Jumat, 24 Jan 2020

Kisah Puolanka Kota Paling Pesimistis di Dunia

redaksi Minggu, 01 Desember 2019 15:33 WIB
detiktravel
Puolanka
Pernah dengar nama Puolanka? Jika belum, mari kenalan dengan kota Eropa yang disebut sebagai paling pesimistis di dunia tersebut.

Dilansir dari BBC, Selasa (26/11), Puolanka dikenal dengan nama The most pessimistic town in the world alias kota paling pesimistis di dunia. Alamak kasihan...

Sebelumnya, kita kenali dulu Puolanka. Puolanka merupakan kota kecil di negara Finlandia. Lokasinya sekitar 650 kilometer ke arah utara dari Helsinki, ibu kota negara Finlandia.

Luas wilayah Puolanka sekitar 2.598 km persegi, yang mana 150-an km perseginya adalah danau. Wilayah yang cukup luas itu hanya dihuni oleh 2.600 penduduk.

Sebagai perbandingan, luas wilayah Jakarta sekitar 661 km persegi. Tapi jumlah penduduk Jakarta mencapai angka 9 juta! Maka tak ayal, Puolanka begitu sepi. Lebih banyak hutan dan pegunungan daripada lalu-lalang manusia.

Bahkan, jumlah penduduk di Puolanka, 33 persennya adalah manula yang usianya sudah 64 tahun ke atas. Tak heran, suasana di kotanya begitu sepi. Pukul 5 sore, semua orang sudah pulang ke rumah.

Bukan cuma itu, angka kelahiran di Puolanka pun sangat rendah dan terus turun. Jadi masalah kekurangan populasi ikut membayangi kota ini.

Anak-anak muda di Puolanka juga lebih suka pindah ke kota-kota besar di Finlandia bahkan di negara lain di Eropa. Kalau ke Puolanka, hanya untuk bertemu orangtua.

Bahkan ada anekdot lucu. Kalau sedang menuju Puolanka akan ada papan bertuliskan 'Perhentian berikutnya: Puolanka. Anda masih punya waktu untuk berbalik'.

Dari mana julukan pesimistis yang disematkan pada Puolanka? Apakah ini memang "kampungnya" para pesimis?
Jadi begini, di Puolanka terdapat Puolanka Pessimist Association. Dari namanya sudah bisa ditebak, inilah asosiasi para pesimis.

Tommi Rajala adalah ketuanya. Pria berusia 41 tahun ini menjelaskan tentang Puolanka yang pesimistis, para pesimis di sana dan pesimisme yang ada.

"Kota-kota lain di Finlandia bahkan di Eropa punya festival. Kota kami tidak punya," terangnya.

Tommi menambahkan, banyak orang yang datang ke Puolanka dan sulit menemui opsi aktivitas. Iya, alamnya memang indah. Ada pula hutan untuk trekking dan danau yang luas sampai air terjun.

"Tapi, kota kami bukan destinasi wisata. Tidak ada apa-apa yang bisa dilakukan. Restoran cuma satu saja," katanya.

Maka tak heran orang-orang Finlandia sendiri enggan datang ke sana. Kemudian entah siapa yang memulai, nama Puolanka pun dikaitkan dengan pesimisme.

"Orang-orang menjuluki kami pesimis. Mereka beranggapan, banyak penduduk yang pindah, angka kelahiran sedikit dan kotanya begitu-begitu saja. Banyak bangunan sejak tahun 1970-an yang masih terawat baik lho. Jadi mungkin ya makin pas lah kata-kata pesimistis dengan kota kami," papar Tommi.

Sedihkah Tommi? Tidak juga. Pesimis menjadi brand untuk Puolanka.

"Ya, kita memakai kata pesimis untuk mengenalkan Puolanka. Kami harus bisa menjadi kota pesimistis terbaik dunia," katanya dengan nada datar.

Puolanka Pessimist Association pun punya banyak anggota. Mereka adalah orang-orang tua yang kegiatannya ngumpul, ngopi bareng dan ngobrol-ngobrol.

"Kami punya Festival Pesimis yang berlangsung dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember," terang Tommi.

Ya, tentu bisa dibilang kalau apa yang Tommi dan asosiasinya lakukan hanya untuk lucu-lucuan. Jika nama pesimis kadung melekat pada Puolanka, ya sudah terima saja.

"Kalau tampang kamu jelek, ya sudah terima saja. Kami pun dibilang pesimis, ya sudah kami terima kok kalau kami memang pesimistis," tutupnya sambil tersenyum. (detikTravel/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments