oleh warga Jambon dan pemerintah desa setempat pada 2017 lalu, Puncak Sosok selalu padat pengunjung di musim liburan. Pada Jumat malam, Sabtu malam, dan Minggu malam, jumlah wisatawan di sana bisa mencapai seribu orang. (T/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments