Jumat, 22 Nov 2019

RENUNGAN BUDDHA DHARMA

Pelita Sejati

Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
admin Sabtu, 07 September 2019 14:32 WIB
Pelita hanya bisa muncul atas keberadaan empat unsur yakni kaleng minyak, minyak, sumbu dan api. Keempat unsur tersebut merepresentasikan hal tertentu yakni kaleng minyak mewakili sila yang dipegang, minyak sebagai wujud pengetahuan/ wawasan, sumbu merupakan bentuk keinginan untuk memahami Dharma dan api adalah wujud dari pemahaman Dharma (kesadaran).

Pada kondisi tertentu seseorang memiliki keinginan untuk melaksanakan sila namun tidak memiliki pengetahuan/wawasan yang memadai sehingga sering sekali tidak dapat bertahan lama. Keinginannya ibarat kaleng minyak yang tidak ada minyaknya, tapi punya sumbu, jika diberi api hanya akan hidup sebentar dan malah membakar sumbunya.

Sebaliknya, kadang seseorang memiliki pengetahuan yang luas terhadap pentingnya menjalankan sila tapi tidak memiliki keinginan yang kuat untuk menjalankannya ibarat kaleng minyak yang berisi minyak penuh, tetapi tak memiliki sumbu, ketika diberi api tidak akan hidup, kalau pun dipaksa dengan memberi api yang besar malah akan dapat menimbulkan ledakan akibat tekanan hawa minyak yang terpanasi.

Terdapat pula kondisi tersedia kaleng minyak, ada minyak, ada sumbu tetapi sumbunya basah oleh air. Ketika di beri api akan sangat sulit untuk hidup, sumbu yang basah ibarat keinginan/kemauan yang tidak murni/tulus untuk memahami Dharma, bisa jadi hanya untuk menonjolkan diri sendiri ataupun didasari kesombongan diri.

Pada prakteknya, juga dijumpai seseorang yang memiliki pengetahuan yang memadai dan keinginan yang kuat namun tidak melaksanakan sila. Ini merupakan kondisi yang membahayakan ibarat memiliki minyak yang banyak, punya sumbu, tapi tidak memiliki kaleng minyak, ketika di beri api malah membakar pemiliknya bahkan bisa membakar yang memberi api.

Hal sangat penting adalah agar kaleng minyak, minyak dan sumbu yang kita miliki mempunyai kualitas yang baik, sehingga ketika diberi api akan menjadi pelita yang sempurna untuk menerangi perjalanan hidup kita dan bisa menerangi sekitar dengan baik.

Jika kualitas minyak kotor maka ketika diberi api akan hidup tetapi akan redup sinarnya bahkan bisa mati kalau sudah terlalu kotor minyaknya. Ibarat pengetahuan yang dimiliki seseorang masih dipengaruhi kekotoran batin yang besar. Kualitas kaleng minyak yang bocor juga akan mengakibatkan minyak habis dan api akan mati. Kaleng minyak yang bocor adalah ibarat sering melanggar sila yang dipegang.

Para Buddha merupakan teladan yang Maha Sempurna , mereka sudah memiliki "Pelita Abadi" yang Maha Sempurna untuk menerangi semua mahluk tanpa kecuali, karena mereka sudah mencapai tingkat "Penerangan Sempurna,".

Untuk dapat melakukan praktek sila dengan baik, diperlukan latihan. Dalam melatih diri, kadang-kadang ada kesalahan atau kekurangan. Namun apabila terus berlatih, dan berusaha untuk memperbaikinya, maka latihan itu pasti akan semakin baik. Guru agung kita mengatakan: "Orang yang tidak mau belajar, akan menjadi tua bagaikan sapi jantan, dagingnya bertambah, namun kebijaksanaannya tidak berkembang". Oleh karena itu, melatih diri adalah sungguh sangat penting, demi untuk mencapai kemajuan batin kita.

Lima Dhamma juga turut membantu dan memperkuat latihan kita. Dhamma ini sering disebut sebagai Panca Bala (lima kekuatan) yakni Saddha : Keyakinan, Viriya : Semangat, Sati : Perhatian murni, Samadhi: Konsentrasi dan Panna : Kebijaksanaan.

Lima macam Dhamma ini akan menimbulkan kekuatan lahir dan batin apabila kita latih dan kita tingkatkan dengan baik. Apabila kita melaksanakan Sila dengan penuh keyakinan, maka latihan itu akan diikuti oleh Dhamma yang berikutnya, yaitu semangat. Semangat adalah kunci sukses. Kalau kita mengharapkan latihan yang sukses, tentu harus punya semangat yang baik dan berikutnya didukung perhatian/ konsentrasi yang baik serta kebijaksanaan.
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments