Minggu, 22 Sep 2019
  • Home
  • Opini
  • Tilhang Gultom dan Pariwisata Kawasan Danau Toba

Tilhang Gultom dan Pariwisata Kawasan Danau Toba

Oleh Prof Albiner Siagian (Guru Besar USU; Ketua Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak; Pemerhati Kawasan Danau Toba)
admin Senin, 24 Juni 2019 20:36 WIB
Prof Albiner Siagian
Pada 3 (tiga) artikel saya tentang pariwisata Kawasan Danau Toba di surat kabar terbitan Medan beberapa waktu yang lalu (Tidak Harus Monaco of Asia, 24 April 2016; Membenahi Kawasan Danau Toba, 25 Februari 2017; dan Pembangunan Kawasan Danau Toba: Karpet Merah Buat Siapa?, 4 November 2017), saya selalu menekankan bahwa jati diri Kawasan Danau Toba (KDT) adalah keindahan alam (natur) dan keunikan budaya (kultur). Keindahan alam direpresentasikan oleh Danau Toba, Pulau Samosir, dan kawasan yang mengitarinya yang merupakan hasil dari peristiwa alam yang dikenal sebagai letusan Gunung Toba puluhan ribu tahun yang lalu.

Di pihak lain, penduduk penghuni awal kawasan ini, walaupun kemungkinan berasal dari leluhur yang sama, dengan terpisahnya tempat tinggal mereka di sekitar KDT, memiliki budaya dan produk budaya yang beranekaragam (adat, bahasa, seni, dan kesusastraan). Inilah yang saya sebut sebagai keunikan budaya itu.

Oleh karena itu, kalau hendak menjadikan kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata, apalagi yang bertaraf internasional, perhatian, terutama, harus difokuskan pada kedua jati diri KDT itu. Segala daya dan upaya pembangunan KDT harus dilakukan untuk pelestarian jati dirinya. Dalam kaitannya dengan budaya, melestarikan berarti membangkitkan kembali praktik-praktik dan ritual produk budaya masyarakat KDT. Sementara itu, melestarikan alam bermakna memelihara ke-natural-annya. Itu berarti sentuhan pembangunan haruslah bermuara pada pelestarian keindahan alamnya, yang tidak menggerus jati dirinya.

Terkait dengan pelestarian budaya serta pengembangannya sebagai daya tarik kawasan ini sebagai tujuan wisata, stakeholder pembangunan pariwisata KDT, khususnya pemerintah yang diwakili oleh Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BODT), perlu menginventarisir dan menggali kekayaan budaya dan adat masyarakat di KDT untuk dibangkitkan dan pada akhirnya siap dan layak untuk dipertunjukkan sebagai sajian budaya khas bagi wisatawan.

Untuk tujuan itu, salah satu yang perlu mendapat prioritas adalah menghidupkan kembali salah satu jenis pertunjukan Batak yang kini sudah redup, atau tepatnya mati suri. Padahal, selama puluhan tahun, seni drama pertunjukan yang dikenal sebagai Opera Batak ini sempat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Menyebut Opera Batak, orang Batak pada umumnya, terutama yang berusia 50 tahun ke atas, akan mengingat satu nama besar: Tilhang Gultom. Dialah Sang Maestro Opera Batak.

Tilhang Gultom, yang bernama lengkap Tilhang Oberlin Gultom (1896-1970), adalah seorang putra kebanggaan Batak yang dilahirkan di Sitamiang, Onan Runggu, Kabupaten Samosir. Dialah pendiri Opera Tilhang (1920-1973). Selama karirnya dalam dunia seni pertunjukan dan seni musik Batak, Tilhang Gultom telah menciptakan lebih kurang 360 lagu Batak, 12 tumba (seni tari), dan 24 drama. Beberapa lagunya yang hingga kini masing populer adalah Hutongos Surathu tu Ho, Harambir ni Silindung, Jamilah, Mardalan Ahu Marsadasada, Tinintip Sanggar, dan Jongjong Ahu Manatap. Selain lagu dalam Bahasa Batak, Tilhang juga menciptakan lagu berbahasa Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Indonesia Merdeka dan Oh Pahlawan yang Sakti. Selain itu, Tilhang Gultom juga menciptakan sejumlah reportoar musik, seperti Si Bunga Ri, Saniang Naga Laut, dan Si Bukka Pikiran.

Sebelum menjadi Opera Batak, Tilhang Gultom pertama-tama mendirikan grup drama-musik Tilhang Parhasapi. Anggotanya adalah Pipin Butarbutar (sarune, seruling), Raja Gultom (kecapi, dan gong), dan Tilhang Gultom (hasapi ende sekaligus pembawa cerita). Grup inilah yang menjadi cikal-bakal Opera Batak Tilhang. Dalam perjalanannya, Opera Tilhang telah beberapa kali berganti nama. Nama yang terakhir adalah Opera Seni Ragam Indonesia (Serindo) (Silitonga, 2018). Terkait dengan Opera Serindo, nama tokoh yang tak boleh dilupakan adalah AWK Samosir. Dialah salah seorang penerus Tilhang Gultom.

Salah satu karya seni drama monumental Tilhang Gultom adalah Si Boru Tumbaga. Si Boru Tumbaga mengisahkan ketidakadilan pembagian harta warisan antara anak laki-laki dan anak perempuan pada tradisi adat Batak. Saya menduga, Si Boru Tumbaga adalah kritik atau sentilan Tilhang Gultom terhadap ketidakadilan itu. Karya drama opera Tilhang Gultom lainnya yang tak kalah populernya adalah Sisingamangaraja, Guru Saman (Saman Paranginangin), Si Mardan, Sampuraga, dan Si Piso Sumalim (Silitonga, 2018).

Seniman hebat lain yang merupakan bagian dari perjalanan Opera Batak adalah adalah Zulkaidah Br Harahap. Dia dijuluki Ratu Opera Batak. Seniman tari (tortor) dan lagu Batak tradisional yang oleh teman-temannya dipanggil 'Namboru' ini hampir sepanjang hidupnya diabdikan untuk Opera Batak. Dia piawai memainkan hasapi dan seruling. Suara khas-bataknya (cengkok Batak) amat terasa dan pas ketika melantunkan lagu andung Batak. (Saya beruntung pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau.) Dalam pengakuannya pada berbagai kesempatan, Zulkaidah Harahap menyampaikan pesan Tilhang kepadanya untuk meneruskan Opera Batak.

Mari kita beranjak kembali ke soal kaitan antara keunikan budaya (kultur), Opera Batak, dan Tilhang Gultom dengan parawisata KDT itu. Melalui tulisan ini, saya sebagai pencinta budaya Batak, menghimbau kepada pemerintah, pengelola Otorita Danau Toba, atau pihak-pihak lain yang terlibat dalam pengembangan KDT sebagai derah tujuan wisata, agar menghidupkan kembali seni pertunjukan tradisional Opera Batak itu. Langkah awal yang tepat dilakukan adalah mendirikan gedung pertunjukan yang di dalamnya pagelaran seni-budaya berlangsung, termasuk pertunjukan Opera Batak.

Ada beberapa dampak positif terkait dengan pariwisata KDT yang timbul akibat pendirian gedung pertunjukan tersebut. Itu akan menggairahkan kembali seni pertunjukan opera di KDT. Bibit-bibit seniman pertunjukan Batak, pun akan bermunculan. Pelancong domestik dan mancanegara akan memiliki alternatif hiburan tradisional di KDT. Akibatnya, arus wisatawan ke KDT akan meningkat, paling tidak wisatawan domestik, karena ada banyak orang Batak yang rindu menonton seni pertunjukan opera Batak itu. Efek lanjutannya adalah meningkatnya perekonomian masyarakat di KDT. Dan, yang tak kalah pentingnya, itu adalah salah satu bentuk pelestarian budaya Batak dan penghargaan kita kepada orang yang berjasa mengembangkan dan melestarikan kebudayaan Batak. Kalau kesulitan menemukan namanya, saya usulkan "Ruma Bolon Opera Tilhang Gultom" (Tilhang Gultom Opera House).

Tilhang Gultom hanyalah salah seorang maestro di antara para maestro seni di KDT. Kita memiliki, antara lain, Nahum Situmorang, S Dis Sitompul, Jaga Depari, Liberty Manik, dan Taralamsyah Saragih. Mereka juga amat berjasa dan pantas dikenang serta diabadikan. Itu semuanya akan berkontribusi kepada pencapaian tujuan KDT sebagai daerah tujuan wisata. (d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments