Sabtu, 08 Agu 2020

Paradoks Kebangkitan Agama!

Oleh : Albertus Patty
Pdt Dr Albertus Patty Kamis, 02 Juli 2020 14:27 WIB
ist

Pdt Dr Albertus Patty

Diangkatnya kembali isu ancaman PKI, dan juga ancaman China, pada beberapa minggu terakhir ini seperti mengulang kembali perang dingin tahun 1960-an. Isu ini memunculkan paradoks! Ada ironi karena isu PKI yang katanya menebar ancaman komunisme justru terjadi pada saat kekayaan negeri ini sedang digerogoti oleh oknum kapitalis dan kaum oligarkis yang rakus dan tamak. Orang yang kritis pun bertanya: yang mana yang sesungguhnya sedang mengancam negeri ini? Meskipun demikian, kita semua pasti menolak komunisme dengan janji utopisnya, dan menolak kapitalisme yang kebablasan sehingga memperlebar kesenjangan ekonomi.

Apalagi isu PKI senantiasa dikaitkan dengan China yang dianggap sebagai sarang ideologi komunis. Kini, meski suhu politik Amerika Serikat Vs China memanas lagi, isunya sudah bergeser. Kali ini bukan konflik ideologi. Bukan juga konflik peradaban! Bukan Amerika Serikat, sebagai pengusung kapitalisme, melawan China, representasi ideologi komunis. Konflik dan ketegangan kedua negara besar ini terjadi justru karena keduanya sama-sama mempraktekkan sistem ekonomi kapitalis. Mereka bersaing dalam perebutan kendali atas keuangan dan pasar internasional. Kekuatan ekonomi Amerika Serikat yang mulai pudar, melawan raksasa ekonomi China yang sedang menggeliat. Melabel China sebagai sarang komunis adalah isu usang yang sangat ketinggalan jaman.

Ada dua gejala menarik pada beberapa minggu belakangan ini. Pertama, diangkatnya isu PKI dan ancaman komunisme yang dilakukan dengan menggunakan bendera dan jargon agama. Belakangan ini isu apa pun, dari yang penting sampai yang paling remeh, selalu direspon oleh gerakan-gerakan yang mengusung simbol agama. Gejala kedua adalah munculnya perdebatan ramai di jagat maya antara iman dan rasionalisme. Kedua gejala ini, plus gejala-gejala lainnya, menunjukkan adanya kebangkitan agama dan sekaligus kebangkitan sekularisme. Keduanya bangkit secara bersamaan di Indonesia. Keduanya menghiasi ke-Indonesia-an kita, sekaligus meletupkan 'tension' dalam segala bidang kehidupan.

Saya memfokuskan tulisan ini pada paradoks kebangkitan agama yang sedang terjadi di Indonesia. Kita semua pasti berharap kebangkitan agama seharusnya memberi efek positif bagi kehidupan personal dan sosial. Dalam kenyataannya ternyata kebangkitan agama juga melahirkan anak haram yang menciptakan efek negatif, bahkan berpotensi destruktif. Sehubungan dengan itulah maka kebangkitan agama ini telah memantik paling sedikit dua efek negatif. Keduanya berkaitan dengan moralitas. Efek negatif pertama adalah ini. Mengingat kaitan erat antara agama dan moralitas, orang pun bertanya: apakah kebangkitan agama ini memberi pengaruh signifikan terhadap kebangkitan moral manusia Indonesia?

Jawab saya tegas: belum signifikan! Kita tahu bahwa praktek kekerasan dan ujaran kebencian atas nama agama terhadap komunitas yang berbeda masih sering terjadi. Artinya kebangkitan agama malah tidak berkontribusi bagi penguatan kohesi bangsa. Contoh lain! Kebangkitan agama pun belum memberi pengaruh signifikan pada penurunan tingkat korupsi. Memang orang lebih rajin ke gereja, mengunjungi mesjid, vihara, sinagog atau apa pun, tetapi korupsi tetap lancar. Jelang Pilkada atau Pemilu, bantuan sosial, dan mungkin kini termasuk dana Covid-19, sering dikorup untuk membeli suara.

Menurut Transparency International, peringkat korupsi Indonesia masih sangat tinggi, berada di posisi 85 dari 180 negara. Hari ini indeks persepsi korupsi Indonesia ada di skor 40, alias mengalami kenaikan dua tingkat dari tahun 2018. Meski ada perbaikan, ironisnya KPK justru 'dipasung'. Kepercayaan masyarakat terhadap KPK pun langsung menurun tajam! Sekarang ini hampir tidak ada lagi lembaga pemerintah yang secara moral dipercaya masyarakat! Artinya, sungkan saya mengatakannya, masyarakat tidak percaya pada pimpinan politik dan para pengelola institusi negara.

Kebangkitan agama menandai gejala negatif lain yaitu penggumpalan identitas berdasarkan agama. Pada masa lalu, orang dikenal dengan identitas etniknya. Kini, identitas agama lebih mendominasi daripada identitas etnik. Bahkan, banyak orang lebih menekankan identitas agamanya daripada identitas nasionalnya. Identitas agama ini dimunculkan dalam berbahasa, busana, makanan, kosmetik dan dalam berbagai bidang lainnya. Ketika kita terjun ke tengah masyarakat suasana kami dan mereka sangat terasa. Di sekolah dan universitas pun, para pelajar kita lebih banyak dicekoki dengan ajaran agama yang menekankan bahwa "kami berbeda dengan mereka.'

Lalu, masih adakah identitas dan kebanggaan nasional? Masih ada! Tetapi, munculnya hanya sesekali, terutama saat olahragawan, kesebelasan sepakbola kita, atau seniman kita berhasil meraih prestasi tingkat dunia. Kita pun bergandengan tangan merasa menjadi satu. Menjadi Indonesia! Di luar event itu, tidak ada bekasnya sama sekali! Orang balik lagi ke bilik primordialismenya masing-masing.

Primordialisme agama menciptakan ukuran moralitas internalnya sendiri. Pengikutnya dituntut menjadi umat yang baik. Bukan menjadi manusia yang baik atau paling tidak, menjadi warga negara yang baik. Seharusnya umat yang baik adalah warga negara yang baik dan menjadi orang baik. Kenyataannya justru dipertentangkan. Umat yang baik hanya peduli pada komunitas agamanya saja. Hanya berjuang demi kepentingan agamanya saja. Eksklusif! Tidak ada tuntutan moral inklusif yaitu bersikap baik bagi semua dan bagi bangsa ini. Ukuran moralitas pun mengalami kekacauan! Seperti pesakitan yang mengalami penyempitan saluran jantung, Ukuran moralitas pun mengalami penyempitan: hanya untuk dan demi 'kalangan' sendiri.

Kita semua harus serius dengan paradoks kebangkitan agama yang justru menciptakan eksklusifme sempit, dan yang berpotensi menciptakan bunuh diri sosial bagi generasi bangsa kita di masa mendatang!(*)
Editor: [email protected]

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments