Senin, 24 Feb 2020
Banner Menu
Detail Utama 1
  • Home
  • Opini
  • Wabah Kematian Babi Tak Hanya Jadi Misteri, Tapi juga Jadi Kendala Ekonomi

Kematian Massal Ternak Babi Sudah Pernah Terjadi di Taput Jelang Akhir Tahun 1996

Wabah Kematian Babi Tak Hanya Jadi Misteri, Tapi juga Jadi Kendala Ekonomi

Catatan: Drs Ads Franse Sihombing, Wartawan SIB
redaksi Jumat, 06 Desember 2019 21:26 WIB
cnnindonesia.com
Ilustrasi anak babi
Kematian massal ternak secara beruntun di sejumlah daerah di Sumut baru-baru ini, termasuk Kota Medan sekitarnya, agaknya menjadi semacam misteri. Terlebih, bila dikaitkan dengan kondisi sebenarnya bahwa obat untuk penyakit hog cholera yang menyerang ternak babi ini, terbilang murah harganya dan mudah mendapatkannya.

Apa yang dicetuskan salah satu guru besar USU ahli paru-paru, Prof Dr Rudolf Parhusip SpP (SIB Rabu 4/12), plus atas riset dan surveinya ke lapangan secara mandiri, kian menambah bongkahan pertanyaan publik: kalau obatnya murah, mudah didapat dan penyakit hog cholera itu hanya semacam mencret, kok begitu sulit dan sampai lama mencari solusinya? Misterius benar.

Apa yang terjadi sekarang dengan peristiwa yang telah menimbulkan belasan ribu ekor babi (publikasi terakhir, 9.812 ekor babi yang sudah mati di empat daerah), mau tak mau mengingatkan publik akan peristiwa serupa yang terjadi jelang akhir 1996 silam, atau 23 tahun lalu.

Majalah Batak, Bona Ni Pinasa, Nomor 82 edisi Februari 1997 halaman 19 mengungkapkan terjadinya kematian ternak babi secara massal di Tapanuli Utara (ketika itu belum mekar dengan kabupaten Tobasa, Samosir, dan Humbang Hasundutan). Kematian massal yang kemudian disebut (ditulis) sebagai 'Misteri Kepunahan Babi di Taput" itu, terjadi akibat wabah penyakit yang disebut mycroplasma (penyebaran bakteri secara laten fisik), pasteurelosis (serangan bakteri yang mempengaruhi kekebalan tubuh hewan, terutama babi), swine influenza (semacam flu angin) dan pneumonia (gangguan pada paru-paru).

Ke-4 wabah itu memang rawan pada ternak babi, terlebih pada musim hujan atau pancaroba. Gejalanya, babi sering mengeluarkan lendir, kurang nafsu makan, tubuhnya tampak lemas dan kian kurus. Kandang kotor dan kumuh bisa memperluas tularan wabah yang menimbulkan kematian ternak tersebut. Ternak babi, secara anatomi, memang ternak yang paling sensitif terhadap penyakit.

Dua mahasiswa UGM asal Tano Batak, Francha Jamoslin Limbong dan Friska Sartika Saragih, ketika itu secara mandiri juga (mirip tindakan Prof Rudolf Parhusip itu), melakukan survei dan penelitian atas kematian ternak babi. Majalah tersebut memang tidak menyebutkan jumlah ternak babi yang mati secara misterius di Bumi Tapanuli ketika itu, hanya disebutkan prediksi kolektif mencapai separuh atau 50 persen dari populasi ternak babi di daerah itu.

Gejala penyakit dan kematian ternak babi memang disebutkan sudah terjadi pada 1995. Ketika itu ada diawali isu sekelompok orang atau pemburu babi hutan (celeng) yang menyebar serbuk racun untuk menjebak babi-babi hutan di satu kawasan hutan Parlilitan. Ternyata, racun itu berimbas pada kerusakan tanaman atau tumbuh-tumbuhan, yang justru rutin diambil warga desa setempat untuk makanan ternak babi piaraan sehari-hari.

"Wabah penyakit dan kematian babi ketika itupun bukan hanya jadi misteri, tapi juga menjadi momok buruk bagi perekonomian masyarakat setempat. Ternak babi, walaupun dulunya sebagai mata pencaharian sampingan selain hasil pertanian kopi dan nilam, tetap diperlukan dalam transaksi acara adat dan budaya setempat. Sekarang, nilai ekonomi ternak babi itu semakin tinggi dengan maraknya ekspansi restoran atau kuliner khas Batak, plus perkembangan semangat pesta tradisional atau acara seremonial yang mewajibkan adanya menu khusus itu," ujar Ir Raya Timbul Manurung sembari menunjukkan arsip majalah lama itu, kepada penulis.

Tentang wabah atau penyakit yang menyerang ternak babi secara massal pada 1996 itu, tercatat ketika itu juga terjadi di daerah lain seperti di Bali dan Irianjaya (kini Papua). Di Bali dan Irian bahkan sudah terjadi pada tahun 1994. Peristiwa itu memang menjadi perhatian pemerintah meneliti penyebab kepunahan. Namun, seperti yang terjadi sekarang di Sumut pun, belum ada resume maupun solusi baku untuk dipaparkan kepada publik.
Sampai kapan misteri ini ter…atau di… pendam?
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments