Selasa, 25 Feb 2020
Banner Menu
Detail Utama 1
  • Home
  • Opini
  • Nelayan Tiap Hari Menghidupi Kita dengan Ikan Segara, Tapi Tak Bisa Kaya?

OPINI

Nelayan Tiap Hari Menghidupi Kita dengan Ikan Segara, Tapi Tak Bisa Kaya?

Catatan: Drs Ads Franse Sihombing, Wartawan SIB
Redaksisib Sabtu, 08 Februari 2020 11:50 WIB
merdeka.com

Ilustrasi

Agaknya luput dari kita semua, kaum nelayan yang selama ini menghidupi, termasuk diri mereka dan keluarganya, tampak hidupnya bersahaja, bahkan banyak yang menderita. Padahal, mereka adalah 'produsen' dan pemasok pangan berupa ikan-ikan sehat dan segar dari bumi segara (lautan luas atau samudra) yang kita konsumsi setiap harinya.

Sumatera Utara sendiri, dengan penduduk hampir 16 juta jiwa yang tersebar di 33 daerah kabupaten-kota, mayoritas hidup dengan aktifitas pertanian, termasuk sektor perairan atau nelayan. Para nelayan Sumut itu mayoritas hidup berkiprah di kawasan Belawan, Sicanggang (Langkat), Batubara, Tanjung Balai, Sibolga dan Nias.

Nelayan Sumut dikenal sebagai kelompok nelayan yang hingga kini masih memiliki nelayan tua atau living legend fisherman sekaligus nelayan muda yang memiliki beragam kisah ketangguhan dan ketangkasan mereka dalam mengarungi laut serta menghadapi berbagai tantangan yang ada di lautan. Kelompok nelayan di Belawan Bahari terbagi tiga kelompok besar, yaitu tuamang, kerang, dan langgai.

Nelayan tuamang adalah kelompok nelayan yang melaut hanya untuk menangkap biota tangkapan sejenis ikan dan dilakukan di wilayah perairan laut dangkal atau laut pinggir. Sedangkan nelayan langgai adalah kelompok nelayan yang melaut untuk menangkap ikan dan udang, dan nelayan kerang bertujuan untuk menangkap kerang-kerang.

Kehidupan nelayan di Sumut hingga kini masih termarginalisasi karena tak mampu bersaing dengan kalangan pukat-pukat yang mampu menangkap ikan dalam volume besar, sehingga perlu kebijakan khusus untuk menjamin kehidupan nelayan seperti halnya di daerah lain. Tapi setidaknya, itulah fakta yang menunjukkan, bahwa yang kaya ternyata bukan nelayan, melainkan para tengkulak atau cukong-cukong yang punya modal dan alat (pukat).

Tak hanya di Sumut, kehidupan dan nasib nelayan ternyata 'idem ditto' dengan daerah lainnya di Indonesia, yang padahal kaya dan dominan dengan alam bahari penghasil ikan-ikan dengan volume ekspor maupun konsumsi sendiri (domnestik/lokal). Bahkan, sampai ada satu kisah semacam mitos yang menjadi fakta historis kenapa nelayan di negeri ini tak bisa kaya, apalagi hidup mewah.

Misalnya di Bali, suatu ketika hiduplah seorang nelayan bernama Bendega Kaman Jaya di Desa Kelaan di pantai Pulau Dewata. Dia seorang nelayan aktif dan tegar dengan bahu lebar dan dada bidang yang kuat, plus kumis rapi dan matanya yang tampak tajam merefleksikan jiwa yang gagah dan berani. Dalam kisahnya, orang ini masuk ke dalam sejarah nelayan pertama di Bali.

Kisah yang tertulis di majalah The Archipelago edisi No.1 November 1990 halaman 56-57 dengan judul 'Why Fishermen Can Never Become Rich' oleh Wayan Brayat di kolom Folklore (cerita rakyat atau dongeng), tentang adanya undangan dari Dewa Siwa kepada nelayan Kaman Jaya. Sang dewa konon ingin memberkati hidupnya. Undangan ini juga termasuk bagi semua orang yang ada di bumi, ketika itu. Kaman Jaya, sang nelayan sempat gusar dan berpikir: "Bila aku bertemu Siwa di surga, hadiah apa yang kubawa yang pantas sebagai persembahan dan rasa terimakasihku undangannya itu?"

Dia kemudian putuskan untuk membawa seikat ikan saja sebagai hadiah. Ketika kembali dari laut untuk menangkap ikan, dia langsung menemui Siwa sang dewa sambil menyeret ikan hasil tangkapan nya. Jumlah ikan yang ternyata didapan lebih banyak dan lebih berat, mengakibatkan dia sedikit terlambat ke tempat yang disebutkan sang dewa.

"Kaman Jaya, kenapa engkau terlambat? Semua orang sudah pulang," tegur sang Dewa.

"Oh, maaf yang mulia. Maafkan hambamu yang hina ini. Aku pergi menangkap ikan dulu supaya bisa membawa hadiah bagi yang mulia," ujar nelayan itu dengan nada sedih.

Tapi, dewa Siwa tersenyum maklum. "Kaman Jaya, karena engkau terlambat, berkat untukmu hanya kuberikan untuk satu hari," katanya sambil memaparkan wejangan-wejangan kepada nelayan itu

Kaman Jaya, si nelayan pulang dengan sedih sambil merenungkan ucapan Siwa yang terus mengusik dan terngiang-ngiang di telinganya. Hari berikutnya Kaman Jaya kembali mengayuh sampannya jauh ke laut, menangkap ikan. Tiba-tiba, sebuah bukit tampak muncul menjulang di tengah lautan segara, entah dari mana datangnya, tapi tampak indah.

Batu itulah yang sekarang disebut atau dikenal sebagai Bedeng. Seorang pendeta kesohor dulunya, bernama Begawan Beregu kemudian tinggal di puncak bukit batu tersebut. Hari-harinya sibuk memahat batu dan kepingan batu dipahat lagi lalu ditata untuk membangun kuil.

Kaman Jaya menatap kagum ke puncak bukit, dia tercengang melihat pendeta itu sibuk dengan pekerjaannya. Nelayan itu menepi hanya untuk menyaksikan keajaiban kuil yang telah terbentuk. Saat itu, bagawan Beregu kaget atas kedatangan nelayan Kaman. Merasa pekerjaaanya di tempat sepi itu telah diketahui orang lain, dengan kesal dia tiba-tiba merubuhkan kuil yang dibangunnya.
Runtuhan batu-batu kuil yang dibuang dan berjatuhan ke laut, saat itu pula barisan ikan-ikan seperti kaget dan serta merta berlompatan ke bak perahu. Kaman Jaya jadi gembira karena ikan-ikan masuk tanpa ditangkapnya saat itu, lalu membawa ikan-ikan itu ke pantai, dan pulang.

Saat itu juga dia mendengar suara lantang dan bernada marah: "Bendega Kaman Jaya, karena engkau membawa ikan-ikan yang bukan hasil tangkapanmu, terkutuklah engkau dan semua keturunanmu tidak akan pernah bisa menjadi kaya dari pekerjaan memancing (nelayan).

Begawan Beregu kemudian meninggalkan Batu Bedeng itu, dan menuju selatan. Akhirnya dia tiba di satu bukit tinggi yang muncul dari laut. Di sana dia membangun kuil yang baru. Bila dilihat dari tengah laut penampilan bukit tersebut menyerupai bentuk kepala manusia. Itulah yang hingga kini disebut kuil atau pura Uluwatu, yang berarti kepala dari batu.

Ketika Kaman tiba di pantai, perasaan yang tadinya bangga karena membawa ikan hasil 'rezeki nomplok' (bukan tangkapan), langsung berubah kecut dan terkejut hebat. Betapa tidak, yang ada dalam perahu itu ternyata bukan kumpulan ikan-ikan, melainkan kumpulan bongkah batu. Tak terpikir lagi olehnya, kenapa ikan-ikan segar dan masih hidup tadinya, semua berubah menjadi kepingan batu-batu mati, pecahan dari kuil di bukit tengah laut tadi.

Tergenapilah ramalan atau kutukan dewa Siwa bahwa Kaman Jaya hanya dapat bertahan hidup hari demi hari, sebagai nelayan yang mendapat hasil pekerjaan satu hari untuk kehidupan satu hari saja. Begawan Beregu itu mengatakan bahwa nelayan tidak akan pernah kaya.

Apakah begitu juga sinonim nasib nelayan di daerah kita ini? (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments