Sabtu, 16 Nov 2019
  • Home
  • Pariwisata
  • Grenjengan Kembar, Air Terjun Ganda yang Tersembunyi di Lereng Merbabu

Grenjengan Kembar, Air Terjun Ganda yang Tersembunyi di Lereng Merbabu

admin Minggu, 30 Juni 2019 12:52 WIB
Kompas.com/Anggara Wikan Prasety
Air Terjun Grenjengan Kembar di Lereng Gunung Merbabu.
Air terjun di kawasan pegunungan merupakan obyek wisata yang pas dikunjungi untuk mengisi liburan. Kesejukan ganda dari air dan udara gunung menjadi dua hal yang akan membuat liburanmu semakin berkesan.

Ada banyak air terjun yang ada di kawasan pegunungan. Beberapa di antaranya memang sulit dijangkau, tetapi tidak sedikit pula yang mudah untuk dijangkau. Jika hanya ingin berwisata di air terjun tanpa berpetualang di alam, pilihlah air terjun yang aksesnya mudah.

Salah satu obyek wisata air terjun yang bisa dikunjungi adalah Grenjengan Kembar. Air terjun ini berada di lereng sebelah barat Gunung Merbabu. Keberadaan air terjun ini pun menjadi salah satu alternatif obyek wisata yang tersebar di sekitar gunung itu.

Air Terjun Grenjengan Kembar tepatnya berada di Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jarak tempuh dari Kota Magelang adah kurang-lebih 24 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Dari area parkir, pengunjung yang akan mencapai titik air terjun harus berjalan sekitar 5-10 menit. Meski demikian, rute yang harus dilalui tidaklah berat. Kondisi jalan setapak juga sudah baik dan mudah dilalui.

Sesuai dengan namanya, Grenjengan Kembar merupakan air terjun dengan aliran ganda atu kembar. Tentu air terjun semacam ini merupakan sesuatu yang langka. Kebanyakan air terjun biasanya hanya memiliki satu aliran saja.

Selain unik, air terjun Grenjengan Kembar juga begitu menyegarkan. Berada di sekitar ketinggian 1.000 meter di atas pemukaan laut (mdpl) membuat udara khas pegunungan sangat terasa.

Sejuknya udara gunung semakin terasa dengan letak air terjun yang berada di tengah kawasan hutan. Pengunjung tidak perlu khawatir akan panasnya sinar matahari jika berkunjung siang karena terhalang oleh pepohonan.

Sumber air terjun yang berasal dari Gunung Merbabu juga membuatnya begitu segar. Saat disentuh, air terasa begitu sejuk. Mencuci muka dengan air tersebut seolah bisa mengusir lelah dan kantuk selama perjalanan.

Air terjun ini paling pas dikunjungi ketika peralihan musim hujan menuju kemarau antara Mei sampai petengaha Juli. Hal itu karena risiko banjir sudah tidak begitu besar saat memasuki musim kemarau.

Selain itu, debit air juga masih cukup besar saat peralihan musim hujan menuju kemarau. Hal itu membuat air terjun lebih menawan, tetapi tanpa adanya risiko banjir. Saat puncak musim hujan, lokasi air terjun akan banjir saat terjadi hujan di area atas Gunung Merbabu.

Saat masuk musim kemarau, debit air terjun tidak langsung surut. Alirannya akan berkurang sedikit demi sedikit. Saat penulis berkunjung Minggu (23/6), aliran airnya masih menengah.

Namun saat masuk pertengahan hingga akhir musim kemarau antara pertengahan Juli sampai September, aliran airnya akan sangat kecil dan bahkan bisa saja surut. Hal itu disebabkan karena sumber air juga dimanfaatkan untuk keperluan hidup masyarakat sekitar. (Kps.com/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments