Jumat, 07 Agu 2020
  • Home
  • Opini
  • Mengenal Elliott Wave Dalam Memprediksi Pergerakan Harga Saham

Mengenal Elliott Wave Dalam Memprediksi Pergerakan Harga Saham

Novalita dan Isfenti Sadalia Senin, 29 Juni 2020 21:47 WIB
sumber :IlCorsivoQuotidiano.net

 Elliott Wave 

Oleh :Novalita dan Isfenti Sadalia,Universitas Sumatera Utara

Merebaknya Covid-19 membawa perubahan besar dalam kehidupan. Pemerintah di seluruh dunia berusaha membendung gelombang ketidakpastian dengan langkah-langkah yang semakin kuat. Ketidakpastian menjadi semakin ekstrim karena tidak diketahui seberapa mematikan penyakit ini, apakah akan ada vaksin tersedia, dampak kebijakan apa yang akan terjadi, dan sebagainya. Baker et al (2020) menerangkan bahwa perkembangan Covid-19 memberikan efek yang sangat kuat di pasar saham sejak akhir Februari 2020. Pengaruh Covid-19 dibandingkan pandemi lain memberikan dampak ketakutan yang lebih karena pengaruh informasi tentang pandemi yang lebih luas dan menyebar jauh lebih cepat dibanding seabad sebelumnya.Informasi ini berdampak pada pasar saham selama pandemi Covid-19 lebih mungkin memicu lonjakan pasar perdagangan harian dan volatilitas pasar saham yang lebih tinggi dari pandemi terdahulu. Secara keseluruhan,tergambar dengan jelas dari perspektif peserta pasar saham, krisis kesehatan Covid-19 berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan yang lebih luas (Ramelli dan Wagner, 2020). Di titik ini, tidak diketahui apakah kombinasi dari intervensi kebijakan yang sedang berlangsung dan perubahan perilaku individu akan mencapai tujuan yang diinginkan untuk menstabilkan situasi, dan akhirnya menyembuhkan luka ekonomi yang ditimbulkan oleh krisis. Bahkan investor juga diwanti-wanti untuk terus mengawasi potensi kebangkitan Covid-19 karena munculnya kekhawatiran akan terjadinya second wave. Peristiwa semacam ini merupakan kesempatan untuk mempelajari sesuatu tentang psikologi investor dan perilaku manusia.

Para investor selalu berspekulasi baik mengenai persepsi sendiri maupun orang lain mengenai arah pasar. Hal inilah yang menerangkan mengapa ada perilaku keuangan di dalam mekanisme investasi. Perilaku keuangan di dalam investasi individu dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan kognitif, gaya investasi, lokasi, dan gender (Barber dan Odean, (2013). Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Shah dan Singh (2020), menyebutkan faktor eksternal seperti liputan/informasi dari media juga mempengaruhi investor. Pada masa pandemi Covid-19, perilaku mencari dan menggunakan informasi akuntansi atau data pasar digunakan untuk menseleksi sesuai dengan kepribadian, emosi, tingkat toleran risiko, lingkungan sosial, maupun religiusitas setiap investor individu. Informasi yang dibutuhkan investor akan berbeda-beda sesuai dengan perhatian dan keinginannya.

Di pasar keuangan, semua individu bertemu untuk memainkan permainan berisiko tinggi: permainan penentuan harga. Melalui perpaduan antara pendorong nilai fundamental dan dinamika pasar yang sederhana, maka harga muncul. Dalam situasi yang kompleks seperti pandemi Covid-19, kepastian pasar sangat berharga dan memberikan informasi yang berguna.Teori portofolio Markowitz, 'don't put all your eggs in one basket' patutnya menjadi perhatian para investor untuk mulai berinvestasi. Teori ini telah mengajarkan konsep diversifikasi portofolio secara kuantitatif. Seorang investor dalam melakukan investasi tidak hanya memilih satu saham saja, tetapi melakukan kombinasi. Dengan melakukan kombinasi saham, investor bisa meraih return yang optimal dan sekaligus bisa memperkecil risiko melalui diversifikasi. Markowitz (1952) dan Tobin (1958) menunjukkan bahwa setiap tren harga memungkinkan untuk mengidentifikasi komposisi portofolio optimal dari sekuritas berisiko, memberikan perkiraan return di masa depan dan matriks kovarians return saham yang sesuai. Jika berinvestasi di pasar keuangan dan ingin mengecilkan nilai risiko, seorang investor dapat menguasai analisis fundamental sekaligus analisis teknikal. Salah satu analisis teknikal yang dapat dipergunakan oleh investor adalah Elliott Wave. Analisis Elliott Wave bukan sekadar analisis teknikal semata. Karena Elliott Wave adalah metode analisis populer yang menerapkan pendekatan teknis dengan interpretasi analisis fundamental. Keuntungan menguasai Elliott Wave adalah mengetahui ke mana harga akan bergerak, sekalipun harga tiba-tiba tidak sesuai dengan skenario awal.

Penelitian D'Angelo dan Grimaldi (2015) menunjukkan bahwa model Elliott Wave telah menjadi instrumen berharga dalam memprediksi pasar karena ekspektasi untuk pola analisis sepenuhnya dikonfirmasi oleh pola yang sebenarnya. Elliott Wave juga berkonsentrasi pada aksi harga secara ketat, dan menyetujui gagasan bahwa harga adalah awal dan akhir dari semua analisis, tetapi mengakui juga ada hubungan penting antara likuiditas, kredit, dan ketahanan ekonomi yang mendasari harga yang ada pola di pasar. Teori Elliott Wave pertama kali diusulkan oleh Ralph Nelson Elliott, pada tahun 1930-an, yang sampai sekarangmasih relevan dan digunakan oleh banyak investor dan institusi. Beberapa tokoh dagang terkenal seperti Robert Prechter dan Paul Tudor Jones mengklaim telah mencapai kesuksesan dengan menggunakannya. Teori inimenjelaskan bagaimana sekelompok orang berperilaku, dan mendasarkannya pada psikologi massa. Teori ini dianggap sebagai pseudo-sains dan sebagai metode yang efektif untuk menangani ketidakpastian pasar. Elliott Wave dapat menentukan pola ini secara spesifik dan terukur. Selain itu, Elliott Wave menggunakan pendekatan dan konsep dasar analisis teknikal klasik, menggabungkannya dengan sedikit interpretasi dari sudut pandang analisis fundamental.

Poin utama dari teori Elliott Wave sebagai berikut: Sebuah bagan harga saham membuat urutan gelombang motif yang mewakili tren dominan (atau utama) diikuti oleh fase korektif, di mana pergerakan harga keseluruhan melawan tren. Tren dominan, yang bisa ke atas atau ke bawah, tergantung pada situasi pasar, selalu terdiri dari 5 gelombang motif (1-2-3-4-5) dan 3 gelombang korektif (A-B-C). Jika kita memperbesar tampilan satu Gelombang Motif, maka akan terlihat struktur lima gelombang yang lebih kecil. Elliot menyebutnya Pola Lima Gelombang, dan dia menciptakan tiga aturan untuk menggambarkan informasi ini:

1. Gelombang 2 tidak pernah berakhir di bawah titik awal gelombang 1.
2. Gelombang ketiga tidak pernah merupakan gelombang terpendek dari tiga gelombang impulsif, yaitu gelombang 1,3 dan 5. Gelombang ketigajustru lebih sering menjadi yang terpanjang. Juga, gelombang 3 selalu bergerak melewati akhir gelombang 1.
3. Gelombang 4 tidak tumpang tindih dengan wilayah harga gelombang 1, kecuali dalam kasus langka formasi diagonal triangle.

sumber : forexsignal88.com

Jika dibandingkan dengan gelombang motif, gelombang korektif cenderung lebih kecil karena bergerak melawan tren utama. Dalam beberapa kasus, pergerakan melawan tren semacam itu juga dapat membuat gelombang korektif jauh lebih sulit untuk diikenali, karena gelombang ini dapat sangat bervariasi dalam panjang dan kompleksitasnya.

Elliott Wave juga tidak terlepas dari Fibonacci. Elliott mengembangkan model pasarnya sebelum dia menyadari bahwa urutan Fibonacci tercermin di dalamnya. Sifat matematika dari pola gelombang akhirnya membuat Elliott menyimpulkan hitungan gelombang dari pola impulsif dan korektif adalah angka Fibonacci. Pemecahan pola gelombang ke masing-masing sub-gelombang menghasilkan angka Fibonacci tanpa batas.Pola angka Fibonacci berulang kali dalam struktur gelombang Elliott, termasuk gelombang motif (1, 3, 5), satu siklus penuh (8 gelombang), dan motif lengkap (89 gelombang) dan pola korektif (55 gelombang. Chatterjee et al. (2002) memberikan temuan atas survei yang menggambarkan penggunaan seri Fibonacci dan prinsip dasarnya untuk memprediksi pergerakan harga sekuritas di masa depan. Menggunakan Elliott Wave sebagai alat untuk memprediksi pergerakan harga sekuritas, terindikasikan bagaimana sistem yang dibangun dengan kehati-hatian dapat menghasilkan keuntungan, bahkan dalam kondisi yang cukup fluktuatif. Temuan berikutnya,sebagian besar kerugian tetap cukup rendah. Keuntungan yang dihasilkan selama tren sendiri cukup besar dan lebih banyak mengimbangi kerugiannya. Hasil empiris yang diperoleh oleh Bhattacharya dan Kumar (2006) tampaknya menguatkan klaim tersebut, adanya analis teknis dan beberapa utilitas prediktif yang terkait dengan rasio Fibonacci yang digunakan sebagai filter otomatis dalam sistem perdagangan.

Sebuah penelitian pada tahun 2012 (Maggazino et al) menganalisis dinamika pergerakanindeks S&P 500, dari 2008 hingga 2011, dengan menerapkan teori Elliott Wave. Indeks ini dipilih karena fakta bahwa indeks tersebut mewakili indikator yang sangat relevan dengan kesehatan saham Amerika Serikat dan pada dasarnya mencerminkan dinamika pasar dunia. Pertimbangan lainnya, indeks S&P 500juga dipilih karena ukuran pasar, likuiditas dan pengelompokan industri. Temuan utama menunjukkan bahwa, dalam kasus pasar keuangan yang bergejolak, analisis teori Elliott cukup mencerminkan realitas pasar keuangan. Jika seseorang mengeksplorasi portofolio berdasarkanmodel mean-variance Markowitz (1952) di fase pasar yang bergejolak,dibandingkan dengan strategi yang ditempuh dengan analisis teknis, dapat diperhatikan bahwa portofolio yang dibangun berdasarkan model pertama akan sangat merugi dibandingkan untuk portofolio yang dibangun dengan analisis teknis. Alasan ini terletak pada kenyataan bahwa dengan model kedua akan lebih mudah untuk menyusun strategi dalam jangka pendek, melikuidasi kompleksitas yang ditemukan dalam opsi model Markowitz.

Jim O'Neill, seorang pengamat keuangan (April 2020)dalam tulisannya tentang indeks S&P 500,menunjukkan adanya bukti bahwa ekonomi AS menuju pergolakan dengan skala yang tak terlihat sejak Depresi Hebat Amerika. Pada bulan Januari, pandemi Covid-19 menghasilkan resesi berbentuk V (penurunan tajam, diikuti oleh rebound yang sama tajamnya) untuk sebagian besar ekonomi dunia, karena itulah yang terjadi dalam kasus SARS dan epidemi lain sejak awal abad 21. Jim O'Neill menyarankan agar investor tidak mentah-mentah mengikuti pengamatan harga saham harian, tetapi memeriksa pola grafik, moving average (rata-rata bergerak), dan berbagai analisis teknikal seperti mengikuti teori Elliott Wave. Tidak mengherankan jika spekulasi terbagi, karena banyak analis pasar yang cemas bahwa S&P 500 akan turun ke level yang lebih rendah, yang konsisten dengan ramalan keruntuhan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan. Namun, analis lain percaya akan melihat reli melampaui level yang jauh lebih baik pada awal tahun depan. Proyeksi bullish tidak hanya mengantisipasi resesi berbentuk V tetapi kenaikan yang bahkan lebih kuat daripada penurunan. Tentunya, pergerakan pasar yang kuat seperti itu dapat terstimulasi dengan adanya vaksin Covid-19 yang tersedia secara luas.
Dengan mempelajari Elliott Wave tidaklah merugikan usaha dan waktu bagi kita yang berinvestasi, karena selalu ada rencana cadangan yang dapat meloloskan dari posisi stuck sehingga kembali di track yang benar dan mencapai tujuan akhir. Analisis dengan Elliott Wave mampu mengambil peluang untuk mendapatkan keuntungan bahkan dalam fase yang penuh ketidakpastian. Bagi yang berminat untuk mempelajari lebih dalam mengenai Elliott Wave ini, kita dapat menggalinya lebih jauh melalui berbagai situs, pelatihan seminar daring (webinar) dan media sosial lainnya.(*)


Sumber Referensi :

Baker, Scott R et al. The Unprecedented Stock Market Reaction to COVID-19. Maret 2020. https://www.nber.org/papers/w26945
Wagner, Alexander F. April 2020. What the stock market tells us about the post-COVID-19 world. https://www.nature.com/articles/s41562-020-0869-y.
Ramelli, Stefano ; Alexander F. Wagner. Feverish Stock Price Reactions to COVID-19.April 29, 2020. Swiss Finance Institute Research Paper No. 20-12 https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3550274
D'Angelo, Eugenio; Giulio Grimaldi. The Effectiveness of the Elliott Waves Theory to Forecast Financial Markets: Evidence from the Currency Market. 2017. https://www.researchgate.net/publication/316702779_The_Effectiveness_of_the_Elliott_Waves_Theory_to_Forecast_Financial_Markets_Evidence_from_the_Currency_Market
Vantuch, Tomas; Ivan Zelinka; and Pandian Vasant. Market Prices Trend Forecasting Supported By Elliott Wave's Theory. 2017. https://www.researchgate.net/publication/314521065_Market_Prices_Trend_Forecasting_Supported_By_Elliott_Wave's_Theory
Barbera, Brad M. and Terrance Odean. The Behavior of Individual Investors.2013. https://faculty.haas.berkeley.edu/odean/Papers%20current%20versions/behavior%20of%20individual%20investors.pdf
Magazzino, Cosimo; Marco Mele; Giancarlo Prisco. The Elliott Wave Theory: Is It True during the Financial Crisis? . 2012. https://www.researchgate.net/profile/Cosimo_Magazzino/publication/235981804_The_Elliott's_Wave_Theory_Is_It_True_During_the_Financial_Crisis/links/00b49515be4994f020000000/The-Elliotts-Wave-Theory-Is-It-True-During-the-Financial-Crisis.pdf
Mona Shah, Esq. and Rebecca Singh, Psychology Of A Pandemic: Eb-5 Lessons To Be Learned From Covid-19. 2020. https://iiusa.org/blog/wp-content/uploads/2020/05/Lessons-from-COVID19.pdf
O'Neill, Jim. Reading the COVID-19 Market. April 2020. project-syndicate.org
Abrar , Thea Fathanah. Mengenal Great Depression, Krisis Malaise yang Ditakutkan IMF. April 2020. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200416130755-4-152381/mengenal-great-depression-krisis-malaise-yang-ditakutkan-imf
Editor: bantors@hariansib.com

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments