Senin, 28 Sep 2020

Ternoda

karya Sonya Maria Panggabean - Medan
redaksi Minggu, 12 Januari 2020 19:42 WIB
kompasiana.com
Ilustrasi
Chika memanggilnya Fian. Nukilan dari nama indah cowok yang memesona hatinya, Wahyu Alfian Dwi Rizkiansyah Dika Pratama. Fian menyapanya dengan Chika, nama cantik yang menambat perasaan, Magda Fransiska Retno Palupi.

Chika pernah minta disapa Magda seperti kawan-kawan di sekolah, tapi Fian memilih sendiri: Chika. Sama seperti Fian, yang ingin disapa Dwi tapi Chika merasa lebih dekat memanggil Fian.

Menurutnya, kalau 'Dwi' artinya dua padahal di belakang nama itu ada Pratama yang artinya pertama.
"Ya sudah terserahmu," sela Fian. "Yang penting namaku itu adalah doa dari orangtua yang artinya 'lelaki hebat!"
Chika pun cerita makna namanya, pemberian kakek-neneknya yang menginginkan keturunannya lembut dan indah pribadi dan karakternya.

Sambil beriringan, Fian meletakkan tas ranselnya satu senti di atas kepala Chika. Ia tak ingin perempuan bersorot mata sendu itu tertimpa hujan. Semakin jauh berjalan, keduanya semakin rapat. Soalnya, Chika pun tak ingin Fian menanggung sendiri gerimis yang kali ini tidak manis.

Sudah agak gelap tapi Fian tak ingin membiarkan Chika sendirian. Selain hujan, kan belakangan selalu terdengar begal. Batinnya berbisik, jika cintaku dibegal, tak ada gunanya lagi hidup.

Fian dengar, ada pria pindahan dari kota yang suka pada Chika. Kekhawatiran berubah menjadi ketakutan ketika ia tahu pria tersebut ngotot ingin memiliki Chika. Padahal, terang-terangan Fian mengatakan hatinya lebih dulu tertambat pada Chika.

Saat gerimis seperti ini, hati Fian terluka. Ia khawatir, jika Doan tahu Chika kehujanan, bisa saja ia membawa mobilnya mengantar Chika. Itulah yang membuatnya bertahan mengantar sampai ke lokasi terdekat dengan rumah Chika.

Orangtua Chika pun bisa marah jika tahu putrinya pulang sekolah kehujanan. Kan bisa minta dijemput atau naik angkot. Tetapi memang Chika lebih suka jalan.

Selain masih dekat juga sport sore. Baginya, perempuan tidak boleh manja. Orangtuanya pun mendidik seperti itu. Jika ada hal kecil, selesaikan sendiri. Bila nanti sudah dak mampu, barulah minta bantuan.

Chika justru kasihan pada Fian. Setelah mengantar, pulang seorang diri. Kehujanan. Rasanya ia ingin memberi uang agar Fian naik gojek, tapi Chika takut pria itu tersinggung.

Kekhawatiran itu membuatnya terus menoleh ke belakang. Betapa harunya ia karena saat bersamaan Fian pun menoleh ke belakang.

Dari kejauhan keduanya melambai tangan. Sesaat berselang, mobil sport menyemprotkan air yang tergenang ke tubuh Dian.
Chika berteriak sendiri karena adegan itu masih dilihatnya. Ia berlari, ingin mengejar Fian tapi teriakan ibunya menyadarkannya bahwa ia sudah sampai di depan rumah.
"Ada apa?"

Chika menggeleng tapi tangannya menunjuk ke simpang jalan. Aduh, basahlah Bang Fian. Kurang ajar kali orang kaya itu. Mentang-mentang naek mobil, sesukanya.

Chika menumpahkan kegeramannya di FB Story. Tak ada yang ditagnya. Ia pun menambah ceritanya dengan mata yang berair. Tak sampai lima menit, unggahannya disambut emoji ngakak. Pengirimnya D-o-a-n.

Jahat... tulis Chika membalas. Doan memang ingin menyingkirkan Fian dari hatinya. Tetapi, semakin Doan menyakiti Bang Fian, semakin keukeh ia memerhatikan pria idamannya.

Yang bikin kesal, abang Chika menjodoh-jodohkan adiknya dengan Doan. Kebetulan abangnya satu kuliah dengan pria dari keluarga kaya itu.

Abangnya menjamin Doan orang baik. Terbukti dari karakternya. Selain anak orang kaya, juga memiliki prestasi di kampus. Nilai yang didapatnya terus maksimal.

Abang Chika justru menjamin Doan seorang kesatria. Meski Chika berdalih dan menunjukkan bukti, tapi Doan tetap dapat pembelaan. Abang Chika bahkan terang-terangan mengajak adiknya ke rumah Doan.

Meski menolak, Chika ikut. Lama-kelamaan, Fian tahu bahwa Chika datang ke rumah Doan. Ia jadi kesal karena hampir tiap orang cerita bahwa Chika sudah pergi ke mal dan nonton.

Chika mengakui tapi ia bersikukuh hatinya tetap pada Fian. Meski Chika menggaransi, Fian kadung terluka. Ia tidak ingin membalas tapi cuma hendak menunjukkan pada Chika bahwa ada perempuan lain yang juga suka padanya.

Fian nekad pergi dengan wanita itu. Saat bersamaan, Doan mengantar Chika mengantar prakarya ke sekolah. Dilihatnya Doan sedang bergandengan tangan dengan perempuan lain. Chika jadi terluka.

"Begitu sakit hatimu melihatku dengan perempuan lain, berkali lipat hatiku tersakiti ketika kamu mengaku pergi dengan Doan. Aku tahu, aku orang miskin..."

"Bang Fian... aku mengaku salah. Kupikir abang tidak membalas dengan perbuatan keji. Kau jahat... "
Fian menyesal melakukannya. Ia minta maaf, baik secara pribadi maupun di seluruh lini massa dan setiap ucapan itu ditag pada Chika.

Ingin dikomennya permintaan maaf dan sesal tersebut, tapi setiap kali hendak membalas, ia menangis. Hatinya teramat mencintai Fian tapi ternoda dengan air mata. (d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments