Minggu, 05 Apr 2020

Berburu Ombak di Kepulauan Mentawai

Redaksisib Minggu, 23 Februari 2020 11:10 WIB
CNN Indonesia/Adi Prima

Pantai berpasir putih di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. 

Turis mancanegara berduyun-duyun ke Indonesia, sementara turis Indonesia ramai-ramai ke luar negeri untuk liburan. Anekdot ini bakal sering kita dengar saat berkunjung ke Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Sejak awal tahun sampai November gelombang tinggi terjadi di perairan Sumatera Barat. Di Kepulauan Mentawai, gulungan ombak itu malah dinanti oleh para peselancar luar negeri.

Ombak Mentawai yang ditunggangi surfer-surfer itu terbukti telah menghidupi masyarakat sekitar dari geliat pariwisata yang berkembang pesat di sana.

Ratusan titik surfing
Kepulauan Mentawai pasti ada dalam bucket list tiap peselancar lokal dan dunia.

Ada ratusan titik ombak untuk berselancar di sini. Peselancar tidak perlu sampai berkelahi karena berebut ombak seperti di negara asalnya.

Kemampuan berselancar dan besarnya gelombang yang ingin ditaklukan juga bisa disesuaikan, ada ombak pantai ada ombak karang.

Ombak Mentawai diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Pengakuan bukan dari masyarakat Mentawai, tapi dari peselancar yang pernah merasakan ganasnya ombak di sini.

Irwan Duha Sababalat (32), surf guide di Pulau Sipora, pernah mendapatkan uang tips US$200 (sekitar Rp2,7 juta) dari peselancar yang ingin menaklukkan ombak besar Mentawai.

Setelah sampai di titik ombak Sky Craw, Sipora, nyali si tamu ciut melihat besarnya ombak. Namun sesuai perjanjian, si tamu tetap harus membayar tips meskipun ia tidak jadi berselancar, kenang Irwan.

Surganya pasir putih
Selain surfing, turis yang datang ke Mentawai juga bisa menyelam atau memancing. Untuk spot menyelam favorit, biasanya turis diantar ke Pulau Setan.

Kalau menginap di resor, ada fasilitas antar jemput wisata bahari yang terpadu. Jika tidak, masih banyak perahu nelayan yang disewakan.

Tak hanya pantai, Mentawai juga masih melestarikan seni budaya Suku Mentawai yang terkenal dengan tato tradisionalnya.

Tersedia layanan ekowisata yang dikelola Mentawai Ecotourism bagi turis yang ingin berkenalan lebih dekat dengan Suku Mentawai.

Meski ada ratusan titik ombak dan pasir putih di Kepulauan Mentawai, sayangnya dampak baik pariwisata bagi perekonomian masyarakat di Kepulauan Mentawai masih belum terasa.

Salah satu faktornya karena pengelolaan fasilitas dan layanan pariwisata di sini belum terlalu masif seperti yang terjadi di Bali, Lombok, atau Yogyakarta.

Walau demikian, masyarakat di Kepulauan Mentawai tetap menyambut kedatangan turis dengan hangat.

Hamparan pasir putih dan keramahan masyarakat Mentawai akan meninggalkan kesan tersendiri bagi turis yang berkunjung.

Seperti kata J.R Logan, umumnya orang Mentawai baik hati; peramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hiasan-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato (The Chagalelegat or Mentawe Islanders, 1855). (CNNI/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments