Selasa, 22 Sep 2020

Gurun Pasir Telaga Biru, Mengambang di Atas Danau

Minggu, 23 Agustus 2020 19:25 WIB
Dok. Kemenparekraf

Gurun Pasir Telaga Biru dulunya merupakan bekas lahan tambang pasir.

Kisah negeri 1001 malam, hanyalah rekaan Ratu Syahrazad, seorang Ratu Persia untuk menunda hukuman mati baginya. Cerita yang panjang itu dikiaskan sebagai kisah yang tak ada habisnya, hingga 1001 malam. Latarnya beragam, dari Persia, Arab, India, hingga ke Cina.

Sastra inipun mampir ke Melayu, pada abad ke-15. Bahkan kisah Aladdin juga disebut-sebut masyarakat awam sebagai bagian dari kisah dari negeri 1001 malam. Nah, di Kepulauan Riau, ada destinasi wisata yang sedang naik daun yang dijuluki sepotong negeri 1001 malam yang mengambang di atas danau.

Warga menyebutnya sebagai Gurun Pasir Telaga Biru. Lokasinya berada di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Tepatnya di Desa Busung, Kecamatan Tanjung Uban.

Untuk menuju lokasi telaga, traveler bakal mendapati panorama hutan, kebun karet, hingga rawa-rawa. Senuah perjalanan yang tak membosankan sepanjang 57 kilometer dari Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah di kota Tanjungpinang -- dengan waktu sekitar 1 jam. Sementara, dari Pelabuhan Tanjung Uban, pengunjung cukup menempuh perjalanan darat sejauh 17 kilometer atau selama 20 menit saja.

Usai menikmati perjalanan itu, tibalah di lokasi Gurun Pasir Telaga Biru. Pengunjung langsung disambut dengan hamparan pasir putih yang cukup luas. Gundukan pasir yang membentuk gunung pasir tersebut semakin memperkuat kesan padang pasir di destinasi ini. Sebelum wabah virus corona, selain wisatawan nusantara, destinasi ini disukai turis dari Cina.

Selain pemandangan hamparan pasir putih, di lokasi ini juga terdapat sejumlah telaga yang terisi air berwarna biru. Pemandangan bak oase di padang pasir ini, menjadikkannya spot yang instagenik. Para wisatawan menjadikannya objek foto.

Dinukil dari siaran pers Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), salah seorang pedagang di sekitar Gurun Pasir Telaga Biru, Nurhanisah mengatakan, gurun pasir ini sebenarnya sudah ada sejak 20 tahun yang lalu. Dulunya, gurun pasir ini adalah lokasi pertambangan pasir.

“Dulu di sini menjadi lokasi penambangan pasir, tapi baru jadi objek wisata sekitar tahun 2017, baru tiga tahun yang lalu,” kata Nurhanisah.

Wanita yang sudah beberapa tahun berdagang di Gurun Pasir Telaga Biru ini menceritakan penataan lokasi destinasi wisata ini awalnya dilakukan secara swadaya oleh warga Desa Busung.

“Jadi fasilitas-fasilitas seperti toilet, warung-warung, dan jembatan-jembatan kayu yang sudah ada itu dibuat masyarakat setempat sejak awal pembukaan lokasi ini,” katanya.

Nurhanisah juga menceritakan situasi Gurun Pasir Telaga Biru sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Menurut wanita yang berjualan makanan dan minuman itu, biasanya setiap hari ada sekitar 100 wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang datang berkunjung.

Angka ini bahkan bisa meningkat hingga dua kali lipat ketika akhir pekan ataupun hari libur nasional. Akan tetapi, sejak pandemi Covid-19 melanda, angka kunjungan turis menurun drastis.

“Sekarang ini paling 10-20 orang, Sabtu-Minggu paling banyak. Itu pun hanya (wisatawan) lokal, karena wisatawan asing sudah tidak ada,” tutur Nurhanisah.

Untuk membangkitkan kembali potensi wisata di Kepulauan Riau, terutama di Kabupaten Bintan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lewat program “Kepulauan Riau Rebound” mendedikasikan alat-alat kebersihan serta sarana yang dibutuhkan untuk membenahi dan meningkatkan kebersihan destinasi wisata, terutama di Gurun Pasir Telaga Biru.

Alat dan sarana tersebut di antaranya alat pendukung kebersihan, kesehatan, dan keamanan, fasilitas kebersihan seperti wastafel dan tempat sampah, thermogun, P3K dan disinfektan, papan signage sapta pesona, dan papan protokol kesehatan.

Tidak hanya itu, dalam acara “Kepulauan Riau Rebound” yang dilaksanakan pada 6 Agustus 2020, Kemenparekraf/Baparekraf beserta masyarakat Desa Busung juga bergotong royong membersihkan sampah dan tumbuhan liar di sekitar lokasi Gurun Pasir Telaga Biru.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Hari Santosa Sungkari mengatakan, kebersihan menjadi bagian penting dalam mempromosikan suatu destinasi wisata di era adaptasi kebiasaan baru. "Kebiasaan baru berarti kita selalu bersih dan higienis," kata Hari.

Hari pun mengajak masyarakat untuk selalu menaati protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability). Misalnya rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan destinasi wisata dan warung yang ada di sekitar lokasi, serta mengenakan masker.

"Mari kita dengan sangat serius menjalankan protokol ini sebagai kebiasaan baru. Agar nanti dengan penerapan protokol ini ada kabar baik sehingga wisatawan akan kembali datang ke sini," ujar Hari. (T/f)

T#gs Gurun Pasir Telaga BiruMengambang di Atas Danau
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments