Kamis, 13 Agu 2020
  • Home
  • Opini
  • Menghitung Kerugian Akibat Bencana Kelud

Menghitung Kerugian Akibat Bencana Kelud

* Oleh Masduki Attamami
Rabu, 19 Februari 2014 18:23 WIB
Yogyakarta (SIB)- Menghitung kerugian akibat bencana Gunung Kelud yang meletus 13 Februari lalu, sampai kini belum diperoleh angka pasti.

Banyak sektor merugi akibat erupsi gunung api itu, seperti pertanian, perikanan, peternakan, pendidikan, pariwisata, dan penerbangan.

Provinsi Jawa Timur, misalnya, mengalami kerugian akibat bencana tersebut sebesar Rp1,2 triliun. Kemungkinan terus bertambah karena pendataan masih awal.

"Kemungkinannya memang bisa jauh lebih besar, apalagi petugas pendataan belum bisa masuk dan mendata ke wilayah terlarang," ujar Ketua Posko Induk Penanggulangan Bencana Gunung Kelud Akhmad Sukardi di Surabaya.

Ia menjelaskan bahwa kerugian terbesar di sektor komoditas pertanian, seperti padi, jagung, kedelai, cabai, tomat, kentang, nanas, dan bunga mawar, yang nilainya mencapai Rp1,1 triliun.

Kerugian sektor perkebunan, seperti kopi, kakao, cengkih, dan tebu di tiga daerah, yakni Kediri, Blitar dan Malang, nilainya mencapai Rp84 miliar.

"Selain itu, kerugian sektor peternakan yang meliputi sapi perah, sapi potong, dan peternakan lainnya mencapai Rp13 miliar," kata mantan Asisten IV Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur ini.

Kerugian tak kalah besar, menurut dia, adalah sektor pendidikan yang meliputi kerusakan gedung sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas/kejuruan. "Khusus sektor pendidikan, kerugiannya diperkirakan mencapai Rp2,7 miliar," kata Akhmad Sukardi.

Sementara itu, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, para peternak sapi perah mengalami kerugian Rp436 juta per hari akibat menurunnya produksi susu di daerah itu.

Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur Sulistiyanto di Malang mengatakan bahwa menurunnya produksi susu sapi disebabkan beberapa hal, di antaranya karena sapi mengalami stres dan berkurangnya nutrisi bagi sapi akibat tidak adanya pasokan pakan yang layak, terutama rumput. "Penurunan produksi susu sapi, di antaranya terjadi di wilayah Kecamatan Ngantang dan Kasembon," ujarnya.

Ia menyebutkan secara keseluruhan produksi susu di wilayah Kabupaten Malang menurun hingga 50 persen. Di Pujon, misalnya, dari rata-rata produksi pada hari normal sebanyak 90 ton per hari, turun menjadi 45 ton per hari.

Di Ngantang, dari produksi rata-rata sebanyak 80 ton per hari, turun menjadi 40 ton per hari. Di Kasembon dari produksi sekitar 10 ton per hari, turun menjadi 6 ton per hari, sedangkan di Batu masih tetap stabil, yakni rata-rata mencapai 25 ton per hari.

Meski dirinya sudah tahu secara perinci berapa penurunan produksi susu di Kecamatan Ngantang, Kasembon, dan Pujon, Sulistiyanto belum tahu pasti berapa jumlah sapi yang mati akibat terkena abu vulkanis Gunung Kelud karena belum ada laporan dari tim.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Sudjono mengatakan bahwa Kabupaten Malang yang terdampak erupsi Gunung Kelud dan mengganggu produksi susu sapi ada tiga wilayah, sedangkan sentra produksi susu sapi lainnya masih berjalan normal.

Jauh dari Kelud
Petani di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berada jauh dari Gunung Kelud juga mengalami kerugian akibat terdampak erupsi gunung itu. Misalnya, di Kabupaten Gunung Kidul, sektor perikanan budi daya mengalami kerugian hingga Rp500 juta akibat terkena abu Kelud.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunung Kidul Agus Priyanta mengatakan bahwa abu vulkanis dari letusan Gunung Kelud mengakibatkan ratusan ribu benih ikan milik beberapa kelompok petani mati.

"Benih lele dan berbagai benih ikan budi daya yang jumlahnya lebih dari 200.000 ekor tidak dapat diselamatkan. Hal ini mengakibatkan beberapa pembudidaya benih lele merugi," katanya.

Ia mengatakan bahwa seharusnya kolam pembenihan ikan yang benihnya berusia kurang dari dua minggu harus ditutup agar tidak terkontaminasi abu vulkanis.

Ikan yang berusia di atas dua minggu tidak akan terdampak. "Hujan abunya terjadi pada pagi hari sehingga petani ikan tidak sempat menutup kolam," katanya.

Agar kondisi normal, kata Agus, pembudidaya ikan harus mengganti air yang sudah terkontaminasi abu vulkanis. "Untuk wilayah yang airnya banyak, tidak masalah. Akan tetapi, di daerah kering harus menunggu hujan turun," katanya.

Pusat-pusat pembenihan ikan air tawar di Gunung Kidul tersebar di Kecamatan Ponjong, Playen, Patuk, Panggang, Ngawen, dan Karangmojo. "Untuk memastikan jumlah kerugian, saya sudah perintahkan penyuluh lapangan melakukan pendataan," katanya.

Ketua kelompok budi daya ikan Mina Agung Sugiyatno mengatakan bahwa untuk mengantisipasi ikan budi daya, seperti lele dan gurami, menambahkan air lebih banyak agar persentase unsur berbahaya yang terkandung dalam abu vulkanis berkurang.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kulon Progo, DIY, melakukan pendataan kerugian sektor pertanian, hortikultura dan perkebunan yang terkena abu vulkanis dari letusan Gunung Kelud.

"Saat ini kami masih melakukan pendataan total kerugian dan jenis tanaman yang rusak akibat terkena abu vulkanis itu," kata Sekretaris Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo Muhammad Aris Nugroho.

Berdasarkan laporan petugas di lapangan, kata dia, hujan abu Gunung Kelud tidak begitu berdampak pada sektor pertanian dan hortikultura. Sektor perkebunan sedikit terkena dampak, seperti durian, kakao, dan rambutan.

"Semoga kerugian akibat hujan abu Gunung Kelud tidak parah. Justru abu vulkanis itu nanti makin lama makin menyuburkan tanah," katanya.

Warga pesisir di Dusun Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo Burhanudin mengatakan bahwa saat ini para petani sedang mengumpulkan abu vulkanis.

Petani meyakini abu vulkanis dari letusan Gunung Kelud akan menyuburkan tanaman sayuran dan cabai milik petani di Bugel. Saat ini petani sedang menanam terung, kacang panjang, pare. Pada tanggal 1 Maret nanti petani setempat serentak menanam cabai tahap pertama.

Rugi Rp2 Miliar/Hari
Sektor pariwisata yang menjadi lokomotif ekonomi Kota Yogyakarta ikut terdampak abu vulkanis dari erupsi Gunung Kelud yang menyelimuti Yogyakarta dalam tiga hari terakhir, dengan kerugian mencapai Rp2 miliar per hari.

"Kunjungan wisatawan ke Yogyakarta mengalami penurunan, terlihat dari okupansi hotel yang turun hingga 60 persen serta banyak agenda pertemuan yang dibatalkan pada akhir pekan ini," kata Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta Deddy Pranawa Eryana di Yogyakarta.

Menurut Deddy, pemerintah daerah cukup tanggap dalam melakukan penanggulangan abu vulkanis yang menyelimuti wilayah tersebut secara merata.
Namun, lanjut dia, akses masuk ke Yogyakarta yang masih terbatas ikut memengaruhi kondisi pariwisata di wilayah tersebut.

Sejak tiga hari terakhir, Yogyakarta hanya bisa diakses melalui perjalanan darat karena Bandara Adisutjipto belum dapat dibuka. "Bandara menjadi faktor utama untuk mendukung sektor pariwisata di Yogyakarta.

Kami berharap, bandara bisa segera dioperasionalkan sehingga sektor pariwisata bisa secepatnya pulih," kata Deddy yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) ini.

Selain bandara yang bisa kembali beroperasi, dia juga berharap agar objek wisata di Yogyakarta bisa segera berbenah dengan menyingkirkan abu vulkanis sehingga wisatawan tetap nyaman saat berkunjung.

"Kami sangat berharap, kegiatan pariwisata di Yogyakarta segera pulih, begitu juga bandara bisa segera dioperasionalkan," katanya.

Upaya membersihkan sejumlah lokasi dari abu vulkanis terus dilakukan secara bergotong royong oleh berbagai elemen masyarakat, baik itu di jalan-jalan protokol maupun di pusat perekonomian, seperti pasar tradisional.

Pemerintah Kota Yogyakarta telah mengeluarkan dana Rp1 miliar dari dana tak terduga yang dimiliki untuk mendukung pemulihan Yogyakarta agar seluruh aktivitas bisa segera normal kembali.

Sementara itu, PT Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengalami kerugian ratusan juta rupiah akibat pembatalan penerbangan dari dan menuju bandara setempat pascaerupsi Gunung Kelud.

Kepala Seksi Pelayanan Pelanggan PT Angkasa Pura I Syamsudin Noor, Anwar Budi, di Banjarbaru mengatakan bahwa kerugian berasal dari pajak yang tidak bisa ditarik karena tidak adanya penumpang pesawat.

"Pembatalan pesawat dari dan menuju Syamsudin Noor menyebabkan pajak tidak bisa dipungut dari setiap calon penumpang karena tidak ada pesawat yang berangkat," ujarnya.

Pajak yang ditarik terhadap setiap calon penumpang adalah Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau lebih dikenal dengan sebutan airport tax sebelum penumpang diberangkatkan.

Jumlah penumpang pesawat dalam satu hari mencapai 6.500 orang hingga 7.000 orang, sementara pembatalan penerbangan mencapai 30 kali, terutama tujuan Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Malang.

"Jumlah penumpang tujuan empat kota itu dalam satu hari mencapai 4.000 orang dan airport tax sebesar Rp25.000 per orang dikalikan tiga hari pembatalan sehingga kerugian materi mencapai ratusan juta rupiah," ujarnya.

Menurut dia, selain pajak PJP2U, pajak lain yang tidak bisa ditarik adalah Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawat Udara (PJP4U) yang dikenakan kepada maskapai penerbangan.

"Besaran pajak PJP4U memang tidak besar, tetapi selama tiga hari pembatalan penerbangan membuat pendapatan berkurang dari pajak yang biasanya dibayar setiap maskapai," ujarnya.     

Seperti diketahui, erupsi Gunung Kelud pada hari Kamis (13/2) menyebabkan penerbangan dari dan menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dibatalkan, terutama tujuan Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Pembatalan karena empat bandara ditutup akibat abu vulkanis yang dikhawatirkan dapat mengganggu keselamatan penerbangan sehingga sejak Jumat hingga Minggu tidak ada penerbangan. (Ant/d)

T#gs bencana
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments